Sunday, 18 December 2016

Tangan-tangan Komunitas Nyah Nyoh

Oleh THOMAS PUDJO WIDIJANTO
Berbuat baik itu bukan hal yang gampang. Namun, menjadi sangat gampang ketika melihat Komunitas Jogja Nyah Nyoh dalam kiprah sosialnya.
komunitas-jogja-nyah-nyoh_1_20160401_175854.jpg
Komunitas Jogja Nyah Nyoh melakukan kegiatan sosial menambal jalan berlubang
Indah sekali gerakan komunitas ini. Secara rutin komunitas yang didukung anak-anak muda ini menambal jalan yang berlubang. Sepele, hanya menambal jalan berlubang. Namun, manfaatnya begitu besar dalam menjaga keselamatan manusia.
“Kami sering menyaksikan kejadian orang meninggal, jatuh naik motor, karena terperosok di jalan berlubang,” kata Arditya Eka Sunu (31), Ketua Komunitas Jogya Nyah Nyoh, beberapa waktu lalu.
Setiap Rabu malam, kelompok ini sudah memiliki sasaran lubang jalan mana yang harus ditambal. “Kami sudah punya catatan dan setiap Rabu kami kerjakan,” ujar Arditya.
Gerakan yang semula hanya berlangsung di lingkungan mereka tinggal atau berkumpul itu kini merambah ke semua jalan berlubang yang terjangkau. Mereka beramai-ramai dengan semangat ketulusan menolong sesama pengguna jalan.
Begitu mereka melihat jalan berlubang lantas diberi tanda terang atau warna fosfor. Tanda inilah penunjuk sementara bagi pengendara sebelum kelompok ini menambal jalan itu dengan semen.
“Sudah tak terhitung berapa lubang yang sudah ditambal. Sengaja kami tidak menghitung karena kegiatan ini tidak ingin menumpuk angka-angka yang bisa berhenti pada target. Namun, kerja terus-menerus, karya nyata yang lebih mengembangkan toleransi,” kata Arditya.
arditya-eka-sunu-30-korlap-komunitas-jog-XPL7b.png
Arditya Eka Sunu, Ketua Komunitas Jogja Nyah Nyoh
Kalangan anak muda
Penambalan jalan itu dimulai sejak pertengahan tahun 2015, dikomando dari markas mereka di Warung Bubur Kacang Ijo di Jalan Seturan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Anggotanya sekitar 30 orang, berusia 20-56 tahun, sebagian besar kalangan anak muda. Ditetapkan sebagai komunitas yang peduli terhadap kenyamanan di jalan, Februari 2016, kelompok ini lantas diberi nama Komunitas Jogja Nyah Nyoh.
Nama ini berasal dari kata nyah nyoh, dalam bahasa Jawa, yang berarti memberi kepada orang lain tanpa perhitungan apakah kita berlebih atau tidak. Nyah nyoh adalah idiom Jawa yang filosofinya bukan sekadar memberi, melainkan memberi tanpa berhitung imbal balik. Meskipun si pemberi hanya memiliki pas-pasan, sikap memberi tetap terus dilakukan.
“Karena itu, untuk mendukung sikap nyah nyoh itu, komunitas ini memberi iuran sukarela untuk operasional tambal jalan,” kata Arditya lagi.
Barangkali memang sulit dilogikakan. Paling tidak dalam alur pikiran sekarang, yang lebih cenderung memandang logika ekonomi. Oleh karena itu, apa yang dilakukan Komunitas Jogja Nyah Nyoh yang melakukan gerakan penambalan jalan dengan gotong royong dengan biaya dari uang mereka menjadi peristiwa nan langka.
Komunitas Jogja Nyah Nyoh barangkali hanya ada di Yogyakarta. Memberi seperti tanpa alasan, kecuali satu kata: ikhlas. “Nyah nyoh adalah konsep dan sekaligus harapan. Artinya, senantiasa menyeimbangkan antara konsep dan harapan,” ujar Tumenggung Arditya, sebutan bagi Ketua Komunitas Jogja Nyah Nyoh.
