Sunday, 13 April 2014

Dalam Cengkeraman Ilmu Dasar

Oleh RHENALD KASALI
Setiap bangsa punya pilihan: melahirkan atlet bermedali emas atau perenang yang tak pernah menyentuh air; melahirkan sarjana yang tahu ke mana langkah dibawa atau sekadar membawa ijazah.
Tak termungkiri, negeri ini butuh lebih banyak orang yang bisa membuat ketimbang pandai berdebat, bertindak dalam karya ketimbang hanya protes. Tak banyak yang menyadari universitas hebat bukan hanya diukur dari jumlah publikasinya, melainkan juga dari jumlah paten dan impak pada komunitasnya.
Pendidikan kita masih berkutat di seputar kertas. Kita baru mahir memindahkan pengetahuan dari buku teks ke lembar demi lembar kertas: makalah, karya ilmiah, skripsi, atau tesis. Kita belum menanamnya dalam tindakan pada memori otot, myelin.
Seorang mahasiswa dapat nilai A dalam kelas pemasaran bukan karena dia bisa menerapkan ilmu itu ke dalam hidupnya, minimal memasarkan dirinya, atau memasarkan produk orang lain, melainkan karena ia sudah bisa menulis ulang isi buku ke lembar-lembar kertas ujian.
Pendidikan tinggi sebenarnya bisa dibagi dalam dua kelompok besar: dasar dan terapan. Pendidikan dasar itulah yang kita kenal sejak di SD: matematika, kimia, biologi, fisika, ekonomi, sosiologi, dan psikologi. Terapannya bisa berkembang menjadi ilmu kedokteran, teknik sipil, ilmu komputer, manajemen, desain, perhotelan, dan seterusnya.
Kedua ilmu itu sangat dibutuhkan bangsa memajukan peradaban. Namun, investasi untuk membangun ilmu dasar amat besar, membutuhkan tradisi riset dan sumber daya manusia bermutu tinggi. Siapa menguasai ilmu dasar ibaratnya mampu menguasai dunia dengan universitas yang menarik ilmuwan terbaik lintas bangsa. Negara-negara yang berambisi menguasainya punya kebijakan imigrasi yang khas dan didukung pusat keuangan dan inovasi progresif.
Dengan bekal ilmu dasar yang kuat, bangsa besar membentuk ilmu terapan. Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris adalah negara yang dibangun dengan keduanya. Namun, sebagian negara di Eropa dan Asia memilih jalan lebih realistis: fokus pada studi ilmu terapan. Swiss fokus dengan ilmu terapan dalam bidang manajemen perhotelan, kuliner, dan arloji. Thailand dengan ilmu terapan pariwisata dan pertanian. Jepang dengan elektronika. Singapura dalam industri jasa keuangannya.
Tentu terjadi pergulatan besar agar ilmu terapan dapat benar-benar diterapkan. Pada mulanya ilmu terapan dikembangkan di perguruan tinggi untuk mendapat dana riset dan menjembatani teori dengan praktik. Akan tetapi, mindset para ilmuwan tetaplah ilmu dasar yang penekanannya ada pada metodologi dan statistik untuk mencari kebenaran ilmiah yang buntutnya ialah publikasi ilmiah.
Melalui pergulatan besar, program studi terapan berhasil keluar dari perangkap ilmu dasar. Ilmu Komputer keluar dari Fakultas Matematika dan Manajemen menjadi Sekolah Bisnis. Dari lulusan dengan ”keterampilan kertas”, mereka masuk pada karya akhir berupa aplikasi, portofolio, mock up, desain, dan laporan pemecahan masalah.
Metodologi dipakai, tetapi validitas eksternal (impak dan aplikasi) diutamakan. Hanya pada program doktoral metodologi riset yang kuat diterapkan. Itu pun banyak ilmuwan terapan yang meminjam ilmu dasar atau ilmu terapan lain sehingga terbentuk program multidisiplin seperti arsitektur yang dijodohkan dengan antropologi atau arkeologi, akuntansi dengan ilmu keuangan.
Anak-anak kita
Kemerdekaan yang diraih program studi ilmu terapan di perguruan tinggi melahirkan revolusi pada tingkat pendidikan dasar. Bila mengunjungi pendidikan anak-anak usia dini, TK dan SD di mancanegara, Anda akan melihat kontras dengan di sini. Alih-alih baca-tulis-hitung dan menghafal, mereka mengajarkan executive functioning, yang melatih anak-anak mengelola proses kognisi (memori kerja, reasoning, kreativitas-adaptasi, pengambilan keputusan, dan perencanaan-eksekusi).
Sekarang jelas mengapa kita mengeluh sarjana tak siap pakai: pendidikan didominasi kultur ilmu dasar yang serba kertas dan mengabaikan aplikasi. Perhatikan, Indonesia masih menjadi negara yang mewajibkan lulusan sekolah bisnis (MM) menulis tesis yang pengujinya getol memeriksa validitas internal dan metodologi yang sempit. Kegetolan ini juga terjadi pada banyak penguji program studi perhotelan atau terapan lain yang merasa kurang ilmiah kalau tidak ada pengolahan data secara saintifik.
Saya ingin menegaskan: hal itu hanya terjadi pada negara yang ilmu terapannya masih terbelenggu mindset ilmu dasar. Keluhannya sama: tak siap pakai, kalah dalam persaingan global.
Pertanyaannya hanya satu, kita biarkan terus seperti ini atau dengan legawa kita mulai pembaruan agar para sarjana ilmu terapan mampu menerapkan ilmunya? Itu terpulang pada kesadaran kita, bukan kesombongan atau ego ilmiah.
Rhenald Kasali
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Kompas, Selasa, 18 Maret 2014

