Friday, 3 February 2017

Dari "Kuppuru"

Oleh SAMSUDIN BERLIAN
Dari mana datangnya kafir? Jauh di hulu sejarah adalah satu kata dalam bahasa-bahasa Semit yang menggambarkan gerak tangan mengusap di atas suatu permukaan. Dari situ berkembanglah dua makna utama. Pertama, menggosok (hingga ada yang lepas), misalnya dalam rangka membuang lapisan kotoran, mencuci; dan kedua, memoles (hingga ada yang tambah), misalnya dalam rangka mengecat, melapis. Kata ini ditrasliterasikan sebagai k-p-r atau k-f-r karena aslinya bunyi p dan f dituliskan dengan huruf yang sama dan bunyi vokal tidak dituliskan sebagai huruf; semua huruf Semit adalah konsonan. Semit–dari nama Sem, putra pertama Nuh–adalah rumpun bahasa yang dipakai luas oleh bangsa-bangsa di Timur Tengah. Dalam bentuk tertulis ia lahir pada 5.000 tahun lalu di fajar peradaban yang merekah di antara Sungai Efrat dan Tigris. Salah satu kekhasan bahasa-bahasa Semit–yang mencakup, tapi tidak terbatas pada, Ibrani (Israel) dan Arab–adalah akar verba yang dirangkai dari tiga huruf.
Bahasa Semit yang pertama kali menonjol dalam sejarah adalah Akkadia. Bangsa Akkadia mencapai puncak kejayaan pada lebih dari 4.000 tahun lalu di lembah-lembah Mesopotamia. Selama 200 tahun ia menguasai wilayah yang sekarang bernama Irak, Kuwait, Syria, Lebanon, serta sebagian Turki dan Iran; yakni belahan timur Sabit Subur. Nenek moyang Abraham atau Ibrahim–yang sangat dimuliakan dalam iman Yahudi, Kristen, dan Islam–berasal dari Ur, kota pelabuhan dan perdagangan penting Kerajaan Akkadia.
Bahasa Akkadia mengenal kata kuppuru, kaparu, dan bentukan-bentukan lain yang dalam pemakaian sehari-hari berarti mengusap, menggosok atau mengelap (sampai bersih), mencuci, menghapus. Juga berarti memoles, misalnya, sebagai istilah teknis dalam pembuatan tembikar. Sebagai istilah agama, kuppuru bermakna menghapus kenajisan atau dosa sehingga menjadi tahir, murni, atau suci. Kuppuru juga adalah upacara agama. Teks Akkadia menggambarkan upacara menghapus dosa yang melibatkan kegiatan mencuci tangan, mencuci kuil dan peralatannya, membakar kemenyan, membuang barang najis ke padang gurun, dan menyembelih kambing jantan sebagai korban, darahnya diusapkan ke kuil untuk menyucikannya. Jadi ada kegiatan menggosok sehingga kotoran terhapus atau mengoles sehingga yang bersih menutupi yang kotor; yang lama terlihat baru. Konsep bahwa kenajisan ritual itu seperti kotoran yang bisa dan harus dicuci bersih, bahwa kehidupan manusia perlu ditebus dari dosa yang menajiskan dan mematikannya–seperti utang darah yang harus dibayar dengan darah korban sembelihan–tetap dipegang banyak orang dan masyarakat yang menjadi ahli waris iman-iman Semitik sampai sekarang, dalam berbagai versi dan varian ajaran.
Salah satu bentu upacara kuppuru yang mungkin tidak asing bagi kita adalah membebankan atau memindahkan secara ritual segala dosa manusia pada seekor kambing yang kemudian disembelih dan mayatnya dibuang ke sungai. Dalam adaptasi tradisi Ibrani, selain ada yang disembelih, ada pula seekor kambing jantan yang dibuang dengan cara dilepaskan (sebagai hukuman, karena sudah menjadi najis oleh dosa manusia) ke padang gurun yang mematikan. Itulah cikal bakal konsep kambing hitam.
scapegoat.jpg
Kambing hitam adalah seekor kambing yang dilepaskan ke padang gurun sebagai bagian dari upacara Yom Kippur, Hari Pendamaian, dalam Yudaisme. Ritus ini dilukiskan dalam Kitab Imamat 16. (Wikipedia)
K-p-r atau k-f-r berkembang dalam banyak makna. Dari pengertian memoleskan suatu lapisan ke permukaan, ia kemudian menyandang makna menutup atau menutupi. Karena secara keagamaan yang bisa ditutupi dan dilucuti bukan hanya kenajisan atau dosa, tapi juga kebenaran, timbullah dua makna utama yang saling bertolak belakang. Kalau yang ditutupi adalah kebenaran atau keimanan, maknanya negatif. Kalau yang ditutupi adalah keburukan, maknanya positif. Kadang-kadang satu kata yang sama bisa memiliki berbagai arti yang berbeda, bahkan berlawanan.
