Thursday, 18 February 2016

Wingko Babat, Berkah Sejarah Kejayaan KA

Oleh ALOYSIUS B KURNIAWAN
Sejak perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS membuka jalur kereta api Surabaya-Semarang pada 1900-1924, Babat menjadi salah satu daerah penting di pelintasan kereta api sisi utara Jawa. Berkat akses yang terbuka, kue wingko khas Babat pun melegenda hingga Semarang.
Wingko memang lebih banyak dikenal di Semarang daripada di kota asalnya, Babat, Lamongan, Jawa Timur. Hal ini bisa terjadi tidak lepas dari "perjalanan panjangnya" menuju Semarang menjelang kemerdekaan RI.
Catatan artikel harian Kompas, 26 Mei 2003, memaparkan, di tengah suasana perang sekitar 1944, wanita asal Babat, Loe Lan Hwa, bersama suaminya, The Ek Tjong, dan dua anaknya mengungsi dari kota kecil Babat ke Semarang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di Semarang, Loe Lan Hwa meneruskan usaha keluarganya di Babat, membuat kue wingko, yang diperolehnya dari ibunya, Djoa Kiet Nio, dan ayahnya, Loe Soe Siang.
Di Stasiun Tawang, Semarang, Loe Lan Hwa menjajakan kue wingko kepada setiap penumpang KA yang singgah. Banyak orang menyukainya dan lambat laun wingko buatannya semakin populer sebagai penganan khas Semarang. Ia pun menamainya wingko babat, sesuai daerah asalnya, dengan merek Cap Kereta Api.
"Pionir wingko di Babat adalah Loe Soe Siang (ayah Loe Lan Hwa) dan Loe Lan Ing. Sejarah perjalanan anak Loe Soe Siang ke Semarang dan meneruskan tradisi pembuatan wingko di Semarang tidak lepas dari peranan KA. Saat itu, KA adalah moda transportasi utama. Di Semarang, wingko akhirnya terkenal meski di daerahnya sendiri malah kurang terkenal," kata budayawan Lamongan, Viddy AD Daery, Kamis (18/2).
Terhubung ke tengah
Selain berada di jalur utama KA lintas utara Jawa, Babat pernah tersambung dengan Stasiun Jombang Kota ketika Perusahaan KA Babat-Djombang Stoomtram-Maatschappij (BDSM) membuka jalur KA Jombang Kota-Ploso, Ploso-Ngimbang, Ngimbang-Bluluk, dan Bluluk-Babat pada 1899-1902.
"Dilihat dari jalur KA yang dibangun dan dioperasikan, dapat dikatakan BDSM memiliki aset yang strategis karena jalur Babat-Jombang menjadi penghubung antara dua ruas jalur KA utama. Keduanya ialah jalur lintas tengah Surabaya-Yogyakarta melalui Jombang yang dioperasikan Staats Spoorwegen (SS) serta jalur lintas utara Surabaya-Semarang melalui Babat yang dikelola NIS," ucap Ketua Komunitas Kereta Anak Bangsa Aditya Dwi Laksana.
Setelah dibuka, jalur KA Babat-Jombang Kota sepanjang 68,3 kilometer dimanfaatkan untuk mengangkut tebu, gula, dan kayu. Di sepanjang jalur itu terdapat beberapa pabrik gula (PG), seperti PG Djombang, PG Ponen, dan PG Ngelom.
Selain menopang angkutan barang, kereta api uap Babat- Jombang Kota juga melayani masyarakat sekitar untuk mengangkut barang-barang dagangan mereka. Sebagian di antaranya juga memanfaatkan kereta untuk berwisata.
Saat jalur ini dibangun, BDSM menemui permasalahan konstruksi di sekitar Ngimbang. Di lokasi ini, rel harus menyeberangi rawa gambut. Akibatnya, setiap kali tanggul baru dibangun, tanggul itu langsung tenggelam menghilang ke dalam rawa.
Karena itu, pada masa pembangunan tahun 1903, dibutuhkan banyak pasir untuk menstabilkan lereng-lereng gambut di kawasan tersebut. Sebanyak 416 kereta pengangkut pasir diperlukan untuk mewujudkan proyek itu.