Caleg Gagal

Seperti yang sudah diduga, setelah pemilu calon legislatif akan banyak orang yang memerlukan penanganan medis akibat masalah psikologis. Berikut kutipan artikel Kompas (12/4) mengenai caleg depresi:
Praktik politik kotor dan sistem politik berbiaya mahal terbukti menjungkirbalikkan akal. Tujuh calon anggota legislative di Cirebon, Jawa Barat, bahkan perlu pergi ke paranormal untuk menenangkan diri dan menghindari rasa malu akibat kalah dalam pemilu. Ratusan juta uang mereka raib dalam perhelatan pesta demokrasi itu.
151498079p.jpg
(Kontan/Benny Rachmadi)
Rasa kecut dialami Witarsa Winata (33), kader Partai Demokrat yang menghabiskan Rp 250 juta untuk mengusung istrinya, Nur Asiyah Jamil (35), dalam Pemilu 2014. Istrinya maju sebagai caleg untuk DPRD Jawa Barat di daerah pemilihan Kota/Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu.
“Saya menghabiskan uang tabungan untuk mengusung istri maju dalam pemilu. Tidak tahunya mesin partai tidak berjalan dan partai kami perolehan suaranya hancur. Saya sudah habis Rp 250 juta untuk biaya pembuatan kartu nama, poster, dan pertemuan-pertemuan dengan tim sukses maupun konstituen. Uang sudah habis semuanya,” ujar Witarsa.
Jumat (11/4) siang itu, ia duduk-duduk di depan layar televisi di Pondok Al-Busthomi, memantau perkembangan terkini hitung cepat Pemilu 2014. Dua telepon seluler Witarsa terus bordering. Namun, matanya hanya melirik sejenak pada ponsel tersebut, lalu mendiamkan saja. “Ini kawan-kawan saya dari tim sukses. Sudahlah biar saja. Saya pusing,” katanya.
Baru Jumat ini Witarsa bangkit dari kamarnya di padepokan. Dua hari sebelumnya, warga Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, itu meraung-raung, memegangi jidatnya, karena pusing dan ketakutan memikirkan nasibnya. Uang Rp 250 juta yang dikeluarkan untuk biaya pencalonan istrinya itu sebagian adalah pinjaman dari keluarga dan kenalannya. Mengetahui hasil pemilu bagi istri dan partainya ternyata jeblok, Witara tak kuasa menahan tekanan batin.
Istri Witarsa, Nur Asiyah Jamil, diungsikan ke sebuah pondok di daerah Cilincing, Jakarta. Suami-istri itu sama-sama tertekan menyaksikan hasil hitung sementara Pemilu 2014.
Witarsa merasa dibodohi oleh sistem Pemilu 2014. Pertarungan antarcaleg sangat banal dan sadis. “Di dapil saya, uang Rp 250 juta itu kecil. Ada caleg yang mengeluarkan sampai Rp 750 juta untuk biaya pemilu. Bayangkan jika suara mereka ternyata juga hancur dan uang lenyap sia-sia,” tuturnya.
Ia kesal dengan praktik politik uang yang mengakibatkan konstituen cenderung “mata duitan” sehingga mau tidak mau caleg lain harus mengeluarkan duit bagi mereka. Modal pas-pasan memaksa caleg semacam istri Witarsa untuk pinjam sana-sini. Tabungannya dari usaha jual beli sepeda motor pun amblas.
Ia juga mengaku diperalat konstituen. “Saya kecewa dengan konstituen yang menerima uang. Sebab, setelah menerima uang, mereka belum tentu mencoblos caleg yang memberikan uang. Ya, mereka ini pinter-pinter sekarang,” ujarnya.
Sejumlah warga di Cirebon pun mengaku menerima uang suap dari caleg. “Saya mendapatkan Rp 60.000 dari satu caleg DPRD Kabupaten Cirebon dan satu calon anggota DPD. Anggota tim sukses mereka memberikan uang itu kemarin (Selasa),” ujar Raharjo (33), warga Desa Kalikoa, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.
Ia melanjutkan, “Uang boleh diterima, tetapi soal memilih di bilik suara ya dikembalikan kepada pilihan masing-masing.”
Ujang Busthomi, pemilik Pondok Al-Busthomi, menyebutkan setelah  pengumuman hasil pemilu, makin banyak caleg yang ingin ditenangkan pikirannya. Tahun 2009, ia merawat 67 caleg depresi. Pemilu tahun ini kemungkinan jumlah caleg yang depresi itu bertambah, terutama setelah melihat banyak partai besar yang suaranya anjlok.
Caleg-caleg yang stres dan meminta bantuan kepada Busthomi biasanya datang di malam hari. Mereka malu jika diketahui publik. Angan-angan untuk duduk di kursi empuk lenyap, tinggal malu dan kehilangan yang besar. Kalah segala-galanya.
Caleg yang ditanganinya umumnya mengeluhkan utang, kerja tim sukses yang tidak optimal, mesin partai yang tidak mendukung, sampai konstituen yang “pintar”.
“Ada caleg yang menyebar amplop sampai 1.500 buah, tetapi suaranya hanya 230. Ada yang menyebar 700 amplop, tetapi raihannya cuma 99 suara. Ada juga yang memberikan 450 amplop, tetapi suaranya hanya 24,” kata Busthomi.
Salut buat para konstituen yang tidak mau disuap. Rakyat tidak menolak jika diberi rejeki, tetapi tidak mau jika dipaksa memilih caleg tertentu dengan uang tersebut. Semoga hal ini bisa jadi pembelajaran buat para caleg di masa mendatang untuk tidak membudayakan suap. Bisa dibayangkan jika caleg-caleg yang doyan menyuap ini menjadi anggota legislatif. Bisa diramalkan saat menjadi anggota legislatif atau setelah masa tugasnya berakhir dia akan menjadi tahanan KPK karena kasus suap dan korupsi yang lebih besar.

