Thursday, 3 March 2016

Diskriminasi dan Jejak Sejarah Tiga Perupa Tionghoa

JAKARTA, KOMPAS — Di tengah tekanan, sejumlah perupa keturunan Tionghoa tetap mampu berkarya secara maksimal. Dengan aksentuasi artistik yang unik, mereka menorehkan jejak sejarah di dunia seni rupa Indonesia.
Tiga tokoh perupa Tionghoa legendaris yang patut diperhitungkan di jagat seni rupa Tanah Air ialah Lee Man Fong, Siauw Tik Kwie, dan Lim Wasim. "Lee Man Fong memiliki kekuatan realis yang secara harmonis bisa dipadukan dengan nuansa lukisan Tiongkok kuno," kata kurator dan dosen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, Aminudin TH Siregar, Rabu (2/3), saat dihubungi dari Jakarta.
lee man fong dan siaw tik kwie.jpg
Lee Man Fong (1913-1988) dan Siauw Tik Kwie (1913-1988)
Sementara Siauw Tik Kwie merupakan komikus andal periode 1950-an. Karena itu, teknik dan gaya lukisannya tak bisa dilepaskan dari kemahirannya menggambar komik. "Kemudian, Lim Wasim adalah pelukis istana zaman Presiden Soekarno. Lukisannya naturalis, seperti karya Dullah dan Basoeki Abdullah," ucap Aminudin.
Dari tiga orang tersebut, Lee Man Fong paling menonjol. Dalam lukisannya, ia dinilai berhasil memadukan aksentuasi Tionghoa dengan tema-tema keseharian Indonesia. Teknik dan nuansa yang dikembangkan Lee Man Fong sangat bergaya Tionghoa, tetapi realitas empiriknya bertema Indonesia. "Lukisannya menyiratkan akulturasi dua budaya. Ini merupakan ciri khas dan kekuatan lukisan Lee Man Fong yang tidak ada tandingannya di Indonesia," kata Aminudin.
Pengamat seni, Agus Dermawan T, dalam buku Melipat Air: Jurus Budaya Pendekar Tionghoa: Lee Man Fong, Siauw Tik Kwie, dan Lim Wasim memaparkan perjuangan Lee Man Fong. Dalam buku yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (2016) itu diungkap bagaimana Lee Man Fong mendirikan biro reklame dan ditangkap oleh militer Jepang.
Ia juga mendapat beasiswa studi ke Belanda, mendirikan organisasi seni Yin (Indonesia) Hua (Tionghoa), dan dipercaya Soekarno sebagai pelukis Istana Presiden. "Anehnya, dalam waktu lama Lee Man Fong tetap dianggap sebagai orang asing sehingga diskriminasi nyaris selalu mengakrabinya," kata Agus.
Karena trauma dan dianggap Soekarnois, pertengahan 1967, Lee Man Fong meninggalkan rumahnya di Jakarta. Ia kemudian tinggal di Singapura.
Komikus dan pelukis istana
Perupa Tionghoa lain, Siauw Tik Kwie, justru dikenal dan sangat populer dengan karya-karya komiknya. Komik legendarisnya adalah Sie Djin Koei.
Tidak hanya seni rupa yang didalami Siauw Tik Kwie. Komikus ini juga menekuni dunia penulisan dan pemikiran. Ia bahkan menerjemahkan buku psikologi Jawa karya mistikus Yogyakarta, Ki Ageng Suryomentaram, dan menjadi guru spiritual.
Sementara Lim Wasim yang pernah belajar di Central Institute of Fine Art Beijing pada 1950-1956 merupakan asisten Lee Man Fong di Istana Presiden. Ia bertugas merestorasi dan merawat benda-benda seni koleksi Istana.
Sama dengan perupa-perupa Tionghoa lainnya, setelah peristiwa 1965, kiprah seni Lim Wasim hanyut dalam gelombang diskriminasi. (ABK)
Kompas, Kamis, 3 Maret 2016

Gempa 7,8 Skala Richter Guncang Sumatera

PADANG, KOMPAS — Gempa bermagnitudo 7,8 skala Richter terjadi di Samudra Hindia, sekitar 682 kilometer barat daya Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Rabu (2/3) pukul 19.49. Gempa yang berpusat di kedalaman 10 kilometer itu juga dirasakan di wilayah Sumbar dan sejumlah wilayah lain di Sumatera. Hingga berita ini diturunkan, Rabu tengah malam, belum ada laporan kerusakan bangunan ataupun korban jiwa.
258e2c21d93245eaac814ee327c3c2bf.jpg
Lanskap Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (3/3), difoto sehari setelah diguncang gempa. Gempa berkekuatan 7,8 skala Richter terjadi di Samudra Hindia, sekitar 628 kilometer barat daya Kepulauan Mentawai, Rabu pukul 19.49. Gempa yang berpusat di kedalaman 10 kilometer itu juga dirasakan di wilayah Sumatera Barat, termasuk Padang. Tidak ada korban jiwa, tetapi guncangan gempa membuat warga panik dan mengungsi.(Kompas/Totok Wijayanto)
Vincentius Ndraha (53), warga Siberut Selatan, Kabupaten kepulauan Mentawai, yang baru bisa dihubungi Kompas dari Padang, Sumbar, pukul 21.22, mengatakan, guncangan gempa terasa sangat besar dan lama. Hal itu membuat warga panik dan berlarian keluar rumah menuju lokasi yang aman.