Dalam bahasa Ibrani, beragam arti k-p-r termasuk membersihkan, mengalihkan, mewakili, mengganti-rugi, menebus, menutupi, menyangkali. Secara ritual, k-p-r mengacu pada tindakan melepaskan dosa dan akibat dosa dari manusia. Kata kipper secara positif berarti menutupi, menyembunyikan, yakni perihal dosa atau kenajisan dari pandangan Allah. Karena Tuhan mahamelihat, itu berarti dosa bukan hanya tersembunyi, tapi memang sudah lenyap. Tuhan berhenti marah. Maka, timbul pula arti mendamaikan (antara Allah dan manusia), yang menjadi makna ritual yang utama. Kefira sebaliknya berarti ajaran yang tidak sesuai dengan dogma umum agama Yahudi. Kofer berarti ganti rugi atau tebusan, dalam rangka membayar utang dosa kepada Tuhan. Tapi, kofer juga berarti orang yang menutupi kebenaran, jadi dipakai sebagai label untuk orang Yahudi yang tidak percaya kepada Taurat atau yang menolak iman Yahudi.
Orang Yahudi, bahkan yang tidak beragama Yahudi, merayakan hari raya paling utama mereka, Yom Kippur, Hari Pendamaian dan Pertobatan–ketika manusia mengadakan ritual untuk berdamai dengan Allah–pada bulan ketujuh kalender Yahudi, sama dengan saat upacara Kuppuru pada kalender Akkadia, dengan mempersembahkan korban dan sebagai hari penyucian. Yom Kippur selalu jatuh pada hari sabat, dari Jumat saat matahari terbenam sampai Sabtu saat yang sama. Dunia mengenal istilah Yom Kippur sebagai perang, yang dimulai pada hari raya itu, antara koalisi Arab lawan Israel 6-25 Oktober 1973. Karena terjadi pada bulan puasa, disebut juga Perang Ramadan. Adalah ironi bahwa orang Yahudi biasa berpuasa total selama 25 jam pada Yom Kippur sambil berpakaian serba putih. Ramadan adalah bulannya bulan, Yom Kippur adalah sabatnya sabat. Itulah perang di antara orang-orang yang sama-sama sedang berpuasa dan berdoa.
Dalam bahasa Arab, kafara berarti menutupi. Dalam dunia pertanian kata itu lalu berarti menanam, yakni menutupkan tanah di atas biji atau benih. Alkuffar bisa juga diterjemahkan petani. Kafr juga berarti desa, tempat tinggal petani, sama dengan kfar dalam Ibrani. Dalam hukum, kaffarat berarti ganti rugi, analogis dengan penebusan ritual. Karena apa-apa yang ditutupi menjadi tak terlihat, timbullah arti menyembunyikan. Dari pengertian menyembunyikan kebenaran seperti kegelapan malam menutupi cahaya ilahi, berkembanglah makna menyangkal, menolak, tidak percaya, menutup hati, tidak bersyukur. Inilah yang kini menjadi makna utama kata kafir di seluruh dunia–orang yang tidak percaya kepada atau menolak Allah.
Dalam bahasa Indonesia, sejak dulu kita kenal kata makian keparat, yang juga berarti kafir, tapi biasanya dipakai tanpa acuan religius. Pada saat ini kafir telah menjadi kata kontroversial yang dipakai atau ditolak-pakai dengan berbagai alasan keagamaan, sosial, dan politik. Ada yang menembakkan kafir ke segala arah kepada siapa pun yang tidak bersetuju dengannya. Ada yang rajin melakukan takfir. Ada yang tidak mau melabelkan kafir kepada siapa pun dan apa pun. Karena takfir sangatlah sensitif dan berpotensi menimbulkan gejolak sosial, otoritas negara kadang-kadang diminta atau terpaksa turun tangan. Undang-Undang Dasar Tunisia, misalnya, melarang fatwa takfir.
Agama Kristen lahir dari rahim Yahudi dan pada awalnya secara lisan memakai bahasa Aram yang juga termasuk rumpun Semit. Tapi, secara tertulis bahasa utama kitab dan surat Perjanjian Baru adalah Yunani, yang tidak termasuk Semit, karena itu secara linguistik etimologis kata hilasmos dan eksilasetai (keduanya berarti pendamaian) tidak memberikan sumbangan baru kepada konsep kipper yang diterjemahkannya. Lembaga Alkitab Indonesia menggunakan kafir beberapa kali dalam terjemahannya.
Kompas, Sabtu, 4 dan 11 Februari 2017