Sunday, 6 April 2014

Kampanye yang Mencerdaskan

Oleh Ikrar Nusa Bhakti

Jika rakyat pergi. Kita penguasa berpidato. Kita harus hati-hati. Barangkali mereka putus asa.
Kalau rakyat sembunyi. Dan berbisik-bisik. Ketika membicarakan masalahnya sendiri. Penguasa harus waspada dan belajar mendengar.
Dan bila rakyat tidak berani mengeluh. Itu artinya sudah gawat. Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah. Kebenaran pasti terancam.
Apabila usul-usul ditolak tanpa ditimbang. Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan. Dituduh subversi dan mengganggu keamanan. Maka hanya satu kata: LAWAN! (Solo: 1986)

Puisi karya Wiji Thukul berjudul “Peringatan” itu begitu memukau para pengunjung saat dibacakan oleh Sosiawan Leak, penyair asal Solo, pada pembukaan ASEAN Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 21 Maret 2014.

Wiji Thukul, penyair dan aktivis sosial, adalah satu dari belasan aktivis pro demokrasi yang diculik oleh oknum-oknum “Tim Mawar” dari satuan khusus militer pada 1997/1998. Meski akhirnya komandan satuan khusus itu diberhentikan dari ketentaraan lewat putusan Dewan Kehormatan Perwira, tetapi hingga kini nasib belasan aktivis pro demokrasi itu belum diketahui rimbanya. Inilah salah satu sejarah kelam rezim Orde Baru, selain pembunuhan, penghilangan paksa, dan pemenjaraan orang tanpa pengadilan.

Kini, Partai Golkar berkampanye bahwa era Soeharto adalah “Zaman Normal”: harga-harga murah, stabilitas politik terjaga, dan politik amat tenang tanpa kegaduhan. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) tak malu ataupun takut untuk mengutip slogan di berbagai kaus bergambar Soeharto: “Piye khabare? Luwih penak jamanku to?” (Bagaimana kabarnya, lebih enak zamanku, kan?). Kampanye politik semacam ini memang hak politik Partai Golkar walau sungguh menyesatkan dan tidak mencerdaskan bangsa karena tidak menggambarkan kondisi pada era Orde Baru secara utuh.

Padahal, pada awal reformasi, Golkar di bawah Akbar Tandjung berupaya menarik garis dengan Orde Baru melalui slogan “Golkar Baru” agar Golkar tetap eksis di era reformasi. Zaman memang sudah berubah sejak jatuhnya rezim Soeharto, 16 tahun lalu. Mereka yang dulu bagian dari rezim kini tak takut unjuk gigi karena saat ini memang masa akhir yang tersedia bagi mereka untuk meraih kejayaan kembali.


