Tuesday, 19 September 2017

Interaksi Filter dengan Aliran Cairan Produk

Filter untuk sterilisasi seringkali digunakan dalam tahap manufaktur terakhir dari rangkaian proses pembuatan produk farmasi. Karena itu, efek filter terhadap produk akhir harus dievaluasi. Area pemeriksaan mencakup partikel, extractables dan leachables, kompatibilitas kimia, serta adsorpsi. Pengujian umumnya dilakukan dengan menggunakan cairan produk dan, dalam pengujian tertentu, menggunakan cairan pengganti.

1. Pelepasan partikel

21 CFR part 211.72 (2016) menyatakan bahwa filter untuk filtrasi cairan dalam manufaktur, pemrosesan, atau pengemasan produk obat injeksi yang digunakan untuk manusia tidak boleh melepas serabut ke dalam produk. Filter pelepas-serabut hanya boleh digunakan jika produk tidak bisa diproses tanpa menggunakan filter tersebut. Pada kondisi ini, pemakaian filter bukan-pelepas-serabut dengan rating ukuran pori nominal maksimal 0,2 mikron (atau 0,45 mikron jika kondisi mengharuskan) harus digunakan di sisi hilir filter pelepas-serabut untuk mengurangi kandungan partikel dalam produk injeksi.
Ada dua tipe filter, yakni tipe depth dan tipe membran (Levy dan Jornitz, 2006). Filter tipe depth tersusun dari bahan serabut tidak teranyam (non-vowen), yang ditumpuk secara acak ke dalam matriks dan diikat satu sama lain dengan penekanan, pemanasan, pengeleman, atau cara pengikatan yang lain. Serabut tersebut bisa berbahan dasar polipropilena, poliamida, ester selulosa, gelas, dan logam. Pori terbentuk dari celah-celah antarserabut. Filter tipe ini tergolong filter pelepas-serabut, terutama akibat fluktuasi tekanan.
Filter berbasis membran memiliki struktur pori yang lebih rapi dan teratur, dengan rentang porositas yang konsisten, dibandingkan filter tipe depth. Filter tipe ini tidak melepaskan serabut, tetapi masih mungkin melepas partikel. Bahkan, filter membran PTFE yang dibuat dengan cara penarikan selapis tipis massa polimer sehingga sebagian dari massa tersebut membentuk fibril, serabut yang sangat tipis, tidak memiliki masalah pelepasan serabut karena bukan tersusun dari tumpukan serabut dan merupakan satu kesatuan utuh (Wikol et al, 2008, p. 622; Meltzer dan Jornitz, 2009, p. 39). Istilah serabut (fiber) digunakan untuk menyebut partikel yang memiliki aspek rasio panjang dan lebar minimal 3:1 (Jornitz dan Meltzer, 2001, p. 94).
type.jpg
Mikrograf SEM filter tipe depth (atas) dan tipe membran (bawah) (Levy dan Jornitz, 2006)
Semua filter, termasuk membran mikropori, dapat melepaskan partikel. Oleh karena itu, kontaminasi partikel yang berasal dari filter dan proses filtrasi harus dievaluasi dengan cara membandingkan jumlah partikel filtrat relatif terhadap jumlah partikel dalam cairan sebelum difiltrasi. Pengujian dapat dilakukan dengan berbagai laju alir untuk mendapatkan filter dan variabel proses yang sesuai.
Partikel dilepas filter bisa berasal dari hasil samping saat proses koaservasi membran. Masalah yang sering terjadi pada membran PS ini disebabkan pengendapan dimer dengan bobot molekul rendah, yang terlambat bergabung dalam pembentukan lapisan tipis di dalam membran. Partikel ini umumnya berbentuk bulat (spherical) dan dapat terlepas dari filter karena terdorong aliran cairan yang berpermeasi (Jornitz dan Meltzer, 2001, pp. 89-94).
Untuk mengatasi masalah pelepasan partikel, filter dapat dibilas dengan air sebelum digunakan untuk filtrasi cairan produk. Jika cairan produk digunakan untuk membilas, beberapa bagian filtrat pertama dapat diresirkulasi atau dibuang.
Sumber partikel yang lain berkaitan dengan inkompatibilitas antara cairan dan filter. Misalnya, partikel dapat meningkat akibat oksidasi poliolefin seperti PP. Serangan radikal bebas pada rantai PP menyebabkan pemotongan rantai maupun ikatan silang, sehingga menghasilkan partikel yang cenderung membulat dan bercabang.
Pelepasan partikel dari filter juga dipengaruhi parameter proses filtrasi, seperti tekanan diferensial, suhu, dan, terutama sekali, laju alir cairan. Pulsasi aliran dapat meningkatkan laju dan/atau memperlama pelepasan partikel.

