Sunday, 16 August 2015

Bertandang ke Rumah Sejarah yang Sepi

Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ dan ARYO WISANGGENI
Pada 70 tahun silam, 16 Agustus 1945, mobil Skoda yang ditumpangi Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo dan Soediro melaju menuju Rengasdengklok. Keduanya mencari-cari Soekarno dan Hatta yang diculik “golongan muda”. Jejak sejarah itu kini sepi sendiri…
0521252rumahh-djiaw780x390.jpg
Rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok,Karawang, Jawa Barat (Kompas/Jonathan Adrian)
Ahmad Subardjo dan Soediro
Sukarni dan kawan-kawan mudanya jengkel melihat “golongan tua” yang dianggap terlalu menunggu restu Jepang untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sementara golongan tua tidak mau salah langkah, yang bisa-bisa justru melenyapkan kesempatan Indonesia untuk merdeka.
Siang itu, Subardjo dan Soediro mencoba menemukan Soekarno dan Hatta yang dikabarkan “ditawan” di Rengasdengklok. Sukarni Kartowirjo Kartodiwiryo, dan kawan-kawan mudanya, didukung pasukan Pembela Tanah Air (Peta), paramiliter pribumi bentukan Jepang, rapi jail menyembunyikan Soekarno dan Hatta. Alih-alih “menawan” Soekarno dan Hatta di markas Peta di Rengasdengklok, golongan muda menyembunyikan Soekarno dan Hatta di rumah warga biasa yang sulit dicari.
Sukarni, Chairul Saleh, dan Wikana
Hari ini pun sulit mencari di manakah rumah Djiauw Kie Siong, tempat Soekarno dan Hatta ditawan. Beberapa warna di sekitar Pasar Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tak mengetahui bahwa ada rumah Siong. “Rumahnya, sih, tidak tahu. Setahu saya yang ada tugu,” kata Aji, pengojek di pertigaan Pasar Rengasdengklok.
72eda713b5084a8caaecf39f7e417273.jpg
0519114monumen-21780x390.jpg
Monumen Kebulatan Tekad di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. (Kompas/Lucky Pransiska, Jonathan Adrian)
Tugu yang dimaksud Aji adalah Tugu Kebulatan Tekad yang dibangun di atas lahan bekas markas tentara Peta. Tugu setinggi 3 meter itu dipuncaki patung tangan kiri mengepal di atas bola bertuliskan “17 Agustus 1945”. Di belakang tugu terdapat dinding relief yang menggambarkan peristiwa Rengasdengklok dengan taman yang pada Kamis (6/8) lalu sepi pengunjung.
Lokasi rumah asli Djiauw Kie Siong yang berjarak 100 meter dari Tugu Kebulatan Tekad justru luput dari ingatan kebanyakan warga Rengasdengklok. Gara-gara abrasi, hari ini, lokasi tempat menawan Soekarno dan Hatta sudah menjadi bagian dari aliran Sungai Citarum.
[Rumah Siong itu dulu terletak di Dusun Bojong yang hanya sekitar 75 meter dari Sungai Citarum. Belakangan, Citarum sering meluap dan daerah di sekitarnya mengalami abrasi. Siong memperkirakan rumahnya akan tenggelam jika tidak segera pindah. Maka pada 1957, ia memindahkan rumahnya ke Dusun Kalijaya I, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang.
Keputusan itu benar karena setahun kemudian, terjadi banjir besar hingga membelokkan aliran sungai. Kini, tapak bekas rumah Siong itu persis berada di tengah-tengah aliran Sungai Citarum.
Iin bersyukur kakeknya memindahkan rumah itu. Jika tidak, tentu artefak sejarah kemerdekaan Indonesia itu akan lenyap. Lebih dari itu, ia tak punya tempat tinggal seperti sekarang. Bagian ruang tamu hingga teras rumah itu masih asli. Namun, sebagian mulai lapuk dimakan usia. “Sesekali ada bantuan untuk perbaikan. Namun, saya tak tahu sampai kapan bisa bertahan,” kata Iin.]
Cucu Djiauw Kie Siong, Djiauw Kwin Moy atau Iin (62), kini menempati rumah di Dusun Kalijaya I yang dibangun pada 1957. Di rumah yang berjarak sekitar 150 meter dari rumah kakeknya dulu, Djiauw Kwin dan suaminya, Thung Gie Hiang (63), masih menyimpan beberapa perabot yang pernah dipakai Soekarno dan Hatta saat ditawan. Alih-alih dikunjungi mereka yang ingin mengenang peristiwa Rengasdengklok, rumah ini justru disinggahi bau tumpukan sampah yang menyengat.