Jumlah pasir untuk menguruk jalur ini mencapai 15.000 ton. Pada 1904, akhirnya jalur KA di rawa-rawa tersebut mulai stabil dan bisa dilalui.
Saat jalur Jombang Kota-Babat masih beroperasi, Sri Wulandari (78), warga Jombang, mengaku sering naik KA uap menuju Stasiun Ploso, Ngimbang, Bluluk, Babat, bahkan Tuban. "Masih ingat benar suara keretanya, juk... ujuk... ujuk. Harga tiketnya sangat murah, bahkan kadang naik saja tanpa bayar. Saya sering main ke Ploso untuk mencari salak dan durian, lalu pulang lagi naik KA," kenangnya.
Berubah jadi pasar
Sekarang, kondisi Stasiun Jombang Kota sangat memprihatinkan. Stasiun yang berhenti beroperasi sejak 1981 itu berubah menjadi Pasar Legi Implasemen sejak 23 tahun lalu.
Para pedagang pisang memanfaatkan bagian dalam dan luar Stasiun Jombang Kota untuk berjualan. Di bagian belakang stasiun terdapat jalan raya, sementara di bagian depan ada banyak lapak pedagang.
Menurut Sri, dulu Stasiun Jombang Kota memiliki tiga hingga empat jalur rel. Sebagian di antaranya digunakan untuk langsiran.
Dari arah Stasiun Jombang Kota, sisa jalur rel masih terlihat keluar dari Jalan Seroja, kemudian belok kanan menyeberangi Jalan KH Abdul Wahab menuju arah Ploso. Posisi rel kemudian sejajar dengan jalan dan selokan. Sebagian di antaranya masih terlihat utuh.
Kemudian, begitu melintas di atas Sungai Brantas, bagian jembatan KA sudah hilang dan tinggal tersisa enam kaki-kaki fondasinya. Empat kaki fondasi terendam di sungai, sedangkan dua kaki lagi di pinggir kali menyatu dengan rumah penduduk di Dusun Ngelom, Rejoagung, Kecamatan Ploso, Jombang.
BDSM merugi
Meski berada di jalur strategis, pengelolaan jalur KA Jombang Kota-Babat oleh BDSM mulai merugi setelah 20 tahun berjalan. Untuk menutup kerugian, pada 1903, BDSM menyewakan sebagian asetnya kepada NIS selama 15 tahun dengan nilai kontrak 250.000 gulden.
"NIS sempat mengutarakan maksudnya untuk membeli BDSM, tetapi tidak pernah terealisasikan karena nilai yang ditawarkan tak kunjung disepakati BDSM," ujar Aditya.
Akhirnya, pada 1916, SS membeli BDSM dengan harga yang cukup fantastis, yakni 2 juta gulden. Dana pembelian ini tidak pernah dapat dikembalikan alias tidak balik modal selama pengelolaan jalur dilakukan oleh SS.
Pasca kemerdekaan RI, jalur KA Jombang Kota-Babat masih beroperasi. SS melimpahkan pengelolaannya ke Djawatan Kereta Api (sekarang PT Kereta Api Indonesia) hingga kemudian ditutup pada 1981.
Penutupan jalur ini bersamaan dengan matinya jalur-jalur lintas cabang KA Indonesia lainnya. Mulai tumbuhnya moda transportasi jalan raya mengakibatkan arus penumpang dan angkutan KA semakin sepi.
Sejak konsesi pengusahaan transportasi KA Hindia Belanda disetujui oleh Pemerintah Kerajaan Belanda untuk diberikan kepada perusahaan-perusahaan KA swasta, di Hindia Belanda muncul 18 perusahaan KA swasta. Perusahaan-perusahaan ini mendapatkan konsesi mengelola ribuan kilometer jaringan KA di empat pulau, yaitu Jawa, Sumatera, Madura, dan Sulawesi.
Kini, pengelolaan transportasi KA dalam negeri tak lagi seramai dulu. Seiring dimulainya pembangunan jalur-jalur transportasi KA baru dan moda transportasi berbasis kereta lainnya, gairah perkembangan transportasi KA diharapkan bangkit kembali.