2. Kompatibilitas

Filter harus kompatibel dengan cairan yang difiltrasinya. Dengan kata lain, filter tidak boleh mengalami reaksi kimia atau pun perubahan fisik, yang dapat mengganggu kemampuan retensinya atau menimbulkan kontaminasi cairan, baik berupa leachables maupun partikel.
Uji kompatibilitas kimia sebaiknya juga dilakukan terhadap seluruh komponen sistem membran. Selain membran itu sendiri, komponen tersebut juga mencakup bahan pendukung membran, bahan cangkang kartrid dan housing, serta o-ring penyekat antara kartrid dan housing. Pengujian ini tergantung pada cairan yang difiltrasi, suhu filtrasi, dan waktu kontak (PDA, 2008).
Degradasi kimia dapat teramati dari perubahan fisik yang diakibatkan, seperti perubahan warna, pengembangan, pelarutan, dan pengerutan (Jornitz dan Meltzer, 2010, p. 316). Namun, seringkali perubahan tersebut berjalan lambat dan tidak dapat terlihat langsung, terutama dalam kaitan kemampuan meretensi mikroba.
Pengujian yang umum digunakan dalam evaluasi kompatibilitas antara lain uji integritas, kekuatan tarik (tensile strength), NVR, extractables, partikulat, laju alir, mikroskopi optikal atau pemindai elektron (SEM), tekanan ledakan (burst pressure), dan ketebalan membran/o-ring. PDA (2008) merekomendasikan penerapan kombinasi beberapa pengujian tersebut, karena pengujian tunggal seringkali sulit mendeteksi masalah inkompatibilitas.
Uji integritas merupakan “uji fisik” yang berkaitan dengan retensi mikroba dan dapat digunakan untuk menentukan kompatibilitas dengan membandingkan hasil pengujian sebelum dan sesudah proses filtrasi. Uji aliran udara difusif multi-titik merupakan metode yang paling peka untuk menunjukkan perubahan kecil pada filter (Jornitz dan Meltzer, 2001, p. 97).
Banyak interaksi kimia yang mungkin terjadi dalam sistem filter. Efek interaksi ini harus dikarakterisasi di awal, sebelum pemilihan filter. Tabel kompatibilitas kimia seringkali terlalu sederhana untuk memberikan cukup informasi yang diperlukan dalam memperkirakan kompatibilitas sistem filter. Oleh karena itu, pengujian tambahan diperlukan untuk memastikan interaksi terjadi seminimal mungkin.
Cairan dapat menyebabkan padatan polimer melunak dan mengembang, sebagai akibat intrusi molekul cairan ke antara molekul padatan (pemlastisan). Pengembangan dimensi (swelling) ini dapat diamati dengan mengukur perubahan diameter disk membran 47 mm, sebelum dan sesudah kontak dengan cairan dalam waktu tertentu. Umumnya, pengembangan diameter sekitar 1 mm. Pengembangan ketebalan lebih sulit diukur dengan presisi sehingga tidak disertakan dalam pengujian.
Pengembangan akibat kontak dengan cairan tidak hanya mempengaruhi dimensi keluar, tetapi juga dimensi internal. Sebagai akibatnya, laju alir menurun karena penyempitan rongga pori.
Ekuilibrasi Membran dengan Cairan Pemlastisa  (Jornitz dan Meltzer, 2001)
swelling.jpg
Pemlastisan yang menimbulkan efek pelunakan dapat diikuti dengan pengaruh pada kekuatan tarik (tensile strength) dan elongasi. Kekuatan tarik mengalami penurunan karena cairan yang menyusup memperlebar jarak antar-segmen polimer sehingga menurunkan gaya ikat seperti van der Waals atau valensi sekunder di antara segmen tersebut. Melemahnya kekuatan tarik juga menurunkan persen pemanjangan-hingga-putus (elongation-to-break).
Meskipun penurunan kekuatan tarik dan pemanjangan-hingga-putus dapat merupakan indikasi terjadinya inkompatibilitas, tetapi pengujian keduanya tidak praktis untuk dilakukan. Rantai polimer bertumpang tindih secara acak satu sama lain dan adanya dua gaya ikat yang nilainya dipengaruhi posisi antar-segmen polimer terhadap yang lain menyebabkan variasi pengukuran kedua parameter tersebut menjadi sangat tinggi. Akibatnya, diperlukan jumlah sampel yang besar untuk mendapatkan hasil yang secara statistik dapat dipercaya (Jornitz dan Meltzer, 2001, pp. 96-108).

