Thursday, 3 March 2016

Diskriminasi dan Jejak Sejarah Tiga Perupa Tionghoa

JAKARTA, KOMPAS — Di tengah tekanan, sejumlah perupa keturunan Tionghoa tetap mampu berkarya secara maksimal. Dengan aksentuasi artistik yang unik, mereka menorehkan jejak sejarah di dunia seni rupa Indonesia.
Tiga tokoh perupa Tionghoa legendaris yang patut diperhitungkan di jagat seni rupa Tanah Air ialah Lee Man Fong, Siauw Tik Kwie, dan Lim Wasim. "Lee Man Fong memiliki kekuatan realis yang secara harmonis bisa dipadukan dengan nuansa lukisan Tiongkok kuno," kata kurator dan dosen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, Aminudin TH Siregar, Rabu (2/3), saat dihubungi dari Jakarta.
lee man fong dan siaw tik kwie.jpg
Lee Man Fong (1913-1988) dan Siauw Tik Kwie (1913-1988)
Sementara Siauw Tik Kwie merupakan komikus andal periode 1950-an. Karena itu, teknik dan gaya lukisannya tak bisa dilepaskan dari kemahirannya menggambar komik. "Kemudian, Lim Wasim adalah pelukis istana zaman Presiden Soekarno. Lukisannya naturalis, seperti karya Dullah dan Basoeki Abdullah," ucap Aminudin.
Dari tiga orang tersebut, Lee Man Fong paling menonjol. Dalam lukisannya, ia dinilai berhasil memadukan aksentuasi Tionghoa dengan tema-tema keseharian Indonesia. Teknik dan nuansa yang dikembangkan Lee Man Fong sangat bergaya Tionghoa, tetapi realitas empiriknya bertema Indonesia. "Lukisannya menyiratkan akulturasi dua budaya. Ini merupakan ciri khas dan kekuatan lukisan Lee Man Fong yang tidak ada tandingannya di Indonesia," kata Aminudin.
Pengamat seni, Agus Dermawan T, dalam buku Melipat Air: Jurus Budaya Pendekar Tionghoa: Lee Man Fong, Siauw Tik Kwie, dan Lim Wasim memaparkan perjuangan Lee Man Fong. Dalam buku yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (2016) itu diungkap bagaimana Lee Man Fong mendirikan biro reklame dan ditangkap oleh militer Jepang.
Ia juga mendapat beasiswa studi ke Belanda, mendirikan organisasi seni Yin (Indonesia) Hua (Tionghoa), dan dipercaya Soekarno sebagai pelukis Istana Presiden. "Anehnya, dalam waktu lama Lee Man Fong tetap dianggap sebagai orang asing sehingga diskriminasi nyaris selalu mengakrabinya," kata Agus.
Karena trauma dan dianggap Soekarnois, pertengahan 1967, Lee Man Fong meninggalkan rumahnya di Jakarta. Ia kemudian tinggal di Singapura.
Komikus dan pelukis istana
Perupa Tionghoa lain, Siauw Tik Kwie, justru dikenal dan sangat populer dengan karya-karya komiknya. Komik legendarisnya adalah Sie Djin Koei.
Tidak hanya seni rupa yang didalami Siauw Tik Kwie. Komikus ini juga menekuni dunia penulisan dan pemikiran. Ia bahkan menerjemahkan buku psikologi Jawa karya mistikus Yogyakarta, Ki Ageng Suryomentaram, dan menjadi guru spiritual.
Sementara Lim Wasim yang pernah belajar di Central Institute of Fine Art Beijing pada 1950-1956 merupakan asisten Lee Man Fong di Istana Presiden. Ia bertugas merestorasi dan merawat benda-benda seni koleksi Istana.
Sama dengan perupa-perupa Tionghoa lainnya, setelah peristiwa 1965, kiprah seni Lim Wasim hanyut dalam gelombang diskriminasi. (ABK)
Kompas, Kamis, 3 Maret 2016