Friday, 17 February 2017

Zealandia, Benua yang Tersembunyi

Hipotesis ahli meteorologi dan geofisika asal Jerman, Alfred L Wegener, mungkin benar. Pada 1912, ia memiliki hipotesis bahwa di Bumi pernah ada satu benua raksasa yang dikelilingi lautan. Sekitar 200 juta tahun lalu, benua itu terpecah menjadi benua-benua kecil seperti sekarang.
mount cook.jpg
Gunung Cook, puncak tertinggi di Selandia Baru dan Zealandia
Hipotesis ini diperkuat dengan temuan dari penelitian yang dipublikasikan di jurnal Geological Society of America’s Journal, GSA Today, Jumat (17/2). Tim peneliti menemukan ada daratan seluas 4,9 juta kilometer persegi atau dua pertiga dari luas wilayah Australia. Sekitar 94 persen dari total luas itu terendam di bawah permukaan air Samudra Pasifik. Daratan itu diberi nama Zealandia. Puncak dari daratan itu sudah kita kenal baik karena terkenal dengan pegunungan tinggi dan indah di film Lord of the Rings. Selama ini kita mengenalnya dengan nama Selandia Baru.
Para peneliti yang berasal dari lembaga penelitian pemerintah Selandia, GNS Service, Victoria University of Wellington di Selandia Baru, The Service Geologique di Kaledonia Baru, dan The University of Sydney’s School of Geosciences itu menilai Zealandia memenuhi kriteria sebagai benua. Statusnya sama dengan tujuh benua lainnya, Asia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Australia, dan Antartika.
Harian The Guardian menyebutkan, ahli geofisikawan Bruce Luyendyk dari Amerika Serikat adalah orang yang pertama kali menggunakan nama Zealandia untuk kawasan barat daya Pasifik itu pada 1995. Saat ini, peneliti memperjuangkan pengakuan Zealandia sebagai benua.
Zealandia dulu menjadi satu bagian dari benau besar Gondwana yang terpecah sekitar 100 juta tahun lalu. Gondwana adalah daratan luas yang dulu mencakup Australia dan tenggelam sekitar 60 atau 85 juta tahun lalu. “Benua yang masih terendam dan belum terpecah seperti ini sangat bermanfaat bagi kita untuk memahami penyatuan dan terpecahnya kerak benua,” tulis para peneliti.
Nick Mortimer, ahli geologi Selandia Baru yang juga ketua tim penulis laporan, menjelaskan, para peneliti sudah mengumpulkan data terkait dengan Zealandia selama lebih dari 20 tahun. Upaya mengungkap keberadaan Zealandia sulit dan membuat peneliti frustrasi karena daratan itu berada di bawah air. “Kalau saja kita bisa menguras lautan, akan kelihatan jelas ada rantai jajaran gunung dan benua yang besar,” ujarnya.
Dari total luasan Zealandia, hanya tiga daratan yang muncul ke atas permukaan air, yakni Pulau Utara dan Selatan Selandia Baru serta Kaledonia Baru. selebihnya, terendam di bawah air.
Situs BBC News menyebutkan, para peneliti menetapkan sejumlah kriteria untuk menentukan apakah daratan itu sebuah benua atau bukan. Ada empat kriteria, yakni profil ketinggian dibandingkan dengan  lingkungan sekitarnya, kondisi geologi yang khas, wilayah yang tertata dengan baik, dan kerak yang lebih tebal dibandingkan dengan dasar laut yang biasa. Ketebalan keraknya sekitar 10-30 kilometer dan makin tebal menjadi 40 kilometer sampai di bawah Pulau Selatan.
“Nilai ilmiah klasifikasi Zealandia sebagai benua jauh lebih penting daripada hanya tambahan nama di daftar,” kata para peneliti dalam laporan.
Belum ada lembaga penelitian yang secara formal mengakui keberadaan benua baru ini. Meski demikian, Mortimer berharap Zealandia akan menjadi bagian dari Bumi yang diakui dan akan muncul di peta serta diajarkan di sekolah.
Situs National Geographic menyebutkan, Zealandia masih menjadi perdebatan karena ahli geologi dan geografi kerap tak sependapat dengan teori pembentukan benua. Bagi ahli geografi, Eropa dan Asia adalah dua entitas terpisah. Adapun bagi pakar geologi, Eropa dan Asia merupakan satu daratan yang sama sehingga mereka menyebutnya Eurasia. (LUK)
GSATG321A.1-f01.gif
Peta sederhana lempeng tektonik dan benua, termasuk Zealandia (Mortimer et al, 2017)
GSATG321A.1-f02.jpg
Batas spasial Zealandia (Mortimer et al, 2017)
GSA.jpg
Kompas, Sabtu, 18 Februari 2017