"Sekarang di Siberut Selatan, semua rumah kosong. Warga sudah mengungsi ke tiga titik ketinggian, yaitu di Gunung Batu Sudut, Gunung Kuburan Kristen, dan Gunung Pastoran," kata Vincentius.
Rinto Senenek, warga Desa Saibi Samukop, Siberut Tengah, menambahkan, warga di desanya berlarian keluar rumah setelah gempa dan bergerak ke daerah yang lebih tinggi. Gempa tidak sampai membuat rumah roboh.
Rinto mengatakan, beberapa desa di Kecamatan Siberut Barat Daya tidak bisa dipastikan kondisinya karena daerah itu memang belum dijangkau sinyal telepon seluler.
Gempa juga membuat warga Padang panik dan berusaha menuju ke tempat yang lebih tinggi. Hingga pukul 22.00, pergerakan warga menuju daerah yang lebih tinggi atau zona hijau bencana di kawasan Bypass Padang hingga Indarung masih berlangsung. Warga bergerak menggunakan kendaraan roda empat, roda dua, atau berjalan kaki. Hal itu membuat seluruh ruas jalan menuju daerah yang lebih tinggi di Kota Padang macet.
Selain ke daerah yang lebih tinggi, warga juga bergerak ke shelter-shelter pengungsian yang tersebar di sejumlah titik di Kota Padang. Di Masjid Nurul Haq yang menjadi salah satu shelter pengungsian di kawasan Tabing, Kecamatan Koto Tangah, misalnya, hingga pukul 22.00 masih ada 500 warga yang mengungsi. Semula ada sekitar 1.000 warga. "Warga yang masih tinggal terutama warga berusia lanjut, stroke, atau menggunakan kursi roda," kata Daz Edwiza, warga.
Gempa memicu longsor di kawasan Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi. Akibatnya, jalur alternatif Bukittinggi-Agam terputus.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Padang Panjang Rahmat Triyono mengatakan, selain di Mentawai, guncangan gempa juga terasa besar di kawasan pesisir pantai seperti Padang, Pesisir Selatan, Pariaman, Padang Pariaman, Agam, dan Pasaman Barat. Gempa juga terasa di seluruh kawasan pesisir Sumatera.
Warga di Pulau Simeulue, Aceh, merasakan gempa dua kali sebelum azan isya. Gempa pertama berlangsung sekitar 10 detik, kemudian tenang beberapa detik, dan muncul lagi gempa yang lebih ringan selama 7 detik. "Gelas di meja hanya goyang-goyang, tetapi tidak jatuh," kata Ranu Anilus (34), warga.
Raja Umar, warga di Meulaboh, Aceh Barat, mengatakan, getaran gempa tak terasa di daerahnya. Namun, warga yang awalnya tenang akhirnya berlari keluar rumah setelah mengetahui berita mengenai ada potensi tsunami terkait gempa itu.
Getaran gempa berkekuatan rendah dirasakan warga di Kota Sibolga dan Nias Selatan, Sumatera Utara; di Kabupaten Lampung Barat, Lampung; serta di Kabupaten Seluma dan Mukomuko, Bengkulu. Status Waspada ditetapkan di Seluma dan Mukomuko.
"Kedua kabupaten itu berada di pesisir sehingga rentan terhadap potensi tsunami," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bengkulu Husni Wahyudin ketika dihubungi dari Palembang.
Pasca gempa, BMKG memang mengeluarkan peringatan dini tsunami di Sumbar, Sumut, Aceh, Bengkulu, dan Lampung. Peringatan tsunami berakhir sekitar pukul 22.35.
Ahli geologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman, mengatakan, gempa terjadi karena sesar geser di Samudra Hindia, yakni di Lempeng Samudra Indo-Australia. Gempa ini tidak berpotensi tsunami. "Pergerakan patahan mendatar sehingga tidak mengangkat volume air laut," ujarnya.
Karakteristik gempa ini, menurut Danny, mirip dengan yang terjadi pada April 2012 yang berkekuatan 8,5 SR dan 8,8 SR, berpusat di barat daya Simeulue.
Memantau
Dari Medan, Sumatera Utara, Presiden Joko Widodo, yang tengah melakukan kunjungan kerja tiga hari di Sumatera, memerintahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei segera turun ke lapangan. Presiden meminta BNPB segera melakukan langkah penanganan dampak gempa.
Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Sukardi Rinakit, di Medan, mengatakan, Presiden Jokowi terus memantau perkembangan kondisi lapangan. Presiden juga meminta masyarakat Kepulauan Mentawai dan Sumbar tetap mewaspadai potensi gempa susulan.
Posko BNPB masih mengonfirmasi dampak gempa. Komunikasi dengan BPBD Mentawai terus dilakukan.