Kampanye hitam

Kampanye pada Pemilu 2014 juga penuh dengan kampanye hitam untuk menghancurkan nama baik orang dan/atau partai yang akan berkontestasi dalam Pemilu Presiden 9 Juli 2014. Salah seorang yang terkena kampanye hitam tersebut adalah ARB, bakal capres dari Partai Golkar. Entah dari mana asalnya, kini beredar video dan foto-foto ARB dan dua kakak beradik (artis) saat mereka berlibur ke Maladewa. Di negara seperti Inggris dan AS, persoalan yang masuk kategori privat bisa menjadi urusan publik. Namun, di Australia, jika penulis tidak salah, ada pemisahan antara kehidupan pribadi seseorang dan aktivitas politiknya.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga tak luput dari kampanye hitam yang menggambarkan foto mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq, di depannya ada foto gadis berpakaian amat tak seronok dan di belakangnya ada foto sapi. Ini terkait dengan kasus korupsi sapi impor asal Australia yang sempat menggemparkan politik Indonesia pada 2013. Prabowo Subianto juga mendapatkan serangan hebat dari para pedagang asongan yang berjualan di Gelora Bung Karno (GBK) karena mereka, katanya, dijanjikan dibayar lunas makanan dan minumannya saat Partai Gerindra berkampanye di GBK pada 23 Maret 2014. Ternyata, kata para pedagang asongan, mereka hanya dibayar Rp. 100.000 dan rugi besar. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga, katanya, mendapatkan kampanye hitam dari Anas Urbaningrum.

Bakal calon presiden dari PDI-P, Joko Widodo (Jokowi), adalah orang yang paling banyak mendapat serangan dari kampanye hitam yang berlangsung selama ini. Badannya yang kerempeng dan wajahnya yang ndeso (orang desa) menyebabkan  salah seorang tokoh PKS menyebutnya orang yang tidak memiliki tampang untuk menjadi presiden. Ada juga kampanye negatif yang menyebutkan Jokowi didukung oleh kelompok agama minoritas dan ras minoritas, suatu kampanye yang bukan saja tidak bermartabat, melainkan juga membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Mereka lupa bahwa Indonesia merdeka, yang dibangun oleh para pendiri bangsa, bukan negara agama atau negara suku/ras, melainkan negara kebangsaan.

Satu hal yang menarik, jika semasa awal menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi ibarat media darling, sejak Jokowi dideklarasikan sebagai capres PDI-P pada 14 Maret 2014, tampaknya jadi media enemy dari jaringan media pers milik para tokoh politik yang juga akan maju sebagai capres atau cawapres atau yang partai barunya berupaya masuk parlemen. Bahkan, ada televisi yang mengampanyekan Jokowi sebagai public enemy (musuh publik) tanpa menjelaskan publik yang mana di Jakarta yang memusuhinya dan apakah yang mengatasnamakan publik itu benar-benar mewakili warga Jakarta.

Ada juga seorang ilmuwan politik yang menyebut Jokowi “kutu loncat” karena berpindah-pindah dari Wali Kota Solo menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan kini jadi capres dari PDI-P, tanpa menyelesaikan masa tugasnya. “Kutu loncat” dalam terminologi politik adalah politisi yang berpindah-pindah partai dan ideologi atau berpindah tempat dari oposisi ke pemerintah dan sebaliknya. Pengamat ini tak menjelaskan bahwa Ahmad Heryawan juga tidak menyelesaikan tugasnya sebagai pimpinan DPRD di DKI Jakarta ketika ia maju sebagai cagub Jawa Barat. Irwan Prayitno juga meninggalkan posisinya sebagai anggota DPR ketika ia maju pertama kali sebagai calon gubernur Sumatera Barat. Alex Noerdin juga hanya cuti dan tidak mundur dari jabatannya ketika maju sebagai cagub DKI Jakarta pada 2012 dari Golkar.

Ada juga pengamat yang mengibaratkan Jokowi belum menyelesaikan kuliah tetapi sudah akan mengambil titel kesarjanaan yang lebih tinggi. Pengamat ini lupa bahwa sistem di sekolah negeri atau swasta di Indonesia, seorang murid yang kepandaiannya istimewa bisa naik kelas tanpa harus menyelesaikan  sekolah sampai akhir tahun. Seorang mahasiswa program master by research di Australia bisa dinaikkan (upgrade) ke program doktor jika proposal penelitiannya sangat baik. Namun, juga bisa diturunkan (downgrade) dari program doktor ke master atau dari master ke diploma sarjana jika ia dianggap tak mampu menyelesaikan kuliahnya.


Kampanye bermartabat

Sudah 16 tahun kita menikmati era demokrasi dan 10 tahun memiliki presiden yang dipilih secara langsung. Pada masa ini seharusnya demokrasi Indonesia sudah naik kelas dari transisi demokrasi ke konsolidasi demokrasi atau bahkan ke kedewasaan demokrasi. Pada Pemilu 2014 ini pula seharusnya kampanye-kampanye politiknya benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa dan bermartabat.

Bentuk-bentuk kampanye negatif seharusnya sudah digantikan dengan kampanye yang adu program. Kita juga tak perlu menghina jika ada seorang yang berwajah desa dan tidak memiliki presidential look maju sebagai calon presiden. Demokrasi memberi kesempatan kepada siapa pun untuk menjadi capres atau terpilih sebagai Presiden RI. Itulah esensi yang hakiki dari demokrasi.

