Sunday, 8 May 2016

Tetabuhan Pungkasan Kyai Nggower

Oleh RADITYA MAHENDRA YASA
Suara tetabuhan gamelan yang dimainkan belasan wiyaga menggema lembut di teras tengah bangunan lawas di Omah Lawang Ombo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Rabu (6/4). Suara dari gamelan yang berusia ratusan tahun ini mengiringi seniman tari sekaligus sebagai sebuah pertunjukan pungkasan sebelum berpindah pemilik untuk dijual.
Tetabuhan yang Terakhir
Tetabuhan yang Terakhir (Kompas/Raditya Mahendra Yasa)
Keberadaan gemelan di Lasem memiliki sejarah panjang menjadi bagian tak terpisahkan dari pertautan budaya Tionghoa dan Jawa Islam. Salah satunya gamelan laras pelog milik keluarga Tjoo yang dinamai Kyai Nggower. Dalam akta gamelan, tercatat gamelan ini dijual oleh Tan Siah Mei dari Blora lalu diboyong ke Lasem setelah dibeli Lie Hwan Jiang melalui perantara Tjan Tok Sien pada 1919.
Bagi warga Tionghoa di pesisir utara Jawa seperti Lasem, gamelan selalu dimainkan saat upacara tradisional keagamaan ataupun penyelenggaraan acara keluarga. Sampai saat ini terdapat lima keluarga Tionghoa yang masih menyimpan perangkat gamelan di Lasem.
Sie Hwie Tan, yang sering disapa Gandor, mengaku terpaksa menjual gamelan Kyai Nggower karena sudah tidak mampu merawat. "Saya sudah tua dan sering sakit sepertinya tidak mungkin lagi merawat Kyai Nggower," katanya dengan berkaca-kaca. Pentas sore itu seolah menjadi perpisahan baginya dan tentu saja warga Lasem yang peduli dengan pelestarian budaya.
Persembahan untuk Leluhur
Persembahan untuk Leluhur (Kompas/Raditya Mahendra Yasa)
Para Wiyaga
Para Wiyaga (Kompas/Raditya Mahendra Yasa)
Foto Bersama
Foto Bersama (Kompas/Raditya Mahendra Yasa)
Pengumuman Pertunjukkan
Pengumuman Pertunjukan (Kompas/Raditya Mahendra Yasa)
bcc9f8ed23ea4e64bb7ef2e97bed67e8.jpg
Berakhirnya Pertunjukan (Kompas/Raditya Mahendra Yasa)
Kompas, Minggu, 8 Mei 2016