3. Adsorpsi non-spesifik

Adsorpsi merupakan mekanisme pengikatan produk pada membran, yang dapat mempengaruhi komposisi dan kadar produk. Selain membran, bagian filter yang dapat mengadsorpsi juga mencakup perangkat keras dan komponen penyokong. Tingkat adsorpsi tergantung faktor laju alir, kadar produk, waktu kontak, kadar pengawet, suhu, dan pH. Untuk proses filtrasi dengan tingkat adsorpsi relatif tinggi tetapi masih dapat ditoleransi, filtrat dalam dikumpulkan dalam satu wadah sebelum proses pengisian sehingga massa bahan teradsorpsi menjadi minimal dibandingkan massa bahan secara keseluruhan dalam cairan sebelum filtrasi (PDA, 2008).
Untuk skala laboratorium, uji adsorpsi dapat dilakukan menggunakan membran disk 47 mm. Langkah pengujian meliputi (a) inkubasi; (b) pencucian, untuk menghilangkan bahan yang tidak teradsorpsi; (c) pengeringan filter, untuk menghilangkan air yang tersisa dalam filter; (d) pemotongan filter, untuk meningkatkan area ekstraksi; (e) desorpsi atau ekstraksi; dan (f) analisis kadar.
Dalam skala yang lebih besar, dapat digunakan cairan produk sebanyak 5 L atau lebih, yang dilewatkan sistem filter. Penetapan kadar dilakukan pada cairan sebelum difiltrasi dan sejumlah cairan filtrat yang diambil pada interval tertentu, misalnya setiap 100 mL untuk 500 mL filtrat pertama, dan setiap 500 mL untuk filtrat berikutnya. Selain kadar, perlu dilakukan pengukuran konduktivitas untuk mengevaluasi apakah penurunan kadar yang terjadi disebabkan pengenceran karena air yang tersisa di dalam filter atau disebabkan adsorpsi (Mahler et al, 2010).
adsorption.jpg
Penentuan adsorpsi Polisorbat 80 dan protein dengan menggunakan 5 L cairan produk. Konduktivitas rendah pada sampel awal menunjukkan pengenceran akibat air yang tersisa dalam filter. (Mahler et al, 2010)
adsorption kinetic.jpg
Perbandingan kinetika adsorpsi Polisorbat 20 pada beberapa filter 0,2 μm. Hasil penelitian tersebut menunjukkan filter Durapore memerlukan waktu singkat untuk mencapai titik jenuh, sedangkan filter Posidyne membutuhkan waktu lebih panjang. (Zhou et al, 2008)
Adsorpsi fisik komponen terlarut cairan produk tertentu dapat menyebabkan kebuntuan pori membran. Kondisi yang dapat menurunkan fluks ini disebut fouling. Protein merupakan komponen yang sering menyebabkan fouling pada filter membran, terutama melalui adsorpsi hidrofobik (Jornitz dan Meltzer, 2001). Surfaktan, seperti polisorbat 20 atau 80, dapat digunakan untuk membantu menurunkan masalah adsorpsi ini karena memiliki afinitas dengan permukaan membran yang lebih tinggi dari protein (Zhou et al, 2008; Mahler et al, 2010; Allmendinger et al, 2015).
Selain bahan aktif, komponen yang perlu diperhatikan karena dapat teradsorpsi pada membran dan sangat penting untuk mencegah kontaminasi selama pemakaian adalah pengawet, seperti benzalkonium khlorida dan ester paraben. Pengatur tonisitas non-ionik seperti manitol dan gliserin tidak mempengaruhi sifat adsorpsi benzalkonium khlorida. Namun, penggunaan natrium khlorida untuk mengatur tonisitas dapat meningkatkan adsorpsi pengawet ini pada permukaan membran (Bin et al, 1999). Sedangkan sifat adsorpsi ester paraben tidak dipengaruhi faktor formulasi, sehingga pengatur tonisitas berupa garam maupun poliol dapat digunakan (Bin et al, 2000).

