Saturday, 9 May 2015

Komunikasi Dokter dan Pasien: Menuju Keberhasilan Terapi

Oleh ZUBAIRI DJOERBAN
Sebagian dokter mungkin pernah menghadapi situasi anekdotal ini: tak lama setelah pasien datang dan ditanya, "Kapan terakhir minum obat?", pasien menjawab, "Kemarin." Sepuluh menit kemudian ditanya lagi, ia akan menjawab, "Minggu lalu, Dok." Ketiga kali, pasien mulai ragu dan menjawab, "Yaah, sudah beberapa minggu lalu sebenarnya, Dok."
Pasien mungkin bermaksud menyenangkan dokternya dengan memberikan jawaban palsu. Hubungan psikologis antara dokter dan pasien kerap menyebabkan sejumlah pasien tak ingin "mengecewakan" dokternya dan memilih berbohong.
Masalah "ketidakpatuhan" (non-compliance) di dunia medis jadi penyebab utama kegagalan pengobatan beberapa penyakit yang butuh waktu panjang untuk hasil terapi terbaik. Para dokter spesialis penyakit dalam yang menangani pasien diabetes punya segudang cerita pasien yang tak teratur minum obat.
Demikian pula dengan penderita hipertensi, diabetes, lupus (SLE), tuberkulosis, ataupun orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Padahal, obat penyakit-penyakit itu tersedia, murah (obat anti TB dan antiretroviral bagi ODHA gratis untuk lini satu dan dua), serta banyak pilihan. Jika pasien tak cocok satu jenis obat karena efek sampingnya, dokter bisa memilihkan obat lain yang lebih ringan efek sampingnya.
Perilaku ketidakpatuhan masih jadi masalah besar di dunia kedokteran. Sebab, itu menimbulkan resistensi obat, meningkatkan angka morbiditas, bahkan kematian, dan menambah biaya kesehatan.
Pada TB, misalnya, terapi lini satu ialah dengan rifampisin, isoniazid, pirasinamid, dan etambutol. Sejak beberapa tahun lalu, pemerintah menyediakan obat itu secara gratis di puskesmas. Jika pasien mengonsumsi obat itu selama 6 bulan, 9 bulan, atau setahun (tergantung kasus), ia akan sembuh total dan tak menularkan basil TB ke orang lain sehingga angka infeksi baru bisa ditekan.
Kenyataannya, di Indonesia, TB jadi penyebab kematian tersering di Indonesia. Kasus TB kebal pada obat lini pertama atau multidrug-resistant TB (MDR-TB) 2 persen dari semua kasus baru. Artinya, yang ditularkan pasien putus obat ialah basil yang kebal obat lini pertama. MDR-TB juga ditemui di antara mereka yang diobati. Angkanya mencapai 20 persen.
Selain menyebabkan kuman kebal pada TB dan HIV/AIDS, putus obat menyebabkan komplikasi berat pada kasus diabetes dan hipertensi. Kerap terjadi, gagal ginjal, stroke, atau serangan jantung berakibat fatal akibat pasien tak teratur minum obat antihipertensi atau antidiabetes. Pasien lupus berhenti berobat kerap kambuh penyakitnya.

Dokter-pasien-keluarga

Hal itu terjadi karena kepatuhan lebih fokus pada apa yang harus dilakukan pasien. Dokter memastikan pasien paham keputusan yang diambil dokter itu terbaik bagi pasien. Jika putus obat, pasien satu-satunya pihak yang disalahkan. Kini, konsep ketaatan itu ditinggalkan.
Kalangan medis mulai menyadari, banyak faktor memengaruhi ketaatan pasien menggunakan obat yang diresepkan. Konsep "kepatuhan" baru menekankan keterlibatan aktif pasien serta kemitraan antara dokter, pasien, dan keluarga demi mengoptimalkan hasil terapi.
Dengan perspektif ketaatan (adherence), sikap ketidakpatuhan dilihat sebagai peluang memperbaiki pola komunikasi dokter dan pasien. Itu untuk mengetahui faktor penyebab ketidakpatuhan dan membuat rencana terapi yang disepakati bersama.
Banyak riset dilakukan untuk mengetahui penyebab perilaku ketidakpatuhan. Setelah ditanyai pertanyaan terbuka, sekitar 50 persen jawaban pasien terkait perilaku ketidakpatuhan bersifat situasional. Contohnya, lupa membawa obat saat bepergian, belum sempat menebus resep baru, atau kerabat sakit sehingga memfokuskan perhatian pada diri sendiri dianggap "egois".
Penyebab ketidakpatuhan yang kerap terjadi ialah pasien merasa sembuh sehingga berhenti mengonsumsi obat. Penyebab lain, pasien mengalami efek samping obat, seperti muntah dan gatal, yang tak disampaikan ke dokter dengan baik.
Karena itu, paradigma adherence kini lebih ditekankan. Kegagalan pasien teratur minum obat karena banyak faktor di luar dirinya. Dokter harus memastikan informasi yang diberikan dipahami pasien dan kreatif menyampaikan pesan karena setiap pasien punya cara unik memahami kondisinya.
Dokter juga perlu memahami situasi pasien dan masalah yang menghambat ketaatan pasien. Komunikasi dokter ke pasien baru berjalan baik jika pasien paham informasi dari dokter. Jadi, dokter tak boleh hanya memberi informasi tanpa mengecek apakah pasien paham.
Selain itu, kerja sama dengan keluarga pasien amat penting. Pendekatan DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dalam terapi TB adalah model baik. Selain DOTS, sebaiknya gunakan pesan pendek dan alarm di telepon seluler, atau Blackberry Messenge dan Whatsapp demi menjaga ketaatan. Komunikasi tak hanya antara dokter dan pasien, tetapi juga dengan keluarga atau siapa pun yang jadi pengingat minum obat bagi pasien.
Untuk itu, petugas kesehatan harus selalu mengajukan pertanyaan terbuka kepada pasien, yakni pertanyaan yang jawabannya tak sekadar "ya" atau "tidak" agar pasien memberikan jawaban yang elaboratif. Tenaga kesehatan mesti menjelaskan pentingnya teratur minum obat jangka panjang dan memastikan pasien paham cara minum obat serta efek sampingnya.
Pasien dianjurkan menyimpan obat dan membawanya di tas jika kerap bepergian, serta mengaitkan minum obat dengan aktivitas rutin seperti minum obat seusai sikat gigi.
Selain itu, dokter perlu berempati, misalnya menyatakan ketaatan jadi masalah banyak orang, termasuk dokter. Pasien mesti diyakinkan bahwa memperhatikan kesehatan sendiri tak berarti egois, tetapi bentuk tanggung jawab pada keluarga.
ZUBAIRI DJOERBAN
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
Kompas, Sabtu, 9 Mei 2015