Kemarin pada pukul 13.09, gempa berkekuatan 5,2 SR juga terjadi di Samudra Hindia sekitar 81 kilometer barat daya Kabupaten Malang, Jawa Timur.
(ZAK/MHF/AIN/NSA/DRI/VIO/CHE/WSI/GER/RAM/WER/AIK/JOG/YUN/HAM)
Kompas, Kamis, 3 Maret 2016

Tuesday, 1 March 2016

Selamat Jalan Mitos, Selamat Datang Nalar

Oleh NAWA TUNGGAL
Meski gerhana matahari total beberapa kali hadir di wilayah Indonesia, gerhana pada 9 Maret 2016 tetaplah terasa istimewa. Bukan hanya karena fenomena langka, melainkan juga gerhana kali ini bisa menjadi momentum membangun rasionalitas dan keilmuan bangsa.
Sambutan pemerintah dan masyarakat dalam menyambut gerhana matahari total (GMT) kali ini jauh berbeda dibandingkan gerhana-gerhana sebelumnya, khususnya GMT pada 11 Juni 1983. Gerhana tak lagi dipandang sebagai peristiwa alam menakutkan. Kegelapan yang menyertai tertutupnya Matahari oleh piringan Bulan itu justru dimaknai sebagai kegembiraan.
"Cuaca kultural dalam menyikapi gerhana sudah berubah," kata Karlina Supelli, astronom sekaligus filsuf pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Kamis (25/2).
Pada GMT 1983, Karlina yang ketika itu bertugas di Planetarium dan Observatorium Jakarta mengingat larangan pemerintah kepada masyarakat melihat langsung gerhana karena bisa menimbulkan kebutaan. Padahal, larangan itu tidak sepenuhnya benar dan pemerintah tidak seharusnya melarang karena risiko itu bisa disiasati.
"Pelarangan waktu itu menjadi alat bagi Presiden Soeharto untuk menguji kepatuhan rakyat di Jawa terhadap pemerintah. Terbukti, rakyat memang tunduk dan patuh," katanya.
GMT 1983 berpuncak di Laut Jawa di utara Pulau Madura selama 5 menit 11 detik. Jalur totalitas gerhana melintasi wilayah tengah Jawa, daerah dengan konsentrasi penduduk terbesar di Indonesia, selama 3-5 menit.
Ketakutan yang muncul saat gerhana masa itu direkam Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam tulisannya, "Akhirnya Batara Kala Muncul Juga" dan YB Mangunwijaya atau Romo Mangun dalam "Pikiran-pikiran tentang Suatu Gerhana" di Kompas, 16 Juni 1983.
Ketakutan terhadap gerhana itu dinilai Gus Dur bukan kepada probabilitas akibat yang ditimbulkannya, tetapi muncul karena adanya kemungkinan bahaya yang jauh lebih besar. Gus Dur mencontohkan sikap seorang lurah yang memerintahkan anak-anak diikat agar tak keluar rumah saat gerhana, dan adanya seorang dokter yang menganjurkan mata kambing dan hewan ternak lainnya ditutup agar tidak buta.
Kondisi itu menunjukkan adanya ketakutan lebih besar yang dialami pejabat dan profesional hingga tingkat terendah yang diberi wewenang kekuasaan oleh pemerintah. Gus Dur mengibaratkan ketakutan itu sebagai kemunculan Batara Kala di bidang hukum dan politik.
Sementara Romo Mangun mengingatkan, ketakutan sering menelurkan kejahatan. Karena itu, sebelum pencerdasan dilakukan, rasa atau suasana takut itu harus dihilangkan dulu.
Kegembiraan
Kini, pemerintah justru mengajak masyarakat merayakan bersama gerhana. GMT 2016 yang melintasi selatan Sumatera, selatan Kalimantan, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara itu justru menjadi "undangan" bagi 100.000 turis asing dan 5 juta turis Nusantara untuk menikmati kegelapan sekejap nan eksotis di pagi hari.
Dengan "cuaca" kultural yang membaik itu, Karlina berharap masyarakat mulai diajak mengubah perilakunya agar semakin mengedepankan rasionalitas dan keilmuan. "Cuaca kultural sudah berubah, tetapi perilaku-perilaku kultural kita belum berubah," katanya.
Salah satu contoh perilaku kultural yang tidak berubah itu adalah cara masyarakat dalam menyikapi bencana. Banjir, longsor, atau gempa masih dianggap sebagai peristiwa alam yang memberikan bencana. Padahal, alam hanya menjalankan konsekuensi perubahan yang dipicu ulah manusia.
"Peristiwa alam bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami. Alam memiliki sifat tersendiri yang harus terus dipahami manusia," tambahnya.
Karena itu, gerhana kali ini bisa dijadikan sebagai kesempatan untuk mencerdaskan masyarakat guna terus memahami sifat alam. Alam berubah karena manusia yang mengubahnya.
Meski upaya pencerdasan lebih tertuju pada rasionalitas, Karlina menilai, mitologi tak bisa ditinggalkan begitu saja. Justru itu menjadi tugas manusia saat ini untuk menafsirkan mitologi menjadi nilai-nilai yang relevan. Upaya pencerdasan itu harus dilakukan dengan tetap menjaga tradisi agar bermakna dan dibingkai menjadi sebuah gerak kebudayaan.