4. Extractable dan leachable

Komponen cartridge filter umumnya terbuat dari bahan polimer termoplastik. Selain polimer plastik, di dalamnya juga bisa terkandung monomer dan oligomer, bahan tambahan plastik (antioksidan, plastisizer, adhesif, lubrikan, surfaktan, pelarut residu), dan hasil degradasi. Semua bahan tersebut memiliki potensi tertarik ke dalam cairan produk selama proses filtrasi.
Produsen umumnya memilih plastik Kelas VI sesuai klasifikasi dalam USP <88> Biological Reactivity Test, In Vitro, untuk komponen filter (Madsen, 2006).
Meskipun menjadi komponen penting dalam validasi filter, tingkat extractable dan leachable dari filter untuk sterilisasi yang dapat masuk ke aliran proses pada umumnya relatif rendah. Apalagi dengan adanya pembilasan filter sebelum penggunaan, kadarnya dapat jauh menurun dan dapat dibuktikan menggunakan kurva bilasan karbon organik total (TOC) (PDA, 2008).
Extractable didefinisikan sebagai komponen yang dapat terekstrasi dari material secara langsung saat dipapar pelarut tertentu di bawah kondisi waktu dan ruang yang terkontrol dan agresif. Dengan demikian, uji extractable bertujuan untuk memapar polimer dalam kondisi yang “keras”, tanpa merusak integritas polimer tersebut, untuk memaksimalkan jumlah senyawa yang dapat bermigrasi ke dalam pelarut.  
Pengujian umumnya dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua macam pelarut, tergantung penggunaan dan bahan pembentuknya. Filter yang digunakan untuk sistem berbasis air, pelarut yang digunakan air dengan kemurnian tinggi (air untuk injeksi) dan alkohol berbobot molekul rendah (etanol, isopropanol). Sedangkan filter yang digunakan untuk sistem berbasis pelarut organik, selain menggunakan alkohol berbobot molekul rendah, ekstraksi juga dilakukan dengan pelarut organik (heksana).
Metode ekstraksi bisa berupa: (1) perendaman dengan atau tanpa pengocokan; atau (2) resirkulasi (Colton dan Bestwick, 2008).
Data extractable dapat diperoleh dari pembuat filter atau dibuat oleh pengguna filter. Idealnya, data harus mencakup daftar komprehensif senyawa yang dapat menjadi leachable saat filter digunakan dalam formula di bawah kondisi proses aktual. Definisi leachable adalah bahan yang dapat bermigrasi dari komponen filter ke dalam cairan produk aktual di bawah kondisi proses atau penyimpanan normal (Gao dan Allison, 2016). Kondisi normal tersebut berkaitan dengan parameter kunci proses, termasuk, tetapi tidak terbatas pada, waktu, suhu, pH, dan tiap tahap preparasi filter, seperti sterilisasi dan pembilasan. Jika memungkinkan, leachable harus dievaluasi kalau tahap terakhir proses produksi sebelum pengisian adalah proses filtrasi (PDA, 2008).
Berdasarkan bab umum USP <1663> dan <1664>, proses karakterisasi extractable mencakup penelusuran (scouting), penemuan (discovery), identifikasi dan kuantitasi. Sedangkan karakterisasi leachable hanya mencakup tiga proses terakhir.
Penelusuran (scouting) adalah proses untuk mendapatkan informasi bahan kimia secara umum yang memberikan gambaran mengenai sifat dan besaran extractable. Dalam proses ini, metode pemeriksaan yang digunakan tidak menunjukkan suatu senyawa secara spesifik, baik sebagai molekul atau pun golongan senyawa. Namun, setidaknya bisa diperoleh gambaran sifat bahan terekstraksi secara keseluruhan, yang bisa digunakan dalam proses penemuan, identifikasi, dan karakterisasi selanjutnya. Contoh pemakaian data penelusuran antara lain:
  • Munculnya serapan dari ekstrak yang diperiksa secara spektroskopi UV menunjukkan adanya bahan dengan gugus kromofor dalam struktur kimianya. Temuan ini dapat ditindaklanjuti dalam proses berikutnya dengan penggunaan HPLC yang dilengkapi detektor UV.
  • Jumlah yang signifikan residu tidak menguap (NVR) yang diperoleh dari analisis gravimetri dapat diduga adanya bahan kimia anorganik yang terekstraksi. Dugaan ini dapat diperkuat jika ditemukan jumlah yang signifikan hasil pengabuan residu tidak menguap tersebut, dalam pengujian sisa pijar.
  • Fitur karakteristik pada spektrum inframerah ekstrak dapat memberikan gambaran kelas bahan kimia organik yang terekstraksi, berdasarkan identifikasi gugus fungsi dan ikatan kimia spesifik. Gambaran ini dapat membantu menentukan dan mengembangkan metode pemeriksaan dalam tahap berikutnya.
Metode yang dapat digunakan dalam proses penelusuran ini antara lain spektroskopi UV, FTIR, NVR, sisa pijar, serta pengukuran pH dan TOC.
