Sunday, 16 August 2015

Mencari Rekaman Asli Lagu “Indonesia Raya”

Oleh IWAN SANTOSA

kartika yo.jpg

Semua orang tahu, Wage Rudolf Supratman adalah pengarang lagu “Indonesia Raya”. Namun, di mana rekaman asli lagu tersebut, hingga kini, tak banyak yang tahu. Di antara banyak referensi yang menelusuri keberadaan rekaman asli lagu kebangsaan tersebut, salah satunya cerita yang dituturkan almarhum Des Alwi tentang pengusaha rekaman, pemilik Toko Populair, Yo Kim Tjan.

Pengusaha asal Pasar Baru, Batavia, pada 1920-an itu, disebutkan oleh Des Alwi, berhasil merekam dan menggandakan “Indonesia Raya”. Kebetulan, saat ini pemilik toko yang baru (nama toko berganti jadi Populair), Ayung, dikenal juga sahabat Des Alwi.

Meski demikian, seluk-beluk perekaman, penggandaan, dan keberadaan hasil karya revolusioner lagu “Indonesia Raya” di masa itu – ketika perlawanan komunis terhadap rezim Hindia-Belanda dipatahkan pada 1926 dan kegiatan politik dikekang penguasa Eropa – tidak diketahui lebih lanjut.

Pada Oktober 2014, Kompas mengikuti wawancara dengan Kartika Yo (91), putri Yo Kim Tjan, yang menceritakan salah satu rekaman asli berupa permainan biola dan vokal WR Supratman “dipinjam” Pemerintah Republik Indonesia, tetapi tak pernah dikembalikan. Bahkan, hingga kini tak diketahui rimbanya. Sayangnya, wawancara belum lengkap, Kartika wafat tahun lalu. Namun, Kartika sempat mengatakan, rekaman asli “Indonesia Raya” ada dua jenis yang dibuat dan dsimpan keluarganya.

Untungnya, pendiri Museum Benteng Heritage, Udaya Halim, yang aktif mengumpulkan karya budaya peranakan Tionghoa untuk Indonesia sempat merekam kesaksian Kartika. Dalam rekaman, Kartika yang menderita kanker di pita suaranya – meskipun terengah-engah, tetap penuh semangat – menceritakan riwayat perekaman dan penggandaan “Indonesia Raya” di piringan hitam.

Menurut Udaya, penjelasan Kartika yang diverifikasi dengan keterangan sejarawan dari Yayasan Nabil, Didi Kwartanada, tentang pertemanan WR Supratman – seorang yang dibesarkan dalam pendidikan Indo-Eropa – dengan Yo, “Indonesia Raya” direkam dan digandakan setahun sebelum Kongres II Pemuda, 28 Oktober 1928.

“Semula WR Supratman meminta perusahaan Odeon merekam dan menggandakannya. Namun, perusahaan asal Eropa itu menolak. Lalu, dia mendatangi Tio Tek Hong, pengusaha di Pasar Baru, yang juga punya rekaman. Lagi-lagi ditolak. Akhirnya, dia minta Yo, temannya, membantu,” kata Udaya.

Rekaman dilakukan di rumah Yo di Jalan Gunung Sahari Raya Nomor 37, dibantu teknisi berkembangsaan Jerman, yang belum diketahui namanya. Saat itu, WR Supratman bekerja sebagai wartawan lepas koran Melayu-Tionghoa, Sin Po, yang banyak bersimpati pada pergerakan Indonesia. Di berkas partitur “Indonesia Raja” (ejaan lama) dari halaman Sin Po milik Udaya – pemberian dokter Djiam, sepupu mantan menteri Mari Elka Pangestu – tertulis catatan: “…volkslied Indonesia in weeblad Sin Po van Zaterdag 10 November 1928. De componist WR Soepratman was stadreporter van Sin Po…” Artinya, lagu kebangsaan Indonesia dalam terbitan mingguan Sin Po, Sabtu, 10 November 1928, oleh komponis WR Soepratman adalah wartawan liputan perkotaan di Sin Po.

Biola dan keroncong
Di rekaman video wawancara, Kartika terlihat memeluk piringan hitam bertuliskan “Indonesia Raja” yang dimainkan Populair Orchest dan di bagian atas tertulis British Made – Electric Recording. “Ada dua jenis rekaman, yakni biola dan vokal WR Supratman dan satu lagi orkes keroncong bersama sejumlah lagu lain. Setelah direkam, Yo menyelundupkan piringan master versi keroncong ke Inggris. Di sana digandakan juga rekaman “Indonesia Raya”, katanya.

