Sunday, 17 May 2015

Gempa Bengkayang dari Sesar Aktif

Gempa bumi berkekuatan 4,3 skala Richter mengguncang Bengkayang, Kalimantan Barat, pada Kamis (14/5) sekitar pukul 17.25 WIB. Gempa ini dibangkitkan oleh aktivitas patahan aktif dengan pergerakan kombinasi  antara sesar turun dan mendatar.
“Kalimantan memang relatif aman dari gempa sehingga banyak yang kaget. Namun, sebenarnya ada beberapa sesar di sana dan pernah juga terjadi gempa sebelumnya,” kata Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), di Jakarta, Sabtu (16/5).
Laporan dari Pusat Gempa Bumi Nasional BMKG menyebutkan, guncangan gempa bumi ini dapat dirasakan di Bengkayang, Singkawang, dan Paloh dalam skala intensitas II-III MMI (Modified Mercalli Internsity). Pusat gempa berada di kedalaman hiposenter 11 kilometer dan episentrumnya terletak pada koordinat 0,61 Lintang Utara dan 108,86 Bujur Timur, tepatnya di laut pada jarak 33 kilometer arah barat daya Kota Singkawang.
Meskipun magnitudo gempa relatif kecil, hanya 4,2 skala Richter, guncangan yang dirasakan cukup kuat. Hal ini, menurut Daryono, selain kedalaman hiposenter yang dangkal hanya 11 kilometer, juga disebabkan kondisi tanah di sekitar lokasi relatif lunak,didominasi endapatan material aluvium dan pasir.
“Secara morfologi, memang sebagian besar zona gempa bumi ini merupakan daerah dataran rendah di kawasan pesisir. Guncangan gempa bumi telah menimbulkan proses resonansi hingga memicu terjadinya perbesaran (amplifikasi) getaran gempa bumi,” tutur Daryono.
Daryono mengatakan, melihat anatomi gelombang gempa bumi yang tercatat, tampak bahwa gempa bumi ini merupakan gempa bumi tektonik akibat aktivitas patahan aktif. “Ini terlihat jelas dari adanya waktu kedatangan dan selisih antara gelombang S dan gelombang P yang hanya beberapa detik,” katanya.
Sementara hasil analisis mekanisme sumber gempa bumi berdasarkan perangkat lunak JisWiew menunjukkan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan oleh aktivitas patahan aktif dengan pergerakan kombinasi antara sesar turun dan mendatar.
Mengacu pada penelitian Suntoko dan Sutopo (2013), Kalimantan Barat sebagian besar merupakan daerah yang terdiri atas kelurusan atau patahan tua. Di Singkawang dan Bengkayang, patahan yang ada sudah dikenali sebagai Formasi Sintang yang berumur oligosen (23 juta-30 juta tahun) berupa patahan mendatar sinistral, yaitu Patahan Adang.
Khusus untuk wilayah Kalimantan Barat, catatan gempanya juga sangat rendah. Berdasarkan data katalog gempa bumi BMKG di Kalimantan Barat baru tercatat tiga kali aktivitas gempa bumi signifikan, yaitu gempa bumi 23 Agustus 2011 (M=4,4), gempa bumi 24 Agustus 2011 (M=4,6), dan gempa bumi 24 Agustus 2011 (M=3,6). “Gempa Bengkayang  pada 14 Mei 2015 (M=4,2) merupakan gempa signifikan yang keempat di Kalimantan Barat,” katanya.
Kompas, Minggu, 17 Mei 2015