Kompas, Jumat, 19 Februari 2016

Wednesday, 17 February 2016

Kalijodo: Dari Era Tjong Wie sampai Azis

Oleh WINDORO ADI
Tjong Wie Pien atau Tjong Wie. Pada era 1955, ia paling dikenal sebagai pemilik rumah bordil paling kaya di kawasan Kalijodo, sisi Jakarta Barat.
Pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2). Pemerintah melalui Kementerian Sosial menawarkan solusi pemberdayaan dengan pelatihan keterampilan bagi para PSK terkait rencana penataan Kalijodo dan relokasi warganya.
Pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2). Pemerintah melalui Kementerian Sosial menawarkan solusi pemberdayaan dengan pelatihan keterampilan bagi para PSK terkait rencana penataan Kalijodo dan relokasi warganya. (Kompas/Raditya Helabumi)
"Kalau ada orang bilang, 'Yuk ke rumah Tjong Wie', atau 'Yuk ke atas', artinya orang tersebut mengajak orang lain ke suhian (dari bahasa Hokkian, artinya rumah bersenang senang atau rumah bordil) milik Tjong Wie," jelas Reginal alias Ceceng (67) saat ditemui di rumahnya di dekat Kalijodo, Rabu (17/2) sore.
Tentang istilah "ke atas", Ceceng menjelaskan, dulu pangkalan pekerja seks komersial (PSK) ada di sekitar Jembatan Dua, di Jalan Tubagus Angke, yang sekarang jadi pasar. "Kala itu, permukaan tanah di Jembatan Dua lebih rendah daripada permukaan tanah di Kalijodo. Kalijodo masih berupa bukit kecil," ujarnya.
Hidung belang memilih para PSK di Jembatan Dua, lalu membawa PSK pilihannya "ke atas", menyewa kamar di rumah bordil. PSK-nya kio seng (peranakan Tionghoa-ayah Tionghoa, ibu pribumi) semua. Sebagian mereka berasal dari Tangerang dan sebagian lain di sekitar kawasan Tubagus Angke. Mereka biasanya duduk di empat bangku panjang mengelilingi meja kayu di tepi jalan.
Di atas meja disajikan botol-botol minuman keras seperti bir cap Nori dan Ciu (arak) Wi Seng, kacang goreng, emping, dan kuaci. "Kalo dah cocok dibawa dah tu cabo ( perempuan) ke atas, ke rumah Tjong Wie," jelas Ceceng.
Petromaks
Di antara beberapa rumah bordil di Kalijodo, rumah Tjong Wie dianggap paling mentereng. "Cuma dia yang penerangan rumahnya sudah memakai diesel.Suhian suhian lain masih memakai lampu petromaks (lampu pompa berbahan bakar minyak tanah). Sebagian kecil suhian pakai lampu tempel," tutur Ceceng.
Semua rumah bordil kala itu terdiri atas tembok di bagian bawah dan papan di bagian atas. Letak suhian Tjong Wie di tepi Kalijodo. Rumahnya terdiri atas tiga lantai. Bagian paling bawah untuk duduk-duduk bercengkerama. Bagian ini berada di bibir Kalijodo.
Di keremangan tempat itu, pasangan-pasangan yang dibuai asmara bisa menikmati hilir mudik biduk (perahu). Di atas biduk-biduk itu para kio sengyang kebanyakan sudah berusia rata-rata 40 tahun menyanyi lagu mandarin, mencari jodoh. Lantai dua digunakan sebagai rumah makan, sedangkan lantai tiga yang tingginya sama dengan badan jalan terdiri atas kamar-kamar.
"Umumnya para tamu yang sudah mengambil PSK dari Jembatan Dua begitu tiba di rumah Tjong Wie langsung masuk kamar. Dari sana mereka duduk-duduk di pelataran lantai satu di bibir sungai, lalu naik ke lantai dua untuk makan," papar Ceceng.
Sayang, ketika itu usia Ceceng baru 6 tahun, sedangkan Tjong Wie kala itu berusia 45 tahun. "Jadi, saya enggak tahu tentang skandal asmara dan rumah tangga Tjong Wie," ujar Ceceng. Yang jelas Tjong Wie punya banyak simpanan. Salah satu simpanannya bernama Nagin. Perempuan Cina Benteng, Tangerang, ini menjadi kembang Kalijodo,
Ceceng mengaku biasa ke Kalijodo bersama ayahnya hanya untuk mencari udara segar sambil menikmati nyanyian para kio seng. Ayah Ceceng, Kwee Tjin Siu, adalah bandar besar opium di Pejagalan, Jakarta Barat. Tak heran jika setiap ayah dan anak ini datang dengan mobil jip tanpa kap, disambut ramai para centeng dan mandor.
Seingat Ceceng, Tjong Wie merupakan orang pertama yang mendirikan rumah bordil di Kalijodo. "Dari sejak tujuh biduk para kio seng masih ada di Kalijodo sampai enggak ada lagi," ujar Ceceng.
Dari Asman ke Azis
Menurut warga Kalijodo, Daeng Abu Bakar (67), setelah Tjong Wie dan orang-orang Tionghoa pemilik rumah bordil lainnya mundur, orang-orang Banten, Mandar, dan Bugis yang tinggal di sekitar Luar Batang, Muara Angke, Jakarta Utara, mengambil alih.
Di era Tjong Wie, setiap pemilik rumah bordil di Kalijodo berilmu bela diri tinggi. Tradisi centeng, mandor, dan kekerasan baru muncul awal tahun 1980-an, yaitu ketika muncul nama Asman asal Mandar, Sulawesi Selatan, menguasai bisnis prostitusi dan judi di Kalijodo.
Abu mengatakan, karena dikenal gesit, tak banyak bicara, dan kejam, "pasukan" Asman yang dipimpin Arkan Malik ini disebut "Anak Macan".
Ketika itu, lanjut Abu, Daeng Abdul Azis asal Makassar belum memiliki "pasukan". Roda usaha rumah judi dan rumah bordil Azis cuma digerakkan para pria penganggur saja sampai akhirnya terjadi pertikaian di antara kelompok Azis dan kelompok Asman.
Setelah Asman mundur dari Kalijodo, lanjut Abu, Azis mengendalikan hampir seluruh bisnis bir di Kalijodo sisi Penjaringan, Jakarta Utara.
41ee90fa724d4ba0bd1f463f4743afec.jpg
Hunian warga yang berdempetan di kawasan Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2). Selain tempat hiburan malam dan prostitusi, banyak warga yang tinggal di sana menggantungkan hidupnya dengan membuka warung dan toko kecil serta pekerjaan informal lain seperti buruh dan sopir taksi. (Kompas/Raditya Helabumi)
1911434photostudio-1455711071219780x390.jpg
Deretan kafe berdiri di Jalan Inspeksi Banjir Kanal Barat (BKB), di Kalijodo, Jakarta Utara. Rabu (17/2/2016). (Kompas.com/Robertus Belarminus)
Kompas, Kamis, 18 Februari 2016