[Rumah ini berdiri di atas lahan 1.008 meter persegi. Berdinding papan kayu jati yang dicat hijau. Beratap genteng tanah dan berplafon anyaman bambo. Di bagian depan terdapat gapura besi yang berjarak sekitar lima meter dari teras rumah. Di teras rumah berdiri dipan bambu tempat Hiang rehat. Halaman rumah dibiarkan berupa tanah dan kerikil, sementara teras rumah berlantai ubin gerabah coklat kemerahan serupa warna genteng.
43BC35C5-B86B-D6FB-D1521A9D08CB41D0.jpg
4d122e6f655a437bb5f5818f4f397b31.jpg
Kediaman Djiauw Kie Siong, tempat Soekarno tinggal selama penculikan oleh Pemuda Peta di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/8/2015). (Kompas/Lucky Pransiska)
43BEC25C-ABD8-5975-945C64A343573CBA.jpg
Cucu Djiauw Kie Siong, pemilik rumah. (Kompas/Lucky Pransiska)
70cd48535af04d32a018a5640c3a2531.jpg
Kamar tidur yang pernah digunakan Soekarno dan putranya, Guntur, selama diculik. (Kompas/Lucky Pransiska)
Ubin ini juga dipasang di ruang tamu. Sebagian ubin itu tak lagi datar melainkan cekung karena tergerus kaki-kaki yang melintasinya selama puluhan tahun. “Ubin ini asli sejak pertama rumah ini dibangun. Belum pernah kami ganti karena kami menjaga keasliannya,” kata Iin.
Sesuai pesan kakeknya, Iin juga menjaga keaslian barang-barang di ruang tamu seperti dua meja jati sepanjang 3 dan 2 meter dengan tinggi berbeda yang ditata secara berundak berdekatan dengan dinding papan jati. Di dinding itu dipasang foto Siong, sementara di atas meja terdapat mangkuk berbahan kuningan tempat batang-batang dupa diletakkan. Juga dua tempat lilin berbahan sama. “Ini tempat kami sembahyang dan mendoakan leluhur,” kata Iin.
Dulu, ornamen ruang tengah hanya sesederhana itu. Kini, tampak lebih ramai dengan dipasangnya belasan foto Soekarno dan Hatta, serta beberapa foto kunjungan keluarga Soekarno. Ruang tengah berukuran sekitar 42 meter persegi itu diapit dua kamar tidur yang masing-masing berukuran 3 meter x 6 meter. Di dalam kamar itu terdapat ranjang kayu jati berhias kelambu, sementara kasurnya diselimuti seprei. Rapi.
Djiauw Kie Siong
Kamar itulah tempat Bung Hatta dan Bung Karno diinapkan sebelum esok paginya dibawa ke Jakarta untuk membacakan teks proklamasi. Hatta seorang diri di salah satu kamar. Adapun Bung Karno ditemani istrinya, Fatmawati, dan anaknya, Guntur, yang kala itu masih berusia sembilan bulan. Iin membiarkan dua kamar itu tetap kosong. Ia dan suaminya memilih tidur di salah satu kamar di bagian dalam rumah. Begitu juga dengan anaknya, Martin (28), sebelum akhirnya dia memilih tinggal di luar rumah setelah bekerja dan mandiri.
Iin tinggal di rumah itu karena dua hal. Pertama untuk menunaikan pesan kakeknya agar menjaga tempat bersejarah itu. Kedua, sampai saat ini Iin belum punya cukup tabungan untuk membangun rumah baru. Iin dan suaminya pernah mempunyai tabungan dari usaha berdagang tembakau di Pasar Rengasdengklok. Ketika terjadi kerusuhan 1998, tokonya terbakar.
Oleh kakak kandungnya, Djiauw Chiang Lim, iin diminta bertahan di rumah Siong. “Saya lalu membuka kios untuk bertahan hidup,” kata Iin sembari menunjuk kios kecil di bawah pohon mangga di depan rumah. Kios ini menyediakan makanan dan minuman bagi para pengunjung.
Pada hari-hari biasa, tak kurang dari 30 orang mampir ke kiosnya. Mereka bukan hanya pengunjung rumah Siong, melainkan juga warga sekitar. Pada hari-hari khusus seperti Lebaran atau agustusan, pengunjung membeludak hingga ratusan. Iin menilai itu sebagai berkah dari jasa kakeknya membantu pejuang menginapkan Bung Karno dan Bung Hatta.
Kadang datang pengunjung bukan untuk melihat sejarah, melainkan menjalankan kegiatan seperti bersemadi. “Kadang mengambil air dari sumur di sana. Biasanya setiap malam Jumat Kliwon,” ungkap Iin. Bagi Iin, hal itu adalah risiko tinggal di rumah bersejarah. Dia tidak terganggu selama mereka tidak mengusiknya. Yang mengganggu justeru kalau datang tamu sampai ratusan orang. Di antara mereka sering ada yang iseng mencuri foto-foto koleksi Iin.]