IKRAR NUSA BHAKTI
Profesor Riset di Pusat Penelitian Politik LIPI
Kompas, Sabtu, 5 April 2014

Tuesday, 11 March 2014

Minyak Terozonisasi untuk Penyembuhan Luka Kronis

Satu penelitian di Belgia, yang dipimpin oleh Gilles Brackman, membandingkan efektivitas dari 18 produk perawatan luka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak zaitun terozonisasi memiliki aktivitas tertinggi untuk menghancurkan biofilm. Sayang sekali jika produk yang efektif ini masih jarang digunakan.
Penyembuhan luka dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama infeksi bakteri dan keberadaan biofilm yang secara signifikan memberikan hambatan. Beragam mikroorganisme patogen dapat tumbuh pada luka kronis, antara lain Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, dan Candida albicans. Mikroorganisme tersebut dapat membentuk biofilm yang menutup luka dan menjadi tempat berkembang biak. Beberapa studi menunjukkan bahwa keberadaan biofilm pada luka merupakan alasan utama penyebab kegagalan penyembuhannya.
Ozon sendiri merupakan gas alami tidak stabil yang terdiri dari tiga atom oksigen. Christian Friedrich Schonbein (1799-1869) pertama kali melaporkan penemuan ozon pada 1840 saat beruji coba mengalirkan listrik dalam gas oksigen. Schonbein menyebutnya oksigen superaktif dengan aroma khas yang kuat. Aroma ini dapat kita cium saat terjadi hujan yang disertai guntur dan kilat. Secara alami, kilat yang merupakan arus listrik tegangan tinggi, yang mengkatalisis pembentukan ozon dari oksigen yang ada di atmosfer. Berdasarkan konsep tersebut, Werner von Siemens  membuat tabung superinduksi (tabung Siemens) untuk membuat ozon sehingga penerapan ozon semakin berkembang.
Dalam dunia industri, ozon kebanyakan digunakan sebagai desinfektan yang efektif. Sifat antibakteri ini pula yang kemudian digunakan dalam pengobatan luka (Valacchi et al, 2005). Ozon yang ‘diikatkan’ dalam minyak tanaman, seperti minyak zaitun, minyak biji bunga matahari, atau minyak wijen, dapat dengan mudah diaplikasikan pada luka karena bentuknya yang cair, dibandingkan jika menggunakan ozon secara langsung. Dalam minyak tanaman tersebut, ozon dapat menjadi lebih stabil karena berada dalam  bentuk beberapa senyawa seperti hidroperoksida, ozonida, aldehida, peroksida, diperoksida, dan poliperoksida, yang bertanggung jawab memberikan efek antimikroba.
Referensi
Bocci V (2011) Ozone: A New Medical Drug, 2nd Edition. London: Springer
Brackman G, De Meyer L, Nelis HJ, Coenye T (2013) Biofilm inhibitory and eradicating activity of wound care products against Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis biofilms in an in vitro chronic wound model. J. Appl. Microbiol. 114(6): 1833-1842.
Valacchi G, Fortino V, Bocci V (2005) The dual action of ozone on the skin. Br. J. Dermatol. 153(6): 1096-1100