Awalnya, kelompok ini hanya sekadar prihatin terhadap kondisi jalan rusak yang sering menimbulkan kecelakaan. Melapor kepada otoritas yang berkompeten juga tak selalu mendapat respons.
“Oleh karena itu, kami nekat untuk merepotkan diri dengan gerakan menambal jalan dengan semen. Apalagi, kenyataan dinas pekerjaan umum tidak secara periodik seminggu sekali melakukan penelitian jalan,” katanya.
Tak hanya dinas pekerjaan umum, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X juga menyambut dengan penuh antusias kegiatan Komunitas Jogja Nyah Nyoh. Salah satu bentuknya, meminjamkan mobil untuk penunjang operasional kegiatan.
Sebagai anak muda yang idealis, Arditya sama sekali tidak setujum bahkan akan menghentikan kegiatannya jika kiprah Komunitas Jogja Nyah Nyoh ini hanya dianggap gotong royong yang dimitoskan sebagai warisan leluhur. “Di dalam nilai gotong royong ada yang lebih dalam, yaitu semangat dan ikhlas. Kalau itu tidak ada, gotong royong hanya mitos,” katanya.
Oleh karena itu, Arditya menyambut baik jika apa yang dilakukan Komunitas Jogja Nyah Nyoh ini ditiru komunitas di kota-kota lain. Dari komunitas kecil, akan mengembang menjadi kekuatan besar dalam mengatasi lubang jalan meskipun bersifat darurat. Paling tidak, (kendala) arus mudik saat Lebaran sedikit banyak akan teratasi oleh kegiatan tambal lubang jalan ini. “Persoalan jalan di Indonesia ini harusnya sudah selesai,” ujarnya.
Widiasto Wasanaputra, aktivis dan Ketua Sekretariat Bersama Keistimewaan DIY, mengatakan, foto-foto kegiatan Komunitas Jogja Nyah Nyoh ini menjadi bagian dari Pameran Sawiji Greget Sengguh Ora Mingkuh (kekuatan bersama) yang terselenggara beberapa bulan lalu. Pameran yang diikuti 17 komunitas itu memajang karya-karya inovasi, kreasi, dan terobosan yang memiliki tujuan memayu hayuning bawana (kesejahteraan masyarakat bersama).
Selain foto kegiatan Komunitas Jogja Nyah Nyoh juga dipajang kiprah masyarakat Yogyakarta, seperti pembuatan sepeda listrik, teknologi air hujan diubah menjadi air minum, dan pembuatan warna-warna batik dari bahan alam.
“Prinsipnya komunitas kreatif seperti Nyah Nyoh ini harus didukung. Harapannya agar muncul kreativitas-kreativitas baru yang memiliki tujuan kesejahteraan bersama dan solidaritas bersama,” kata Widiasto.
Selain itu, menurut dia, upaya keswadayaan masyarakat membuat berbagai gerakan kreatif sarat nilai-nilai sosial, budaya, dan ekonomi sejatinya merupakan penangkal alami berbagai hal destruktif di masyarakat.
Kasus kenakalan remaja yang belakangan ini muncul yang menjurus pada kriminalitas atau penyalahgunaan narkoba, misalnya, otomatis tidak akan menemukan konteksnya ketika masyarakat memiliki visi hidup yang memberikan kemanfaatan bagi pihak lain. “Oleh sebab itu, menjadi penting bagi negara untuk mendorong dan memfasilitasi penguatan gerakan-gerakan masyarakat,” ujar Widiasto.
Masih tetap relevan dan makin penting pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan lingkungan harus menjadi kesatuan yang terintegrasi. Prinsip Tripilar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang intinya keteladanan segala lini harus terus dikobarkan.
Tangan-tangan Komunitas Jogja Nyah Nyoh itu telah menggapai makna keteladanan.
Kompas, Sabtu, 17 Desember 2016