Yang tua dan muda
“Atas jaminan bahwa saya boleh ditembak mati apabila proklamasi di Jakarta tidak terjadi, Mayor Subeno, Komandan Peta di Rengasdengklok, mengizinkan kami membawa kedua pemimpin itu di Jakarta. Tatkala Admiral Maeda melihat kami datang membawa Soekarno dan Hatta pukul 11.00 malam, dia kelihatan terharu.” Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo menulis kenangan tentang alotnya perundingan pembebasan Soekarno dan Hatta dalam tulisan obituari “In Memoriam Laksamana Tadashi Maeda” yang dimuat Kompas edisi 19 Desember 1977.
Dengan taruhan nyawa itu, Subardjo boleh membawa Soekarno dan Hatta meninggalkan rumah lama Djiauw Kie Siong balik ke Jakarta. Tiba larut malam, Subardjo langsung membawa Soekarno dan Hatta ke rumah Laksamana Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang, yang tinggal di Jalan Myakodoori. Maeda dikenal mendukung kemerdekaan Indonesia dan rumah perwira tinggi Jepang itu dianggap aman dari intaian militer Jepang lain. Ke rumah itu pula Soekarno (harusnya Soekarni?) dan golongan muda menyusul, memastikan Soekarno dan Hatta tak menanti restu Jepang.
Bekas rumah Laksamana Maeda itu kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat. Meski tak memiliki barang-barang asli milik Maeda, bangunan rumah masih asli dipadu dengan penataan ruang yang serupa dengan situasi rumah Maeda tahun 1945. Kursi-kursi di ruang tamu, misalnya, menyerupai kursi-kursi dalam foto keluarga Maeda.
“Semua benda di dalam museum ini bukan benda asli dari peristiwa bersejarah itu. Kami mencoba mengumpulkan benda serupa untuk memberi gambaran yang mendekati peristiwa penyusunan naskah proklamasi,” tutur Jaka Perbawa, kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Di meja makan bekas ruang makan keluarga Maeda terdapat patung lilin Hatta dan Subardjo duduk mengapit Soekarno yang sedang menuliskan rancangan naskah proklamasi dengan tulisan tangan. Di dindingnya terdapat perbesaran naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno.
Rumah Laksamana Maeda
Sayuti Melik dan BM Diah
Teks proklamasi
Di sebelah ruang tamu ada ruang kecil berisi patung lilin Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno bersama BM Diah yang berdiri di samping kanan Sayuti. Di depan ruang kecil terdapat piano yang serupa dengan piano yang dahulu menjadi tempat Soekarno dan Hatta menandatangani naskah proklamasi, disaksikan puluhan orang dari generasi tua dan generasi muda yang berhasil “memaksa” Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan tanpa restu Jepang.
Di lantai dua museum yang menjadi saksi kolaborasi darah muda dan kebijaksanaan golongan tua itu terdapat koleksi peninggalan para tokoh yang menunggui perumusan naskah proklamasi oleh Soekarno, Hatta, dan Subardjo. Di dinding seluruh ruangan juga terpampang linimasa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Museum itu dilengkapi film documenter pendek yang merinci apa yang terjadi pada ketegangan pada 16-17 Agustus 1945.
Tak menjejak
Namun, museum yang informatif dan terawat baik itu tak juga menggairahkan minat publik berkunjung. Satu-satunya rombongan pelajar yang mampir ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi pada Sabtu (8/8) lalu adalah para siswa kelas VIIID SMP 74 Jakarta. Farah (13), Tasya (13), dan teman-teman sekelasnya ditugaskan membuat foto dan video museum itu.
Pengunjung lain, dan itu pun tak banyak, adalah keluarga yang mampir karena minat pribadi salah satu anggotanya. Prima Gumilang (27), misalnya, mengajak keluarganya yang akan berkunjung ke Monumen Nasional untuk mampir ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi. “Daripada hanya berbelanja di Monas, lebih baik saya ajak mampir dulu. Sudah jauh-jauh dari Kediri, Jawa Timur, sayang jika tidak mampir ke museum bersejarah ini,” kata Prima.
Menurut Jaka Prabawa (yang benar yang mana, Perbawa atau Prabawa?), pada bulan proklamasi, yang paling banyak berkunjung ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi justru wartawan atau komunitas pecinta sejarah. Merujuk buku tamu museum itu, kunjungan tugas sekolah baru marak mulai dair Januari hingga Maret, sesuai dengan silabus bahan ajar mata pelajaran Sejarah. “Kalau ada tugas sekolah pada Agustus, itu inisiatif guru Sejarah memanfaatkan momentum peringatan Proklamasi,” kata Jaka.
Jejak-jejak sejarah itu mengajak kita melihat peran bapak-bapak bangsa yang bertindak jauh melampaui kepentingan pribadi demi mimpi besar tentang kemerdekaan rakyat.
Kompas, Minggu, 16 Agustus 2015.
Dengan tambahan:
Faiq HM (16 Agustus 2015) Bersandar di Bilik Sejarah Proklamasi. Kompas