Tuesday, 4 February 2014

13 Apostles (Bagian 4)

Filipus
Filipus termasuk murid-murid pertama berdasarkan versi Yohanes. Dia dipanggil di Betania, menjelang Yesus berangkat ke Galilea (Yoh 1:43)
Filipus berasal dari Betsaida, sekota Andreas dan Petrus (Yoh 1:44). Setelah pemanggilannya, Filipus memperkenalkan Yesus kepada Natanael (Bartolomeus). (Yoh 1:45-51)
Dalam kisah Yesus memberi makan 5000 orang disebutkan Yesus bertanya kepada Filipus kemana bisa mencari makan untuk banyak orang dengan maksud untuk mengujinya. Filipus menjawab bahwa roti seharga dua ratus dinar pun tidak akan bisa digunakan untuk memberikan makan sedemikian banyak orang, meskipun setiap orang hanya mendapat sepotong kecil. (Yoh 6:5-7)
Menjelang hari raya Paskah, terdapat beberapa orang Yunani yang mendatangi Filipus untuk meminta dipertemukan dengan Yesus. Filipus membicarakan hal ini kepada Andreas. Keduanya kemudian menyampaikannya  kepada Yesus. (Yoh 12:20-22)
Saat perjamuan malam terakhir, Filipus menanyakan mengenai Bapa kepada Yesus. Pertanyaan itu sekaligus memberikan kesempatan Yesus untuk bisa menjelaskan mengenai keterkaitan antara Bapa dan Yesus. (Yoh 14:8-14)
Setelah peristiwa Pentakosta, tidak ada informasi lebih lanjut mengenai rasul Filipus dalam Alkitab. Catatan Lukas dalam Kisah Para Rasul mengenai figur bernama Filipus adalah salah seorang dari tujuh diaken, yang dikenal sebagai Filipus pemberita Injil (Kis 6:5; 8:5-40; 21:8-9).
Berdasarkan tradisi, pasca Pentakosta, Filipus mewartakan Injil di Galilea. Pewartaan ini disertai dengan kejadian mujizat, di antaranya Filipus membangkitkan seorang anak yang mati di pangkuan ibunya. Dari Galilea, Filipus pergi ke Yunani, melayani komunitas Yahudi di negara tersebut. Kabar pelayanan ini dilaporkan oleh sekelompok Yahudi ke Yerusalem sehingga Imam Agung pun datang menyusul ke Yunani untuk melawan Filipus. Saat kelompok Farisi ini akan menyerang Filipus, tiba-tiba mereka menjadi buta. Filipus mendoakan para penyerangnya itu sehingga semuanya dapat melihat kembali, banyak di antaranya menjadi percaya. Filipus menunjuk Narkissos menjadi uskup Yunani.
Di Yunani, Filipus pergi ke Parthia, kemudian ke Azota (apakah yang dimaksud adalah Azotus atau Asdod?). Di kota ini dia menyembuhkan mata anak perempuan Nikodemus, warga lokal yang membawa Filipus ke rumahnya dan kemudian bersama seisi rumahnya dibaptis. Dari sini Filipus pergi ke Hierapolis Siria (sekarang Manbij). Di kota ini Filipus menumpang di rumah seorang bernama Iros. Orang-orang Farisi yang mengetahui hal ini membakar rumah tersebut tetapi tidak menyebabkan Filipus terbunuh. Beberapa di antara mereka akhirnya menjadi percaya setelah melihat mujizat yang dilakukan Filipus, seperti menyembuhkan tangan yang lumpuh sebelah dari seorang petinggi kota bernama Aristarkus dan membangkitkan seorang anak muda yang mati. Setelah mengangkat Iros menjadi uskup Hierapolis Siria, Filipus bersama Bartolomeus dan adik Filipus, Mariamna, mengabarkan Injil ke Lidia dan Misia di Asia Kecil.
Akhirnya, mereka sampai di Hierapolis Frigia (sekarang Pamukkale, Turki), kota yang saat itu sangat memuja ular. Banyak orang menjadi percaya karena pelayanan mereka, termasuk istri prokonsul yang disembuhkan dari sakitnya. Prokonsul Antipatas marah karena istrinya menjadi pengikut Kristus. Dia menangkap Filipus dan rekan sekerjanya, kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada mereka. Filipus dan Bartolomeus digantung terbalik di sebuah pohon dengan paku dan kait besi yang ditancapkan pada tumit dan lutut mereka. Saat itu timbul gempa bumi hingga tanah terbuka. Dalam kondisi tergantung, Filipus berdoa untuk keselamatan orang-orang yang telah menyiksanya. Kejadian ini menyebabkan banyak orang menjadi percaya pada Kristus dan berusaha membebaskan keduanya. Bartolomeus masih dalam kondisi hidup saat diturunkan dari gantungannya, tetapi Filipus mati menjadi martir. Peristiwa ini terjadi di sekitar tahun 80. Mariamna memakamkan saudaranya di Hierapolis dan pada makam tersebut kemudian didirikan sebuah gereja.