Selama ini, kebudayaan menjadi bidang perhatian yang dilemahkan. Kebudayaan tidak pernah ditafsir dan dikodifikasi. Namun, demi tujuan tertentu, kebudayaan sering kali diagung-agungkan dan sekadar jadi panggung.
Kodifikasi kebudayaan menjadi tugas awal yang sangat penting sehingga data basis kebudayaan di berbagai tempat akan terdokumentasikan. Melalui kodifikasi, kebudayaan bisa ditafsir untuk menghadirkan nilai-nilai yang relevan sesuai zaman, seperti menunjang kepentingan lingkungan hidup, ekonomi adil, atau ekonomi yang ekologis.
Budaya kerja
Pegiat kebudayaan Radhar Panca Dahana melihat fenomena gerhana kali ini sebagai peristiwa jagat besar (makrokosmos) yang bakal memengaruhi jagat kecil (mikrokosmos). Pengaruh itu bisa memunculkan hal-hal baik bagi manusia yang besarannya sangat bergantung pada tingkat kemampuan manusia menyatukan dirinya dengan alam.
Radhar tidak merinci pengaruh yang bakal ditimbulkan dari peristiwa langit atau jagat besar seperti GMT nanti terhadap kehidupan manusia di Bumi sebagai jagat kecil. Namun, ia mengingatkan peristiwa apa pun di langit akan memberikan pengaruh pada kehidupan di Bumi.
Meski demikian, apa pun pengaruhnya, Radhar berulang kali mengingatkan pentingnya membangkitkan kembali budaya bahari bangsa. Jika budaya bahari itu dihidupkan lagi dan nilai-nilainya terus-menerus digali, hal itu diyakini akan membawa perubahan besar bagi bangsa.
"Dalam budaya bahari, agama tidak akan saling berkelahi," katanya.
Budaya bahari yang dimiliki bangsa Indonesia sejak ribuan tahun sebelum Masehi itu menunjukkan penyatuan manusia dengan alam yang diistilahkan Radhar sebagai manunggaling kawula lan gusti atau menyatunya rakyat dengan penguasa. Meski demikian, Radhar mengingatkan, ngomong dan pidato bukan bagian kerja dari budaya bahari.
Karena itu, GMT kali ini semestinya menjadi momentum bagi penguasa untuk mulai menyatu dengan rakyat dan bekerja bersama rakyat. "Ada falsafah hidup dalam bahasa Jawa, rame ing gawe, sepi ing pamrih (giat bekerja tanpa pamrih). Seperti itulah semestinya budaya negeri bahari kita," katanya.

Kompas, Rabu, 2 Maret 2016

Medan Magnet Bumi Pun Terganggu

Setiap saat, Matahari selalu mengembuskan partikel-partikel bermuatannya ke antariksa, baik saat badai matahari maupun tidak. Aliran partikel bermuatan yang disebut angin matahari itu menyebar ke segala arah hingga tepian tata surya. Saat angin matahari menabrak Bumi, medan magnet Bumi pun akan terpengaruh.
Persiapan pengamatan gerhana matahari total di Candi Borobudur tanggal 11 Juni 1983.
Persiapan pengamatan gerhana matahari total di Candi Borobudur tanggal 11 Juni 1983. (Kompas/Kartono Ryadi)
Ketika terjadi ledakan di Matahari yang disebut lontaran massa korona (coronal mass ejection), aliran partikel bermuatan yang menabrak Bumi itu kian bertambah besar. Kondisi itu bukan hanya memengaruhi medan magnet Bumi, melainkan juga bisa melemahkannya hingga menimbulkan badai geomagnetik.
Badai itu bisa menguatkan terbentuknya aurora di daerah lintang tinggi, baik aurora Borealis maupun Australis. Bahkan, badai itu bisa mengganggu satelit yang memengaruhi sistem telekomunikasi di Bumi dan sistem kelistrikan Bumi di daerah dekat kutub.
Saat angin Matahari menabrak Bumi, daerah khatulistiwa tak terlalu berdampak karena medan magnet Bumi atau magnetosfer bersifat seperti tameng. "Ketika partikel bermuatan menabrak khatulistiwa Bumi, partikel itu dibuang ke kutub Bumi," kata Kepala Subbidang Magnet Bumi dan Listrik Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Suaidi Ahadi, Kamis (25/2).
Namun, masih ada partikel bermuatan itu yang lolos dan masuk ke wilayah lintang rendah di sekitar khatulistiwa dan lintang menengah yang dinamakan continuous pulsations (Pc) atau pulsa kontinu. Pulsa kontinu yang masuk ke daerah lintang rendah dan menengah adalah Pc3 yang memiliki periode 10-45 detik dan Pc4 dengan periode 45-150 detik. Adapun Pc1 dan Pc2 masuk ke lintang tinggi.
"Saat terjadi badai matahari, Pc3 bisa mengganggu sinyal telepon dan radio, sedang Pc1 dan Pc2 menyebabkan padamnya listrik," katanya.