Kegalauan Makhluk di Bawah Matahari

Saat piringan Bulan beringsut menutupi Matahari, sinar surya yang gagah perlahan meredup. Langit biru memudar, berganti remang cahaya abu-abu hingga kegelapan penuh, bak malam pekat mahaluas. Turunnya temperatur udara mendadak di siang bolong itu menambah syahdu suasana, saat gerhana matahari total tiba.

Gerhana dan Dendam Abadi Raksasa Rau

Setiap kali gerhana terjadi, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan, masyarakat sejumlah etnis di Nusantara selalu mengingat Rau, Rahu, atau Batara Kala. Sosok raksasa penelan matahari atau bulan itu selalu menjadi "kambing hitam" atas kegelapan sesaat yang terjadi. Meski mitos itu telah ditinggalkan sebagian besar masyarakat seiring berkembangnya pengetahuan dan kemampuan berpikir rasional, cerita tentang raksasa pendendam itu tetap abadi dalam ingatan rakyat.
Syahdan, hiduplah raksasa bernama Rau di Pulau Bangka. Sang raksasa ingin mempersunting salah satu dewi di kahyangan sana. Namun, hasrat Rau itu ditolak sang Dewi. Dari sana kisah bermula.
Tak terima penolakan itu, Rau berusaha memaksa sang Dewi. Dewa Surya (Matahari) dan Dewa Candra (Bulan) yang tak suka pemaksaan itu mengadukan Rau kepada Dewa Wisnu.
Wisnu akhirnya menghukum Rau. Ia memanah leher sang raksasa hingga terputus dari badan. Kepala Rau jatuh, masuk dalam Telaga Amerta berisikan air suci untuk keabadian para dewa. Adapun badan Rau seketika mati dan jatuh ke tanah.
Penghukuman itu membuat Rau marah. Kepala raksasa yang telah abadi berkat air suci pun terus berusaha mengejar sang Dewi idamannya. "Bulan dan Matahari menjadi tempat persembunyian sang Dewi sehingga Rau selalu berusaha memakan Bulan atau Matahari agar sang Dewi muncul dan terjadilah gerhana," kata Akhmad Elvian, sejarawan Bangka, pekan lalu.
Mitos Rau merupakan pengaruh budaya Hindu yang masuk Pulau Bangka sejak abad ketiga Masehi. Berabad-abad itu pula, Rau "menghantui" warga Bangka. Untuk mengusir sang raksasa, masyarakat biasa membuat keributan dan kegaduhan, memukul bermacam benda.
"Sampai gerhana matahari total 18 Maret 1988 yang melintasi Bangka, orang-orang masih ketakutan. Sebagian orang lari ke hutan, sedangkan sebagian lain bersembunyi di kolong ranjang," ujar Elvian, yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung.
Cerita rakyat yang hidup di Pulau Bangka berbeda sedikit dengan cerita aslinya dari India. Menurut Elvian, Rau yang disebut Rahu hendak mencuri resep keabadian para dewa di kolam Tirta Amerta agar ia bisa abadi seperti para dewa.
Mengetahui ulah Rahu, Dewa Surya dan Dewa Candra pun mengadukannya kepada Dewa Wisnu. Ketika itu, Rahu sedang meminum air suci untuk mengubah wujudnya menjadi dewa.
Wisnu yang marah pun menghukum Rahu dengan memenggal kepalanya menggunakan Cakra, pusaka miliknya. "Kepala Rahu yang terpenggal masuk ke kolam Tirta Amerta sehingga bertahan hidup dan abadi. Kepala itu mengembara di langit dan selalu mengejar dan memakan Dewa Surya dan Candra," katanya.
Di Jawa, Rau disebut sebagai Batara Kala. Meski demikian, dalam naskah Jawa Kuno Adiparwa berangka tahun 998 Masehi yang diduga sebagai naskah tertua di Tanah Air yang menceritakan mitologi gerhana, sang raksasa pemakan matahari atau bulan itu tidak bernama. Tidak disebut sebagai Rau, Rahu, ataupun Batara Kala.
Dalam Bab VI Adiparwa disebutkan, seorang raksasa yang merupakan anak Sang Wipracitti dan Sang Singhika berubah wujud menjadi dewa dengan meminum air amerta. Sang Hyang Aditya (Dewa Matahari) dan Sang Hyang Candra (Dewa Bulan) yang mengetahui ulah sang raksasa pun mengadukannya kepada Dewa Wisnu.