Proses penelusuran tidak dapat diterapkan untuk leachable karena metode yang digunakan dalam proses ini tidak spesifik. Akibatnya, komponen dalam produk obat, yang berada dalam kadar yang jauh lebih besar dibandingkan leachable mengganggu pengukuran. Misalnya, komponen garam atau dapar dari formula dapat menyebabkan bobot NVR meningkat jauh di atas bobot leachable. Keberadaan bahan organik, seperti zat aktif, memberikan nilai TOC yang jauh lebih tinggi dari leachable. Dari contoh tersebut, kadar leachable bisa berada dalam rentang kesalahan metode uji.
Dalam proses penemuan (discovery), pengujian yang dilakukan ditujukan mampu mendapatkan satu atau lebih bahan extractable individual. Untuk tujuan itu, teknik separasi seperti kromatografi diterapkan dalam proses ini.
Dalam proses selanjutnya, bahan individual diidentifikasi, baik dengan analisis struktural atau pun analisis kualitatif. Teknik yang dapat digunakan dalam proses identifikasi ini misalnya GC/MS, GC/FID, GC/FTIR, LC/MS, dan LC/NMR. Metode lain, seperti headspace GC digunakan untuk mendeteksi pelarut residu dan extractable mudah menguap. Sedangkan ICP-MS dapat membantu menganalisis extractable berupa logam.
Tidak ada teknis analisis tunggal yang mampu mendeteksi semua extractable dan leachable. Karena itu, kombinasi minimal dua teknik analisis direkomendasikan untuk diterapkan (Colton dan Bestwick, 2008).  
Setelah bahan extractable diidentifikasi, kadarnya dapat dikuantitasi melalui perbandingan respon instrumen antara bahan tersebut dalam sampel terhadap baku pembanding. Extractable dan leachable dari filter umumnya ada dalam kadar sangat rendah, di bawah 10 ppm dan bahkan sering di bawah 1 ppm. Oleh karena itu, metode deteksi yang sensitif sangat diperlukan dalam analisis extractable dan leachable (Reif et al, 1996; Jornitz dan Meltzer, 2010; Gao dan Allison, 2016).
scheme reif.jpg
Skema analisis extractable perangkat filter berdasarkan Reif et al (1996)
Dalam situasi tertentu, uji leachable tidak mungkin dilakukan dengan formula aktual, antara lain (Colton dan Bestwick, 2008):
  1. Formula menyebabkan gangguan analisis yang tidak bisa dihindari
  2. Produk sitotoksik
  3. Produk sangat mahal
Kondisi uji leachable ditentukan berdasarkan rentang maksimal yang masih dapat diterima dari kondisi proses. Kondisi pengujian ini dipilih berdasarkan kondisi kasus terburuk. Kondisi ekstraksi dan parameter uji antara lain:
  1. Ukuran filter
Ukuran filter berkaitan dengan luas permukaan komponen filter yang kontak dengan cairan. Dalam volume cairan yang sama, filter yang lebih besar tentunya akan memberikan jumlah extractable yang lebih tinggi. Pengujian bisa dilakukan pada skala yang lebih kecil dari skala produksi, menggunakan filter yang lebih kecil juga. Di sini diperlukan pernyataan, berupa surat dari produsen filter, yang menyebutkan tidak ada perbedaan bahan penyusun antara kedua ukuran filter tersebut.
  1. Rasio volume cairan dan area permukaan
Pemilihan ukuran filter yang kurang optimal, yakni terlalu besar dibandingkan dengan jumlah cairan yang difilter, dapat menyebabkan jumlah extractable lebih besar.
  1. Pembilasan
Pembilasan dapat menurunkan leachable. Pembilasan, baik menggunakan air maupun cairan produk, merupakan metode yang efektif untuk menurunkan kadar leachables dalam produk.
  1. Sterilisasi
Sterilisasi menggunakan iradiasi gamma berpotensi meningkatkan leachable. Bahan organik penyusun sistem filter dapat terdegradasi akibat paparan radiasi gamma. Bahkan, degradasi ini bisa tetap berlangsung setelah paparan dihentikan dan filter sedang dalam penyimpanan. Oleh karena itu, usia guna bahan yang disterilisasi dengan radiasi gamma harus ditentukan.
Sterilisasi uap memiliki efek netral terhadap kadar leachables. Suhu tinggi selama sterilisasi dapat membawa leachable ke permukaan polimer. Namun, leachable yang mudah menguap dapat terusir dari sistem filter karena metode sterilisasi ini.
  1. Waktu kontak
Waktu kontak yang lebih lama dapat menghasilkan leachable yang lebih tinggi.
  1. Suhu kontak
Suhu kontak yang tinggi dapat menghasilkan leachable yang lebih tinggi.
  1. Sifat dan formulasi cairan produk
Kadar leachable dapat dipengaruhi pH, viskositas, dan penggunaan surfaktan dalam cairan produk.
Dalam pengujian leachables, dimungkinkan untuk pengelompokan filter, sebagai langkah efisiensi.