Gerhana
Saat gerhana matahari, lanjut Suaidi, aliran angin matahari yang menuju Bumi terhalang Bulan. Dalam kasus gerhana matahari total (GMT), 9 Maret 2016, yang terjadi di sekitar khatulistiwa, aliran Pc3 dan Pc4 tidak akan muncul di daerah lintang rendah.
Mengutip penelitian P Bencze dkk dalam "Effect of the August 11, 1999 Total Solar Eclipse on Geomagnetic Pulsations" di Acta Geodaetica et Geophysica Hungarica, 2007, kata Suaidi, selama GMT, aliran Pc3 dan Pc4 memang berubah. Namun, perubahannya tidak signifikan. Meski demikian, data penghitungan medan magnet itu tetap berguna.
Saat GMT, para ilmuwan bisa menentukan nilai medan magnetik Bumi sebenarnya pada titik tertentu di Bumi yang dilintasi jalur totalitas gerhana. Nilai kemagnetan Bumi dipengaruhi banyak hal, dari dalam dan luar Bumi. Karena itu, saat Bulan mengeblok angin matahari, maka medan magnetik asli yang ditimbulkan Bumi bisa diukur.
Pada 9 Maret, BMKG akan mengukur medan magnet Bumi sebenarnya menggunakan magnetometer atau variometer di Tanjungpandan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Palu, Sulawesi Tengah.
Hasil pengukuran itu akan dibandingkan dengan pengukuran di stasiun medan magnet Bumi BMKG di enam lokasi yang hanya mengalami gerhana matahari sebagian sehingga aliran Pc3 dan Pc4 tetap ada. Keenam stasiun BMKG itu adalah Tuntungan (Sumatera Utara), Tangerang (Banten), Palabuhanratu (Jawa Barat), Kupang (Nusa Tenggara Timur), Manado (Sulawesi Utara), dan Jayapura (Papua).
Menurut Suaidi, data medan magnet Bumi sebenarnya diperlukan untuk menentukan arah dalam navigasi, menentukan ketepatan posisi pengeboran dalam eksplorasi sumber daya mineral, serta memprediksi perubahan iklim. "Selama ini, faktor perubahan medan magnet Bumi belum dimasukkan dalam pemodelan perubahan iklim," katanya.
Hampir 200 tahun terakhir, kutub utara magnetik (KUM) Bumi bergeser 200 kilometer. Jika pada 1831 KUM terletak di Semenanjung Boothia, utara Kanada, satu dekade ke depan diperkirakan akan berada di Siberia, Rusia. Padahal, kutub utara dan selatan magnet Bumi adalah sumbu atau poros perputaran Bumi pada porosnya, bukan di kutub geografis.
Pergeseran itu mengubah posisi Bumi terhadap Matahari sehingga panjang musim di sebagian besar permukaan Bumi akan berubah hingga turut memicu perubahan iklim.
Selain itu, besaran medan magnet di setiap titik di muka Bumi berbeda. Karena itu, data medan magnet sebenarnya di Indonesia tidak bisa digunakan berdasarkan data di tempat lain. Kondisi itu membuat GMT kali ini punya nilai kebaruan dalam ranah penelitian geomagnet.
Sementara itu, peneliti geomagnet Pusat Sains Antariksa, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Mamat Ruhimat, mengatakan, saat gerhana, ketika sinar Matahari terhalang Bulan, proses ionisasi di lapisan ionosfer Bumi akan menurun. Berkurangnya ionisasi membuat arus di ionosfer ikut berubah.
Ionosfer adalah atmosfer bagian atas yang berisi ion-ion positif dan elektron yang diperoleh dari proses ionisasi oleh sinar ultraviolet Matahari. Sehari-hari, saat pancaran radiasi Matahari maksimum, terbentuk empat lapisan ionosfer. Lapisan itu, dari yang paling tinggi ke paling rendah, adalah F2, F1, E, dan D. Gangguan arus biasanya terjadi pada lapisan E di ketinggian 90-140 kilometer.
Karena tertutup Bulan, sinar ultraviolet tak menjangkau atmosfer Bumi sehingga proses ionisasi tak terjadi. Perubahan arus itu bisa memengaruhi variasi harian geomagnet Bumi. "Seberapa besar perubahan geomagnet itu akan diteliti Lapan di Ternate," katanya. Penelitian dilakukan bersama BMKG serta tim Universitas Kyushu dan Universitas Nagoya, Jepang.
Elvis V Onovughe dalam "Geomagnetic Diurnal Variation During the Total Solar Eclipse of 29 March 2006" di International Journal of Astronomy, 2013, menyebut perubahan arus di ionosfer selama gerhana matahari dipicu faktor lain, seperti tingkat aktivitas Matahari, tingkat gangguan geomagnetik, kondisi geofisika, dan waktu terjadinya gerhana. (MZW)
Kompas, Rabu, 2 Maret 2016

Gerhana dan Gangguan Mata

Oleh REFERANO AGUSTIAWAN
Gerhana matahari adalah suatu keadaan di mana Bulan terletak persis di antara Bumi dan Matahari. Seperti diketahui, negara kita cukup "beruntung" akan mengalami lagi gerhana matahari.