Sewaktu air amerta memasuki kerongkongan raksasa, Dewa Wisnu memenggal lehernya. Badan raksasa yang belum terkena air amerta mati dan jatuh ke tanah, teronggok bagai puncak gunung. Saat tubuh raksasa itu mengempas tanah, terjadilah gempa bumi saking beratnya bangkai badan sang raksasa.
Adapun kepala raksasa tersebut abadi dan melayang-layang di angkasa karena tersiram kesucian air amerta. Dalam keabadian itu, kepala raksasa menaruh dendam kepada Dewa Matahari dan Dewa Bulan sehingga selalu berusaha memakan Matahari dan Bulan.
Meski alur cerita Rau, Rahu, ataupun Batara Kala sedikit berbeda, akhir ceritanya sama. Gara-gara Dewa Matahari dan Bulan, sang raksasa gagal meraih keabadian. Karena itu, saat menjumpai Matahari dan Bulan, sang raksasa selalu ingin mencaploknya dan terjadilah gerhana.
Mitologi Dayak
Berbeda dengan mitologi gerhana di Bangka dan Jawa, masyarakat Dayak percaya, ketika gerhana matahari, Matahari dikuasai Jangkarang Matan Andau, manifestasi dari Hyang Ilahi. Gerhana adalah pertanda dari Jangkarang Matan Andau bagi keberlangsungan hidup manusia pada masa datang.
"Jika gerhana matahari terjadi pagi hari atau subuh, itu pertanda bagi mereka yang berusia muda, mulai dari baru lahir hingga usia dewasa, akan memperoleh terang kehidupan. Pada pagi hari terdapat kesegaran, kesejukan, dan kesehatan," kata Bajik Rubuh Simpei, rohaniwan Hindu Kaharingan, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Selanjutnya, apabila gerhana terjadi siang hari, perlu diwaspadai akan terjadi bencana atau gejolak di kemudian hari. Sifat siang hari yang panas rentan menimbulkan gejolak yang harus diantisipasi pada masa depan. Jika gerhana matahari terjadi sore hari, masyarakat Dayak meyakini pada masa mendatang akan damai, aman, dan penuh berkat.
"Segala tanda dari fenomena alam itu untuk mendorong manusia mawas diri dan berhati-hati menghadapi masa depan," katanya.
Saat terjadi gerhana, puji-pujian pun dihaturkan melalui upacara adat oleh balian (dukun) dengan mendaraskan mantra dan doa dalam bahasa Sangiang atau bahasa leluhur. Ritual itu untuk menjaga keseimbangan alam semesta sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan.
"Yang penting diingat adalah alam telah membantu dan mendampingi manusia, tinggal bagaimana manusia melestarikan dan terus hidup berdampingan dengan alam," ujar Bajik.
Sementara itu, Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kota Palangkaraya Prada mengatakan, saat gerhana matahari tiba, terdapat energi negatif yang harus dihalau manusia. Karena itu, saat gerhana, remaja biasanya keluar rumah sambil menutupi kepalanya dengan wajan agar rambutnya tidak segera beruban.
Selain itu, dibunyikan juga gong, gendang, atau tabuh-tabuhan lain untuk mengusir energi negatif itu.
ecd5bb0a7adf45c190fb719847796b1c.jpg
Warga berkeliling menabuh perangkat musik patrol di kawasan persimpangan Gondomanan, Yogyakarta, saat gerhana matahari total 11 Juni 1983.(Kompas/Kartono Ryadi)
Berbagai mitos gerhana yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Nusantara itu memang telah banyak ditinggalkan seiring meningkatnya pengetahuan gerhana dan berpikir rasional. Meski cerita itu tidak akan terungkap kebenarannya, mitos tetap bisa mewarnai, melengkapi, dan memperkaya daya pikir manusia Indonesia. (RAZ/DKA/NAW)
Kompas, Rabu, 17 Februari 2016