Referensi

Allmendinger A, Mueller R, Huwyler J, Mahler HC, Fischer S (2015) Sterile filtration of highly concentrated protein formulations: impact of protein concentration, formulation composition, and filter material. J. Pharm. Sci. 104(10): 3319-3329
Bin T, Kulshreshtha AK, Al-Shakhshir R, Hem SL (1999) Adsorption of benzalkonium chloride by filter membranes: mechanisms and effect of formulation and processing parameters. Pharm. Dev. Technol. 4(2): 151-165
Bin T, McCrosky L, Kulshreshtha AL, Hem SL (2000) Adsorption of esters of p-hydroxybenzoic acid by filter membranes: mechanism and effect of formulation and processing parameters. Pharm. Dev. Technol. 5(1): 95-104
Colton RH, Bestwick DG (2008) Extractables and Leachables Evaluations for Filters. Dalam: Jornitz MW, Meltzer TH (Editor) Filtration and Purification in the Biopharmaceutical Industry, 2nd Ed. New York: Informa Healthcare, pp. 389-411
Gao Y, Allison N (2016) Extractables and leachables issues with the application of single use technology in the biopharmaceutical industry. J. Chem. Technol. Biotechnol. 91(2): 289-295
Jornitz MW, Meltzer TH (2001) Sterile Filtration: A Practical Approach. New York: Marcel Dekker
Jornitz MW, Meltzer TH (2010) Filters and Filtration. Dalam: Nema S, Ludwig JD (Editor) Pharmaceutical Dosage Forms: Parenteral Medications, 3rd Ed. Vol. 2: Facility Design, Sterilization and Processing. New York: Informa Healthcare, pp. 297-333
Levy RV, Jornitz MW (2006) Types of filtration. Adv. Biochem. Engin./Biotechnol. 98: 1-26
Madsen RE (2006) Filter validation. Adv. Biochem. Engin./Biotechnol. 98: 125-141
Mahler HC, Huber F, Kishore RSK, Reindl J, Rückert P, Müller R (2010) Adsorption behaviour of a surfactant and a monoclonal antibody to sterilizing-grade filters.  J. Pharm. Sci.  99(6): 2620-2627
Meltzer TH, Jornitz MW (2009) The Anatomy of a Pharmaceutical Filtration. Bethesda: PDA
PDA (2008) Technical Report No. 26 (Revised 2008): Sterilizing Filtration of Liquids. PDA J. Pharm. Sci. Technol. 62(S-5)
Reif OW, Sölkner P, Rupp J (1996) Analysis and evaluation of filter cartridge extractables for validation in pharmaceutical downstream processing. PDA J. Pharm. Sci. Technol. 50(6): 399-410
USP39-NF34 (2016) General Information <1664> Assessment of Drug Product Leachables Associated with Pharmaceutical Packaging/Delivery Systems. Rockville: The United States Pharmacopeial Convention, pp. 1850-1862
Wikol M, Hartmann B, Brendle J, Crane M, Beuscher U, Brake J, Shickel T (2008) Expanded Polytetrafluoroethylene Membranes and Their Applications. Dalam: Jornitz MW, Meltzer TH (Editor) Filtration and Purification in the Biopharmaceutical Industry, 2nd Ed. New York: Informa Healthcare, pp. 619-640
Zhou JX, Qiu J, Jiang G, Zhou C, Bingham N, et al (2008) Non-specific binding and saturation of Polysorbat-20 with aseptic filter membranes for drug substance and drug product during mAb production. J. Membrane Sci. 325(2): 735-741