Tidak semua negara dapat melihat fenomena alam luar biasa ini. Bagi mereka yang besar tahun 1980-an, bulan depan adalah kesempatan kedua dan mungkin terakhir melihat ini mengingat siklus gerhana matahari total (GMT) sekitar 25 tahun sekali.
Ada banyak mitos tentang gerhana, tetapi tidak ada yang lebih memprihatinkan dari peristiwa GMT yang melintasi Pulau Jawa, Sabtu, 11 Juni 1983, ketika pemerintah memaksa rakyat berdiam dalam rumah dengan alasan cahaya gerhana matahari bisa membutakan mata. Betulkah?
Anatomi dan fungsi mata
Mata terdiri dari kelopak mata, kornea (lapisan terluar bola mata), iris (selaput pelangi), pupil (anak mata), lensa, dan retina (saraf mata). Manusia dapat melihat obyek apabila ada cahaya masuk melewati kornea, diteruskan ke pupil, difokuskan oleh lensa, dan diterima retina.
Retina adalah lapisan paling dalam yang berfungsi menerima cahaya dan mengantarkannya ke otak. Cahaya diolah sehingga membentuk bayangan. Retina bekerja seperti film di kamera. Zaman dulu, kalau kita  membuka kamera yang masih terisi film di daerah terbuka, film akan terbakar dan tidak bisa dicetak. Retina kita pun akan "terbakar" jika terlalu banyak terpapar sinar.
Retina adalah bagian mata yang paling penting. Selama retina sehat, kita dapat mengoperasi untuk memperbaiki bagian mata lain yang rusak untuk menyelamatkan penglihatan. Sebaliknya, apabila retina rusak, walaupun bagian mata yang lain masih baik, penglihatan kita tidak akan normal lagi.
Mata tidak bisa menerima cahaya yang berlebihan. Jika ada sinar berlebihan, mata akan menyipit. Kelopak mata akan turun untuk mengurangi sinar yang masuk. Mekanisme selanjutnya, iris kita akan berkontraksi sehingga pupil mengecil. Ini juga mereduksi sinar yang masuk.
Retina terdiri dari miliaran sel-sel yang sensitif sinar, yang memungkinkan kita bisa melihat warna, bentuk, dan lain sebagainya. Namun, jika sinar (matahari) masuk berlebihan, retina akan mengeluarkan zat kimia yang dapat merusak sel-sel saraf di retina. Keadaan ini dapat menyebabkan kebutaan permanen. Kerusakan mata akibat sinar matahari disebut solar retinopathy.
Solar retinopathy terjadi apabila kita menatap matahari dengan mata telanjang dan dalam waktu lama. Kondisi ini menimbulkan kerusakan retina yang parah tanpa rasa nyeri sehingga pada beberapa kasus penderita tidak menyadarinya.
Saat gerhana, Bumi "kehilangan" sinar matahari sementara. Namun, pada dasarnya sinar matahari saat biasa tidak berbeda dengan sinar matahari saat gerhana. Panjang gelombang sinar ultra violet yang masuk ke Bumi dan mata kita tidak berubah.
Sinar ultraviolet
Apakah sinar matahari aman buat mata kita? Sinar matahari mengemisikan beberapa jenis sinar sesuai panjang gelombangnya. Sinar ultraviolet (panjang gelombang 100-400 nm), visible light (panjang gelombang 400-700 nm), dan infrared (> 700 nm). Mata kita hanya bisa menangkap sinar dengan panjang gelombang 400-700 nm. Sinar infrared hanya bisa kita rasakan sebagai sensasi panas/hangat, sedangkan sinar ultraviolet tidak dapat dilihat manusia.
Sinar ultraviolet (UV) ada tiga tipe, yaitu UV A (A kepanjangan dari aging). UV A dapat masuk ke kulit bagian dalam dan menjadi faktor risiko penuaan dini, katarak, dan degenerasi retina.
Tipe kedua adalah UVB (B kepanjangan dari burning). Radiasi UV B lebih kuat dari UVA. UVB lebih banyak mengenai kulit bagian luar, pencetus kulit terbakar dan kanker kulit.
Tipe UV C, adalah tipe yang paling berbahaya, yang untungnya tidak dapat mencapai permukaan bumi karena sudah terserap oleh atmosfer.
Level ultraviolet dipengaruhi letak geografis, ketinggian, dan waktu. Daerah tropis dekat khatulistiwa adalah daerah dengan level ultraviolet tertinggi. Makin tinggi lokasi, makin tinggi pula level ultraviolet. Level ultraviolet paling tinggi pada pukul 10.00-14.00. Awan tidak memengaruhi level sinar ultraviolet. Walaupun mendung, risiko akibat ultraviolet tetap tinggi.
Meski demikian, kasus kerusakan retina (solar retinopathy) sangat jarang karena jarang sekali ada orang yang secara sadar menatap sinar matahari berlama-lama. Pada beberapa kasus, orang dalam pengaruh narkotika dapat terkena solar retinopathy karena dalam keadaan tidak sadar menatap sinar matahari langsung.