Pada 26 Juli 2011, tim arkeolog yang dipimpin Prof Francesco D’Andria menemukan sebuah bangunan gereja yang diyakini pernah menjadi makam Filipus di situs penggalian kuno Hierapolis, provinsi Denizli, Turki. Makam tersebut tidak berada dalam Martirium Filipus sebagaimana dipercaya sebelumnya, melainkan berada sekitar 40 meter di luarnya. Gereja ini diperkirakan dibangun antara abad keempat dan kelima, hampir bersamaan dengan pembangunan martirium. Penemuan gereja ini memberikan titik terang mengenai bangunan yang tergambar dalam stempel roti perunggu dari abad keenam yang tersimpan di Museum Seni Virginia di Richmond. Bangunan berkubah di sisi kanan figur Filipus adalah martirium, sedangkan bangunan gereja basilikal Bizantium di sisi kiri adalah gereja yang baru ditemukan tersebut.
Kemungkinan karena gempa bumi yang sering terjadi di Hierapolis, relik Filipus dipindahkan ke Konstantinopel. Pada tahun 560 sebagian besar relik dipindahkan ke Roma dan disemayamkan di Gereja Rasuli Suci, Roma, bersama relik Yakobus Muda. Relik lain, yaitu fragmen tulang tengkorak, dipindahkan dari Konstantinopel ke Pafos, Siprus, pada tahun 1204, dan kemudian disemayamkan di Biara Salib Suci, Omodos, pada tahun 1788.
Reruntuhan Martirium Filipus di kota kuno Hierapolis, Denizli, Turki
Reruntuhan gereja yang dipercaya merupakan makam Filipus di kota tua Hierapolis, Denizli, Turki
Stempel roti perunggu dari abad keenam yang menunjukkan gambar Filipus dengan dua bangunan, yaitu Martirium (kanan) dan gereja basilikal Bizantium (kiri).
Gereja Rasuli Suci, Roma
Sarkofagus berisi relik Filipus dalam Gereja Rasuli Suci, Roma
Biara Salib Suci, Omodos, Siprus
Relikui berisi relik fragmen tengkorak Filipus di Biara Salib Suci, Omodos, Siprus
Referensi
Appleby S (2013) Commemoration of the Apostle Philip, and beginning of the Nativity Fast. Diambil dari: http://georgianorthodoxchurch.wordpress.com/2013/11/27/commemoration-of-the-apostle-philip-and-beginning-of-the-nativity-fast
Associates for Biblical Research (2011) Martyrium of Apostle Philip Found. Diambil dari: http://www.biblearchaelogy.org/post/2011/08/04/Martyrium-of-Apostle-Philip-Found.aspx
Biblical Archaeology Society Staff (2012) Tomb of Apostle Philip Found: Discovery Made at Hierapolis, One of the Major Christian Sites in Turkey. Diambil dari: http://www.biblicalarchaelogy.org/daily/biblical-sites-places/tomb-of-apostle-philip-found/
Sanidopoulos J (2009) The Fate of the Relics of the Apostle Philip. Diambil dari: http://www.johnsanidopoulos.com/2009/11/fate-of-relics-of-apostle-philip.html
Sanidopoulos J (2011) The Tomb of the Apostle Philip Discovered In Hierapolis. Diambil dari: http://www.johnsanidopoulos.com/2011/07/tomb-of-apostle-philip-discovered-in.html
Bartolomeus atau Natanael
Nama Bartolomeus, secara harfiah berarti ‘anak Tolmai’. Sehingga nama tersebut diduga merupakan penjelasan mengenai keluarganya. Hieronimus memiliki opini bahwa Bartolomeus memiliki darah bangsawan. Menurut Hieronimus, kemungkinan arti namanya adalah ‘keturunan Talmai’. Dalam 2 Sam 3:3 disebutkan bahwa Talmai adalah raja Gesur, yang memiliki anak perempuan bernama Maakha, salah satu istri Daud dan ibu Absalom. Kemungkinan kedua, Hieronimus mengaitkannya dengan Ptolemaeus, penguasa Mesir, sehingga arti namanya bisa jadi ‘keturunan Ptolemaeus’. Kedua dugaan tersebut belum tentu benar, tetapi cukup menarik jika kelompok 12 rasul dapat menyatukan orang berdarah biru dengan kelompok nelayan ‘rendahan’ dari Galilea.
Identitas Bartolomeus sama dengan Natanael diungkapkan pertama kali oleh seorang penulis Nestorian abad kesembilan, Elias al-Ğawharī dari Damaskus. Matius, Markus, dan Lukas selalu menuliskan Bartolomeus bersama dengan Filipus. Yohanes menyebutkan bahwa Filipus yang membawa Natanael kepada Yesus (Yoh 1:45). Dari kedua informasi tersebut dipercaya bahwa Bartolomeus dan Natanael adalah orang yang sama.
Tradisi menyebutkan deskripsi fisik Bartolomeus sebagai seorang dengan rambut hitam ikal, kulit putih, mata lebar, hidung lurus, rambutnya menutupi kedua telinga, jenggot panjang yang sebagian berwarna kelabu, dan tinggi badan sedang. Dia mengenakan jubah putih dengan segaris warna nila, dan mantel putih dengan empat permata nila pada ujung-ujungnya. Selama 26 tahun pakaian itu digunakannya tanpa menjadi usang. Sepatunya juga dikenakan hingga 26 tahun. Dia berdoa seratus kali saat siang, dan seratus kali saat malam. Suaranya bagaikan terompet, para malaikat menanti-nantikannya. Dia selalu riang dan menguasai banyak bahasa.