Ajang Pembuktian Teori Relativitas Einstein

Teori relativitas umum yang dikemukakan fisikawan besar Albert Einstein tahun 1915 telah mengubah cara pandang manusia tentang diri dan semestanya. Keberhasilan sejumlah uji yang dilakukan sesudahnya oleh ilmuwan dari seluruh dunia makin mengukuhkan ketepatan teori itu dan melambungkan kegeniusan Einstein.
dd2f0200ca6d41a1a1e9d2adaae8bfae.jpg
Tim peneliti asal Amerika Serikat, dengan peralatan modern seberat 6 ton, bersiap mengamati gerhana matahari total di Pantai Tanjung Kodok, Lamongan, Jawa Timur, awal Juni 1983. Pada saat ada larangan pemerintah bagi warga agar tidak beraktivitas di luar rumah saat gerhana matahari total 11 Juni 1983, para peneliti asing justru berbondong "menyerbu" Pulau Jawa untuk mengamati fenomena alam tersebut.(Kompas/Ninok Leksono)
Salah satu implikasi yang diprediksi teori relativitas umum Einstein adalah pembelokan cahaya bintang oleh benda bermassa besar. Gravitasi benda bermassa besar itu juga akan melengkungkan ruang dan waktu di sekitarnya. Cahaya yang melintasi ruang dan waktu yang melengkung itu juga akan berbelok mengikuti kelengkungan ruang dan waktu yang dilaluinya. Konsekuensinya, pembelokan cahaya di dekat benda bermassa besar akan kian lebar.
Sejak dikemukakan Einstein, teori relativitas umum tersebut menarik banyak ahli membuktikannya. Meskipun demikian, proses pembuktian pembelokan cahaya bintang oleh gravitasi itu sudah dilakukan jauh sebelum Einstein menyampaikan teorinya.
Peneliti astronomi dan astrofisika pada Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Rhorom Priyatikanto, Selasa (16/2), mengatakan, pembelokan cahaya bintang oleh gravitasi suatu benda sebenarnya sudah diprediksi berdasar teori Newton yang dikemukakan Isaac Newton sejak akhir abad ke-17.
Salah satu penghitungan pembelokan cahaya bintang menggunakan teori Newton dilakukan Johann Georg von Soldner pada 1801. Hasilnya, cahaya bintang di dekat piringan Matahari mengalami pembelokan sebesar 0,87 detik busur. Pembelokan sekecil itu setara lebar uang logam Rp 500 yang dilihat dari jarak 6 kilometer. Dengan teknologi saat itu, pembelokan sekecil itu sulit dibuktikan.
Perhitungan Einstein pada 1915 menggunakan teori relativitas umum menghasilkan pembelokan cahaya bintang di sekitar Matahari 1,74 detik busur atau dua kali perhitungan Soldner. Pembelokan lebih besar itu memudahkan mengukurnya sehingga bisa dibuktikan teori siapa yang lebih tepat memprediksi pembelokan cahaya bintang: Newton atau Einstein.
Perhitungan Einstein itu memancing sejumlah ahli untuk membuktikannya. Salah satunya fisikawan asal Cambridge, Inggris, Arthur Eddington. Sejak 1916, ia merancang proses pembuktian dengan menghitung pembelokan bintang di sekitar Matahari saat gerhana matahari total (GMT) pada 29 Mei 1919.
"Matahari dipilih sebagai benda yang membelokkan cahaya bintang karena Matahari benda terbesar dan termasif di tata surya," kata peneliti astronomi dan astrofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Rukman Nugraha.
GMT dipilih sebagai momentum penghitungan karena saat tak terjadi gerhana, cahaya bintang di belakang Matahari tidak bisa dilihat, terkalahkan terangnya sinar Matahari. Karena itu, GMT satu-satunya cara melihat pembelokan cahaya bintang di sekitar Matahari karena selama GMT, sesaat siang berubah jadi malam sehingga bintang-bintang di sekitar Matahari terlihat.
Citra langit di belakang Matahari yang dipotret saat GMT berlangsung akan dibandingkan dengan citra langit di areal yang sama saat tidak ada Matahari. Biasanya, citra langit di lokasi yang sama itu dipotret dengan jeda enam bulan sebelum atau sesudah GMT terjadi.
GMT pada 29 Mei 1919 yang dijadikan obyek penelitian Eddington melihat pembelokan cahaya bintang itu melintasi Brasil, Samudra Atlantik, dan berakhir di Afrika Barat. Eddington bersama rekannya, Frank Dyson, mengamati GMT di Pulau Principe, Afrika Barat.
Saat gerhana, Matahari tepat di depan gugus bintang Hyades di bagian kepala rasi Taurus.
Meski sempat terkendala akibat Perang Dunia I, Eddington dan Dyson berhasil mengambil citra langit saat GMT. Dengan membandingkan citra langit di arah yang sama beberapa waktu kemudian, Eddington mengukur pembelokan bintang-bintang di gugus Hyades sebesar 1,61 detik busur. Hasil yang mendekati perhitungan Einstein itu membuktikan teori Einstein-lah yang lebih tepat menjelaskan fenomena pembelokan cahaya bintang oleh benda bermassa besar.
Relevansi
Pembuktian pembelokan cahaya bintang berdasar teori relativitas umum itu tidak hanya dilakukan Eddinton dan Dyson. Sejumlah penelitian dilakukan setelah itu. Salah satunya, pembuktian astronom Jerman, Erwin F Freundlich, saat mengamati GMT 9 Mei 1929 di Takengon, Aceh.
Karena beberapa kali dibuktikan, Rhorom menilai pengukuran pembelokan cahaya bintang saat GMT 9 Maret 2016 kurang punya arti istimewa secara saintifik. "Namun, secara historis tetap menarik," katanya.
Tim peneliti Lapan akan menghitung pembelokan cahaya bintang saat GMT di Ternate, Maluku Utara. Rukman menilai, pengukuran pembelokan cahaya bintang saat GMT masih relevan. Bukan semata mengukuhkan teori relativitas umum, melainkan juga wadah edukasi. (MZW)
Kompas, Rabu, 17 Februari 2016