Sinar matahari memang berbahaya. Namun, tubuh kita punya mekanisme melindungi mata dengan menyempitkan kelopak mata dan mengecilkan pupil mata. Mekanisme perlindungan ini tidak bekerja jika kita berada di daerah dengan sinar kurang.
Saat gerhana matahari total, sinar matahari tertutup bulan. Saat kita menatap fenomena itu, mata akan bereaksi seperti melihat dalam kondisi gelap/redup.  Kelopak mata membuka dan pupil melebar. Saat Bulan bergeser dan Matahari mendadak bersinar lagi, mata kita dalam kondisi pertahanan yang kurang. Kalau tidak hati-hati, dapat menyebabkan solar retinopathy.
Oleh karena itu, menyaksikan gerhana matahari ada tipsnya. Gunakan alat yang dilengkapi filter ultraviolet menjelang dan sesaat sesudah gerhana matahari total. Pastikan alat bisa memproteksi panjang gelombang 100-400nm. Tidak perlu menggunakan filter saat gerhana matahari total. Segera temui dokter mata apabila ada keluhan mata pasca gerhana matahari.
Selamat menikmati fenomena alam yang luar biasa ini.
REFERANO AGUSTIAWAN
Retina Service, RS Mata Jakarta Eye Center
Kompas, Rabu, 2 Maret 2016
Sinar Surya Perusak Mata
Sebagai fenomena alam biasa tetapi langka, gerhana matahari total 9 Maret 2016 yang terlihat di beberapa daerah di Indonesia menjadi fenomena yang sayang dilewatkan. Terlebih lagi, wilayah daratan yang bisa menyaksikan gerhana nanti hanya Indonesia. Namun, sebagian warga masih takut menyaksikan karena khawatir mata rusak atau mengalami kebutaan setelah melihat gerhana.
Trauma pelarangan menyaksikan gerhana matahari total (GMT) 11 Juni 1983 yang terjadi di tengah Jawa, selatan Sulawesi, tenggara Maluku, dan selatan Papua sepertinya masih membekas di ingatan masyarakat. Saat itu, warga dipaksa tinggal di rumah, menutup semua lubang dan kaca yang memungkinkan sinar matahari menerobos rumah, serta bersembunyi di kolong meja dan tempat tidur. Larangan itu dikeluarkan agar warga terhindar dari kebutaan akibat terkena sinar matahari yang tergerhanai.
Jajak pendapat Litbang Kompas yang diselenggarakan 8-9 Februari 2016 pada 574 responden berusia minimal 17 tahun lewat telepon rumah menunjukkan 60,1 persen responden setuju pelarangan melihat gerhana karena bisa merusak penglihatan. Bahkan, jika pemerintah melarang melihat gerhana 9 Maret nanti, ada 71,4 persen responden akan mematuhinya.
Hasil jajak pendapat itu mengejutkan mengingat hanya 56,4 persen responden yang tahu terjadi GMT 1983. Apalagi pemilik telepon rumah identik dengan kelompok menengah atas yang terdidik. Itu menunjukkan minimnya informasi tentang gerhana yang dimiliki masyarakat, termasuk cara mengamati gerhana yang aman.
Dokter subspesialis retina mata di Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center Kedoya, Jakarta, Referano Agustiawan, Kamis (25/2), menyatakan, secara prinsip, tak ada beda antara menyaksikan matahari pada kondisi normal sehari-hari dan melihat matahari saat gerhana, baik total maupun sebagian. "Keduanya berbahaya, bisa merusak mata. Karena itu, tak disarankan melihat langsung matahari, apalagi dalam waktu lama," katanya.
Pada hari biasa, amat jarang orang menatap matahari dalam waktu lama, seperti orang tak sadar karena pengaruh obat, pasien gangguan jiwa. Saat gerhana, warga justru ingin melihat matahari langsung. Gerhana matahari tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan mata.
Retina
Mata manusia terbagi atas kelopak mata, kornea (lapisan terluar bola mata), iris (selaput pelangi), pupil (anak mata), lensa mata, dan retina (saraf mata). Manusia bisa melihat obyek apabila ada cahaya melewati kornea, diteruskan ke pupil, difokuskan lensa, dan diterima retina.
Sinar matahari berlebih yang ditangkap mata bisa merusak retina. Retina ialah lapisan terdalam di mata, berfungsi menerima cahaya dan mengantarkan ke otak untuk diolah agar membentuk bayangan atau citra.
Ibarat kamera analog, retina bekerja seperti film. Jika kita membuka kamera berisi film di tempat terbuka, film terbakar dan tak bisa dicetak. Retina mata pun terbakar jika terlalu banyak terpapar sinar matahari.
Retina ialah bagian mata terpenting. Apabila ada bagian mata lain rusak, operasi perbaikan penglihatan bisa dilakukan selama retina sehat. Sebaliknya, jika retina rusak meski bagian mata lain baik, penglihatan seseorang tak akan bisa jadi kembali normal.