Didi mengatakan, keroncong dipilih karena jenis musik itu populer dan akrab di kelas terpelajar di Hindia-Belanda sehingga dianggap mudah untuk mengenalkannya. “Supratman juga aktif di beragam orkes. Meski dibesarkan di keluarga Indo-Eropa, identitas nasionalnya kuat karena masa itu identitas Eropa juga menguat. Tentu, kelompok lain yang tak masuk strata atas (Eropa) menguat identitasnya,” ujarnya.

Akhirnya, “Indonesia Raya” pun disembunyikan jadi bagian album keroncong Orkes Populair milik Yo. Lagu-lagu di album tersebut diselipkan di antara lagu-lagu Bodoran Dosblang I-IV, Bodoran Tjipoet I-IV, Lalakon Sarkawie I-VIII. “Indonesia Raja” Serenade Popular menjadi lagu kesembilan di piringan hitam. Lagu kesepuluh diselipkan lagi sejumlah lagu, di antaranya “Regenboog Zoeklicht” dan lagu keroncong lain. “Ini harus disimpan buat Indonesia merdeka,” kata Kartika saat mengenang pesan Supratman ke ayahnya. Rekaman dapat dilakukan di Inggris. Namun, naas, rekaman disita setiba di Pelabuhan Tanjung Priok. Hanya kepingan asli yang lolos dan diamankan keluarga besar Yo. Kepingan rekaman asli biola dan vokal Supratman kemudian dioplos dengan kepingan piringan hitam kosong yang belum digunakan agar lolos dari Belanda.

Keping salinan rekaman asli juga disembunyikan Kartika saat mengungsi bersama keluarganya ketika Jepang mendarat. Mereka mengungsi ke Karawang hingga Garut. Kartika yang masih remaja kebagian tugas mengamankan rekaman “Indonesia Raya” versi biola dan vokal Supratman agar tak disita.

Di saat yang sama, tambah Didi, Jepang berusaha menyiapkan rekaman propaganda “Indonesia Raya” yang direkam di Tokyo, dan kepingan piringan hitam yang dibawa Raden Sudjono, guru bahasa Indonesia asal Puro Pakualaman, Yogyakarta, yang mengajar di Jepang. Namun, kapal angkut militer Jepang yang membawa piringan hitam “Indonesia Raya” versi orkes Jepang tenggelam di Teluk Banten saat pertempuran.

Jelang Jepang kalah, Jepang mengedarkan dan memasyarakatkan “Indonesia Raya” untuk mengambil simpati. Rekaman lagu itulah yang beberapa tahun lalu disebut Roy Suryo sebagai rekaman asli “Indonesia Raya”. Rekaman itu diedarkan di Belanda secara komersial sebagai bagian dari paket CD: “Ons Koninkrijk En De Tweede Wereldoorlog Deel 2 Nederlands-Indie In De Tweede Wereldoorblog”, produksi Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie, Wanders, Beeld en Geluid, dan Tidjsbeeld Media. Rekaman itu menampilkan bait ke-2 dan bait ke-3 “Indonesia Raya” yang bermaksa filosofis mengisi kemerdekaan dan revolusi kepribadian. Sayangnya, bait ke-2 dan bait ke-3 kurang dikenal.

“Dipinjam” negara
 Setelah merdeka, 1947, Yo berkunjung ke Belanda. Saat bersantap di Restoran Indonesia, pemilik restoran yang tahu tamunya dari Indonesia memutarkan piringan hitam. Ternyata, yang diputar adalah “Indonesia Raya” yang disita Belanda. “Di pengantar musiknya terdengar suara Yo selaku pemimpin orkes. Yo lalu menunjukkan nama di paspornya dan menebusnya 15 gulden,” ujar Udaya.

Rekaman versi keroncong itu kemudian dibawa ke Indonesia. Yo kemudian berusaha menggandakan “Indonesia Raya” karena punya copyright-nya, tetapi tak diizinkan pimpinan RRI, Maladi, yang kemudian jadi Menteri Penerangan. Pada 1957, Yo kembali berusaha menggandakan “Indonesia Raya”. Komposer Kusbini kemudian meminjam rekaman tersebut untuk kepentingan negara dengan bekal surat Maladi, yang diserahkan kepada keluarga Yo. Namun, lanjut Udaya, mengutip rekaman video kesaksian Kartika, rekaman asli tersebut tak pernah dikembalikan lagi kepada keluarga Yo. Kartika beberapa kali membawa rekaman keroncong “Indonesia Raya” saat Sumpah Pemuda digelar, tetapi tak direspons.

Kini, salah satu salinan rekaman itu dapat diselamatkan Udaya atas izin Kartika. Mudah-mudahan ada perhatian Pemerintah Indonesia atas dua versi rekaman “Indonesia Raya” yang “dipinjam” dan tak tentu rimbanya itu.



Kompas, Minggu, 16 Agustus 2015