Wednesday, 28 December 2016

5.578 Gempa di Indonesia Sepanjang 2016

JAKARTA, KOMPAS ━ Sepanjang tahun 2016 terjadi 5.578 gempa bumi di Indonesia dan 12 di antaranya menimbulkan kerusakan. Tiga kali gempa merusak itu terjadi di sesar aktif yang belum terpetakan sebelumnya. Hal itu memberi pelajaran penting tentang banyak zona rentan gempa belum diketahui.
Evaluasi kejadian gempa bumi setahun ini disampaikan Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, Jakarta, Rabu (28/12). “Selama 2016 rata-rata setiap bulan terjadi 460 kali gempa bumi,” ujarnya.
Gempa berkekuatan signifikan atau di atas M 5 terjadi 181 kali, 10 di antaranya berkekuatan M 6-6,9. Satu kali gempa tergolong besar, yakni berkekuatan M 7,8 terjadi di Samudra Hindia pada 2 Maret 2016.
“Frekuensi gempa terjadi secara fluktuatif, tak ada polanya. Misalnya, gempa merusak pada 2013 sebanyak 11 kali, tahun 2014 sebanyak 6 kali, tahun 2015 ada 6 kali, dan 2016 sebanyak 12 kali,” ucapnya.
Gempa merusak
Aktivitas gempa merusak itu adalah gempa berkekuatan M 5,5 di Ambalau, Buru Selatan, 17 Januari. Sebanyak 329 rumah rusak, 1 orang meninggal, dan 15 orang mengalami luka-luka.
Gempa merusak berikutnya berkekuatan M 6,6 di Sumba Barat pada 12 Februari. Kerusakan meliputi 10 rumah, 7 gedung sekolah, dan 2 gedung fasilitas umum rumah sakit.
Gempa M 5,1 di Halmahera Barat pada 24 Februari menimbulkan kerusakan 113 rumah, gempa M 4,7 di Lombok Barat pada 31 Maret merusak 41 rumah, dan gempa di zona subduksi berkekuatan M 5,8 di Bengkulu pada 10 April merusak 64 rumah.
Gempa pesisir selatan berkekuatan M 6,5 pada 2 Juni menyebabkan 114 rumah rusak berat, 612 rusak sedang, dan 1.905 rusak ringan. Satu orang meninggal dan 18 orang luka-luka.
Sementara gempa M 6,4 di Maluku Utara pada 8 Juni menyebabkan 18 rumah dan 1 gereja rusak. Berikutnya, gempa M 5,1 di Kendawangan, Kalimantan Barat, 24 Juni, menyebabkan beberapa rumah retak.
Pada 1 Agustus, gempa M 5,6 terjadi di Dompu dan merusak 133 rumah. Gempa M 4,2 di Pengalengan, Jawa Barat, pada 6 November merusak 4 rumah dan 2 masjid serta melukai 1 orang. Kemudian, pada 16 November, gempa M 6,2 terjadi di zona subduksi selatan Malang, Jawa Timur, dan menyebabkan 39 rumah rusak.
Terakhir, gempa M 6,5 di Pidie Jaya, Aceh, 7 Desember, merusak 11.730 rumah rusak, 102 orang meninggal, 139 orang luka berat, 718 orang luka ringan, dan 43.529 orang mengungsi.
Sumber gempa
Dari 12 gempa merusak itu, 6 gempa bersumber dari aktivitas sesar aktif dan 6 gempa bersumber di subduksi lempeng. “Tiga gempa merusak akibat sesar aktif yang belum terpetakan adalah gempa Kendawangan, gempa Pengalengan, dan gempa Pidie Jaya,” katanya.
Gempa yang menyebabkan kerusakan sebenarnya tergolong kecil hingga menengah. “Kerusakan terutama disebabkan kualitas bangunannya rendah dan tak memenuhi standar tahan gempa bumi,” kata Daryono.
Ahli gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman, dalam diskusi di BMKG memaparkan, gempa-gempa yang terjadi tahun ini cenderung kecil. Banyak potensi gempa besar bisa terjadi, bersumber dari sesar darat aktif ataupun di zona subduksi. (AIK)
Kompas, Kamis, 29 Desember 2016