Di retina, miliaran sel sensitif pada cahaya. Sel-sel itu membuat manusia bisa melihat warna dan bentuk benda. Jika sinar matahari masuk berlebihan ke retina, retina mengeluarkan zat kimia bersifat toksik yang merusak pusat retina mata atau makula.
"Kerusakan retina mata akibat menatap langsung sinar matahari dengan mata telanjang dalam waktu lama disebut solar retinopathy. Itu bisa memicu kebutaan permanen," kata Referano. Kerusakan akibat melihat matahari saat gerhana disebut solar eclipse retinopathy.
Kerusakan retina yang parah itu tak menimbulkan nyeri atau sakit karena retina tak punya saraf. Akibatnya, penderita tak sadar retinanya rusak. Gejala solar retinopathy adalah ada titik hitam pada pandangan mata.
Cahaya matahari yang merusak retina adalah sinar ultraviolet tipe B (UVB). Selain retina, UVB memicu kulit bagian luar terbakar dan kanker kulit. Makin rendah posisi lintang suatu daerah dan kian tinggi dari permukaan laut, paparan sinar UV lebih tinggi. Paparan tertinggi terjadi pukul 10.00-14.00. Meski mendung, risiko sinar UV tetap tinggi.


content
92e5849e43cc49fa8cb6ab8f7d02c7d1.gif
f5b9569aa6bc404bb10c8fb6fe26399e.gif
Dokter spesialis mata konsultan di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, Iwan Sovani dkk, dalam artikel "Gerhana Matahari dan Penglihatan Anda" menyebut masalah penglihatan akibat solar eclipse retinopathy ada satu hari sampai sebulan setelah melihat gerhana.
Gejalanya antara lain penglihatan buram dan muncul skotoma atau bayangan hitam menutupi pandangan. Selain itu, bisa terjadi metamorphopsia atau melihat garis lurus jadi bengkok dan benda jadi lebih besar atau kecil. Tanda lain ialah gangguan penglihatan warna, silau, dan sakit kepala.
Keluhan umumnya di kedua mata. Di mayoritas kasus, tajam penglihatan kembali normal dalam beberapa bulan. Sejumlah pasien mengalami kerusakan permanen berupa tajam penglihatan turun dan skotoma menetap.
Reaksi mata
Referano menambahkan, mata manusia tak bisa menerima cahaya berlebih. Saat cahaya terlalu menyilaukan, mata menyipit dan kelopak mata turun untuk mengurangi sinar yang masuk mata. Lalu, iris akan berkontraksi sehingga pupil mengecil untuk mereduksi sinar masuk ke retina.
Saat totalitas gerhana, sinar matahari tertutup sepenuhnya oleh piringan bulan, maka mata bereaksi seperti saat melihat dalam gelap. Kelopak mata membuka dan pupil melebar untuk menangkap cahaya sebanyak mungkin.
Hanya saat totalitas gerhana itu, ketika korona matahari tampak, mata bisa menatap matahari tanpa filter pengurang intensitas cahaya matahari. Pemakaian filter membuat korona tak terlihat. Korona hanya tampak saat gerhana matahari total dan kecerlangannya amat lemah sehingga aman ditatap langsung mata.
Namun, fase totalitas gerhana nanti di sejumlah tempat di Indonesia hanya 1,5-3 menit. Saat totalitas gerhana berakhir, sinar matahari bersinar terang kembali, pupil mata cenderung tetap terbuka lebar sehingga rentan menimbulkan solar retinopathy.
Pergeseran piringan bulan setelah fase totalitas gerhana terjadi perlahan, tak mendadak. Namun, perubahan cepat dalam hitungan detik itu kurang disadari pengamat yang terpesona melihat matahari. "Jadi, bukan gerhananya yang membahayakan mata, tetapi intensitas tinggi sinar matahari bisa merusak retina," ujarnya.
Kacamata gerhana
Meski melihat langsung matahari berbahaya bagi mata, gerhana matahari bisa dinikmati lebih aman dengan alat atau cara tertentu. Selain kacamata gerhana penyaring sinar UV, pemakaian kamera atau teropong dilengkapi filter khusus bisa dilakukan.
Namun, harus dipastikan jenis dan kemampuan kacamata menyaring UV. Penggunaan kacamata hitam sembarangan yang tak bisa menyaring sinar UV berbahaya karena pupil mata membesar akibat pandangan gelap dari kacamata. Konsekuensinya, paparan sinar UV ke retina kian besar.
Sementara Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menganjurkan warga yang akan melihat gerhana matahari agar memakai kacamata anti-UV. Pada sebagian orang, kerusakan makula akibat paparan sinar matahari tinggi dan lama bisa dipulihkan. Pada sebagian lain, kerusakan menetap. "Kemampuan pemulihan makula tergantung usia dan lama paparan matahari," katanya.
Meski demikian, menurut Referano, jarang ada kebutaan akibat solar retinopathy, hanya 1-2 kasus per tahun. Selain karena jumlah penderita terbatas, amat jarang orang sengaja menatap lama matahari. (ADH/MZW)

Kompas, Rabu, 2 Maret 2016