Friday, 23 December 2016

Ditemukan, 218 Zona Sesar Aktif Baru

Kegagalan Struktur Faktor Dominan di Pidie Jaya
JAKARTA, KOMPAS ━ Gempa bumi di Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12) kian menegaskan banyaknya sumber gempa di daratan Indonesia yang belum teridentifikasi. Sesar Pidie JAya termasuk satu dari 218 patahan darat aktif baru yang akan ditambahkan dalam peta kegempaan nasional.
Sumber, mekanisme, dan konsekuensi dari gempa yang mengguncang Pidie Jaya itu didiskusikan di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), di Jakarta, Kamis (22/12). “Seperti gempa bumi Yogyakarta tahun 2006, gempa di Pidie Jaya kali ini terjadi di tempat yang tidak diprediksi sebelumnya. Ini terjadi di tempat yang tidak diprediksi sebelumnya. Ini tantangan bersama mengantisipasinya,” kata Kepala BMKG Adi Eka Sakya, kemarin.
Ahli gempa pada Lembaga Ilm Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman mengatakan, sesar besar Sumatera termasuk paling aktif di dunia dan terbagi dalam beberapa segmen. Segmen paling aktif di sekitar Selat Sunda yang kecepatan geraknya 40 milimeter (4 sentimeter) per tahun. “Jarang ada sesar yang sebesar itu pergerakannya. Sesar di San Andreas (Amerika) saja hanya 2,5 sentimeter per tahun. Di Indonesia, hanya sesar Sorong yang bergerak lebih aktif, pergeseran 5 sentimeter per tahun,” katanya.
Di luar segmen Selat Sunda, rata-rata kecepatan sesar Sumatera 14 mm-20 mm per tahun. Memasuki wilayah Aceh, segmen sesar Sumatera ini pecah menjadi dua jalur utama: satu jalur melalui Banda Aceh hingga Sabang dan jalur lain melalui Seulimeum, Aceh Besar.
“Gempa Pidie Jaya ini terjadi di luar jalur sesar utama. Dipicu sesar lokal yang sebelumnya belum teridentifikasi dalam peta gempa. Ada catatan di zona Pidie Jaya ini pernah dilanda gempa pada 1967,” ujarnya.
Berdasarkan pola sebaran gempa susulan, kata Danny, sesar Pidie Jaya ini memiliki posisi sejajar dengan sesar utama di Sumatera. Selain sesar Pidie Jaya, Aceh juga memiliki sejumlah sesar lokal lain yang lebih dulu teridentifikasi, yaitu sesar Samalanga, sesar Bireuen, dan sesar Lhokseumawe.
Menurut Kepala Bidang Informasi Peringatan Dini Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, gempa Pidie Jaya diduga terkait aktivitas sesar belakang di perairan sekitar Pidie Jaya.
Sesar baru
Rahma Hanifa, peneliti gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pusat Studi Gempa Bumi Nasional, mengatakan, sesar Pidie Jaya dipastikan akan ditambahkan dalam Peta Bahaya Gempa Bumi Nasional versi Standar Nasional Indonesia (SNI) terbaru yang saat ini dalam tahap finalisasi. Selain sesar Pidie Jaya, juga akan ditambahkan 218 zona patahan darat aktif baru.
Dalam Peta Bahaya Gempa Bumi Nasional versi SNI 2010, kata Rahma, sesar aktif darat ada 53 segmen. Ditambah itu, jumlah sesar darat di Indonesia menjadi 271 sesar. Rinciannya, 57 sesar di Sumatera, 36 di Jawa, 3 di Kalimantan, 48 di Sulawesi, 80 di Papua dan Maluku, serta 47 di Nusa Tenggara dan Banda.
Selain zona sesar ini, juga akan ditambahkan empat segmen zona subduksi di laut, dari semula 12 menjadi 16 segmen. Salah satu tambahan informasi baru yang penting adalah adanya kalkulasi tiga segmen di Samudra Hindia di selatan Jawa yang jika runtuh bersamaan bisa memicu gempa berkekuatan M 9,2 atau nyaris setara gempa Aceh tahun 2004.
Andi mengingatkan, banyaknya sesar darat yang baru teridentifikasi itu menuntut upaya mengurangi risiko korban dan kerugian menjadi vital. “Harusnya memang at all cost untuk itu. Satu nyawa saja sudah terlalu banyak,” ujarnya.
Berdasarkan survei peneliti pada Balitbang BMKG, Nazli, dan Sri Hidayati dari Badan Geologi, kerusakan bangunan gempa di Pidie Jaya disimpulkan terutama karena mutu konstruksi yang buruk. “Banyak ditemukan bangunan rusak berat, sedangkan di sampingnya utuh. Pengukuran mikro tremor hasilnya hal sama,” kata Nazli.
Selain buruknya mutu bangunan, ditemukan juga likuifaksi. Likuifaksi adalah fenomena rusaknya struktur tanah dan biasanya menjadi lembek dan berlumpur akibat guncangan gempa karena kondisi tanah berpasir. Ditemukan pula jalur-jalur sesar yang muncul di permukaan.
Menurut Danny, di sepanjang zona sesar yang teridentifikasi sebaiknya tak didirikan bangunan lagi. “Minimal bergeser 20 meter dari jalurnya. Jika tidak, kalau gempa, hancur lagi,” katanya. (AIK)
Kompas, Sabtu, 24 Desember 2016