Monday, 15 February 2016

Sarapan Bisa Meningkatkan Konsentrasi pada Anak

JAKARTA, KOMPAS — Kebiasaan menunda dan melewatkan sarapan masih dilakukan sebagian anak di Indonesia. Itu bisa menyebabkan kecukupan gizi tak terpenuhi sehingga anak menjadi tak bersemangat dan mengalami gangguan konsentrasi.
Dokter spesialis anak, Yoga Devaera, mengatakan, melewatkan sarapan paling berdampak pada kurangnya konsentrasi anak di kelas. Mereka juga cenderung kurang bertenaga saat beraktivitas di dalam dan luar kelas.
"Saat sulit konsentrasi, anak tak maksimal dalam kegiatan belajar-mengajar. Apalagi saat pelajaran olahraga, anak akan mudah lelah karena melewatkan sarapan," kata Yoga pada jumpa pers di Jakarta, Sabtu (13/2). Sarapan berkontribusi 15-35 persen dari kebutuhan energi per hari. Anak berusia 6-12 tahun butuh 1.800-2.200 kilokalori.
Riset yang dilakukan dokter spesialis anak, I Gusti Lanang dan Putu Ayu Widyanti, dalam artikel Breakfast Habit and Academic Performance Among Suburban Elementary School Children pada 2013, menunjukkan, sebanyak 51,7 persen siswa SD usia 6-12 tahun yang biasa sarapan sebelum berangkat sekolah punya nilai rapor 4,5 kali lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tak biasa sarapan.
"Jika kebiasaan mengabaikan sarapan hampir setiap hari, apalagi hanya asal kenyang dan tidak bergizi lengkap, itu amat berpengaruh pada prestasi akademik anak," kata Yoga. Di Indonesia, banyak anak terbiasa sarapan pada waktu istirahat. Batas waktu sarapan ideal ialah pukul 09.00.
Jika kebiasaan mengabaikan sarapan berlanjut hingga dewasa, sistem pencernaan bisa terganggu, bahkan kena diabetes melitus dan gangguan jantung. Jadi, kebiasaan sarapan dengan gizi seimbang perlu diperhatikan.
Menurut Regional Nutrition and External Manager Cereal Partners Worldwide (CPW) Asia-Middle East-Africa Ece Durukan, orangtua harus memperhatikan gizi pada menu sarapan. Misalnya, sayur, buah, makanan berserat, dan mengandung protein, baik dari hewani maupun nabati. (C07)
Kompas, Selasa, 16 Februari 2016

Antusiasme Spiritual

Oleh KURNIA JR
Menurut kronik, pada 1 Oktober 527 Masehi Kaisar  Liang Wudi-penganut Buddhisme yang antusias-mengundang Bodhidharma, pemimpin Zen India ke-28, yang baru tiba di negerinya, ke ibu kota kerajaan di Nanjing.
Sang Kaisar gemar mengenakan busana Buddhis dan melantunkan tembang Buddhis. Ia juga vegetarian. Kepada sang guru, dia mengajukan satu pertanyaan: "Sejak naik takhta, saya telah membangun banyak kuil, menyalin banyak naskah, dan menyokong kehidupan banyak biksu dan biksuni. Apa kebajikan dari semua ini?"
"Tak ada kebajikannya," jawab Bodhidharma, "Apa yang Anda lakukan hanyalah kegiatan duniawi dan tidak bisa dianggap sebagai pahala sejati. Kebajikan sejati terdiri dari kesadaran murni, indah, dan sempurna. Intinya adalah kekosongan. Seseorang tidak bisa mendapatkan kesejatian dengan cara-cara duniawi."
Antusiasme spiritual sang Kaisar, amal perbuatannya, juga pertanyaannya kerap kita dapati di sekitar kita. Mereka adalah penganut agama yang secara lahiriah taat, termasuk juru dakwah dan ustaz. Para dai rata-rata memiliki komunitas, pesantren, ataupun gedung dakwah sendiri, dengan para donatur yang loyal. Kita akan berpikir seperti sang Kaisar, bahwa mereka pantas menuntut pahala sejati.
Sementara itu, ada cerita lain. Ada seorang pria yang antusias meniti jalan spiritual. Pada suatu hari, Nabi Khidir menemui dia untuk memberi bimbingan. Dia diajak ke dua tempat. Mula-mula ke tempat orang-orang yang sengsara. Kemudian ke tempat orang-orang yang senang dan bahagia. Di setiap tempat itu dia berdialog dengan para penghuninya perihal kebenaran. Dia menyimpulkan bahwa kebahagiaan sama dengan kebenaran. Cara pandang itu membuat hatinya gelisah. Dia pun mengadu kepada sang pembimbing.
"Itu lantaran engkau telah menjadi pendusta," kata Khidir. "Engkau telah diberi kesempatan yang, kalau mau, engkau akan mencapai kebenaran. Yang kau kejar malah kepuasan pribadi."
"Kalau aku salah jalan, kenapa aku bertemu dengan Anda, yang tak sembarang orang bisa?"
Khidir menjelaskan, "Ketika engkau bersikap teguh mengarahkan pandangan pada kebenaran demi kebenaran itu sendiri, aku pun punya alasan untuk hadir memberikan bimbingan."
Alkisah, sang murid sadar. Ia kembali dikuasai hasrat awal menemukan kebenaran walau itu bakal merugikan dan tak berarti dia bakal mengecap rasa bahagia. Tanpa dia sadari, tahu-tahu ia sudah berpindah tempat dari Taman (maqam) Pengetahuan ke Taman (maqam) Kebenaran.
Edukasi toleransi
Kisah-kisah ini bukan perkara umum yang mudah dan lazim. Yang kita saksikan bahkan para juru dakwah kerap terpeleset mengkhotbahkan kebenaran bukan demi kebenaran itu sendiri. Di lisan mereka, kebenaran berpihak dan berprasangka. Kita saksikan di layar TV tempo hari, warga Sungailiat, Bangka Belitung, geram terhadap jemaah Ahmadiyah di kampung mereka. Sekali lagi terjadi pengusiran terhadap yang berbeda keyakinan.
Sampai kapan kita harus menyaksikan pemerintah tak berdaya menghadapi masyarakat awam yang merasa kapabel menghakimi sikap beragama yang berbeda? Kasus berulang-ulang ini memperlihatkan pemerintah tak punya program menanggulangi konflik sektarian.
Masyarakat yang mengusir tetangga mereka tak mungkin diredam sebab mereka ibarat bidak catur di tangan tokoh agama setempat. Pemerintah perlu menyusun program edukasi toleransi bagi para tokoh masyarakat dan agama di seluruh negeri.
Sekadar contoh, ada dua buku mengenai Islam di Barat yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia: American Jihad, Islam After Malcolm X (Steven Barboza, 1993) dan Allah in the West: Islamic Movements in America and Europe (Gilles Kepel, 1997). Melihat judulnya sekilas saja mungkin orang akan merasa menyaksikan Islam yang satu, yang monolitik, yang homogen, di dunia Barat, hutan belantara materialisme dan rasionalisme.
Melihat sesuatu dari kejauhan, orang riskan terjebak ilusi yang manipulatif. Para juru dakwah dan warga masyarakat yang mengusir orang-orang berbeda keyakinan mungkin berilusi tentang satu negeri tanpa heterogenitas kepercayaan dan agama. Negeri semacam itu mustahil ada. Jika setiap kepala punya ilusi, ilusi yang satu dengan yang lain akan bertabrakan dan saling mengingkari. Tak ada yang melihat kebenaran.
Mereka memeluk mimpi itu dengan takabur, sedangkan pemerintah tak punya program untuk membangunkan mereka dari tidur. Mereka mengejar kebenaran demi kepuasan hasrat pribadi, bukan demi kebenaran itu sendiri. Mereka beranggapan kebenaran mudah diidentifikasi tanpa kehadiran-bersama-dengan- yang-lain. Mereka terjebak di labirin egoisme dan arogansi, yang menghasilkan tirani mayoritas.
Seperti Kaisar Liang Wudi, orang kaya royal menyokong program dakwah dan pembangunan masjid. Para dai giat menggelar acara zikir, tetapi tidak selalu ingat bahwa Nabi Muhammad memerintahkan dakwah yang menghargai kemajemukan dan kedamaian. Nabi menganjurkan diskusi atas perbedaan keyakinan, seperti yang dicontohkan dengan para pendeta Nasrani dari Najran. Tak ada pemaksaan.
Masyarakat kita dewasa ini terjangkiti semacam antusiasme spiritual yang bersifat kebendaan (lahiriah) melulu. Kesalehan hanya berarti rajin sembahyang dan menghadiri pengajian, royal menyumbang ke masjid/panti asuhan, tak pelit menyembelih hewan kurban, sering umrah dan berhaji. Sementara rohani mereka tak melembut, tak lapang dada menghargai hak hidup mazhab lain, yang hakikatnya merupakan hak dan urusan Allah. Bahkan, sebagian dari mereka lebih suka mematahkan ketimbang meluruskan yang dinilai bengkok.
Yang memprihatinkan, di antara orang-orang intelek, yang seharusnya menjadi panutan toleransi, justru menyimpan sentimen sektarian yang akut dan berpandangan picik terhadap perbedaan keyakinan dan bahkan ras. Pemerintah harus menunjukkan kemauan politik plus keberanian untuk menghentikan kekerasan sektarian yang terus terjadi dan mungkin akan semakin masif.
KURNIA JR
Sastrawan - Esais
Kompas, Selasa, 16 Februari 2016