Bartolomeus diperkenalkan kepada Yesus oleh Filipus di Betania, menjelang Yesus berangkat ke Galilea (Yoh 1:45-51). Dia berasal dari Kana yang di Galilea (Yoh 21:2). Saat pertama kali Filipus memberinya informasi mengenai Yesus, Natanael menunjukkan ketidakpercayaannya dengan pertanyaan bagaimana mungkin ada sesuatu yang baik dari Nazaret, tetapi tidak menolak saat Filipus mengajaknya menemui Yesus. Saat pertama kali bertemu, Yesus berkomentar bahwa Natanael adalah orang Israel sejati, bersikap apa adanya. Natanael bertanya dari mana Yesus bisa mengenalnya. Yesus pun menjawab bahwa Dia telah melihatnya di bawah pohon ara sebelum Filipus memanggilnya. Mendengar hal itu, Natanael mengucapkan pengakuannya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Raja orang Israel. Lalu Yesus menjawabnya, “Hanya dengan mendengar perkataanKu bahwa Aku telah melihatmu di bawah pohon ara dan kamu pun percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.  Engkau akan melihat langit terbuka dan  malaikat-malaikat Tuhan turun naik kepada Anak Manusia.” (Yoh 1:45-51) à apa maksudnya?
Selebihnya tidak ditemukan informasi khusus mengenai Natanael dalam Alkitab selain keikutsertaannya dalam Perjamuan Malam Terakhir dan Pentakosta.
Dalam kisah ‘Pelayanan Bartolomeus di Oasis’ disebutkan bahwa Bartolomeus mengajar di Oxyrhynchus (Al Bahnasa), 160 km selatan Kairo. Berdasarkan ‘Pelayanan Andreas dan Bartolomeus’, dia bekerja di antara orang-orang Partia. Tradisi yang lain menyebutkan Bartolomeus melayani di Frigia, Asia Kecil.
Berdasarkan kitab apokrif Injil Bartolomeus, sahabat Filipus ini mengabarkan Injil di India dengan membawa salinan Injil Matius. Eusebius menyatakan dalam Sejarah Gereja bahwa pada tahun 180, Pantenus dikirim oleh Demetrius, uskup Aleksandria, sebagai misionaris hingga ke India. Di sana dia mendapatkan informasi bahwa Bartolomeus sebelumnya telah mengajar dan memberikan salinan Injil Matius dalam bahasa Ibrani. Salinan ini di kemudian hari dibawa Pantenus ke Aleksandria.
Berdasarkan kitab apokrif Kisah Filipus, Bartolomeus mengabarkan Injil bersama Filipus dan saudarinya hingga ke Hierapolis. Di sini mereka menyembuhkan istri prokonsul setempat. Pertobatan wanita ini menyebabkan kemarahan prokonsul tersebut, yang berujung penyiksaan untuk ketiganya. Dua sahabat dekat ini dihukum mati dengan penyaliban. Gempa bumi terjadi dan bumi merekah menelan para penyiksa kedua rasul. Orang-orang yang melihat ini pun segera berusaha membebaskan Filipus dan Bartolomeus. Bartolomeus yang dilepaskan pertama dapat bertahan hidup, sedangkan Filipus meninggal dunia setelah diturunkan dari pohon tempatnya digantung.
Pasca kematian Filipus, Bartolomeus dan Mariamna pergi mengabarkan Injil ke timur hingga mencapai Armenia. Berdasarkan tradisi Armenia, sebelumnya Yudas Tadeus sudah lebih dulu melayani di daerah tersebut, antara tahun 43-66. Bartolomeus bergabung dengannya sekitar tahun 60.
Pada tahun 68, Bartolomeus menjadi martir di Albanopolis (sekarang Derbend), Rusia. Sementara Mariamna, yang kembali kehilangan rekan sekerjanya, melanjutkan tugas pengabaran Injil hingga kematiannya di Likaonia. Berdasarkan Martirologi Roma, Astiagus memerintahkan penyiksaan dan hukuman mati untuk  Bartolomeus karena telah menyebabkan saudaranya, Polimius, yang juga adalah Raja Armenia menjadi percaya kepada Yesus. Bartolomeus disiksa dengan cara dikuliti hidup-hidup dan kemudian dipenggal. Tradisi yang lain menyebutkan bahwa Bartolomeus dikuliti dan disalibkan dengan posisi kepala di bawah.
Biara Santo Bartolomeus didirikan di lokasi kematian Bartolomeus pada abad keempat. Lokasi biara tersebut dekat kota Başkale (Albayrak), provinsi Van, bagian tenggara Turki. Makamnya berada dalam katedral di area biara, menjadikan tempat ziarah penting di Armenia sebelum genosida. Bersama dengan Tadeus, Bartolomeus menjadi santo pelindung Gereja Armenia.
Setelah peristiwa tragis Genosida Armenia di awal abad ke-20, biara tersebut di bawah kendali militer Turki dan seluruh situs menjadi basis militer hingga saat ini. Di awal tahun 1960an, kubah gereja masih terlihat, tetapi kondisi fisik bangunan rusak berat. Pada tahun-tahun itu biara dirusak oleh tentara Turki dengan bahan peledak. Katedral utama saat ini berupa reruntuhan. Area tersebut menjadi tempat terlarang untuk didekati.
Dalam ‘Codex Fuldensis’, Viktor, uskup Kapua abad keenam, menyebutkan lokasi makam Bartolomeus di Doliche (Dülük, Gaziantep?), Frigia [In Frigia nella citta di Doliche].
Theodorus Studita (759-826) menyebutkan bahwa pada tahun 507-508 relik Bartolomeus dipindahkan ke Dara, Mesopotamia, di tenggara Turki, oleh Kaisar Anastasius (430-518). Sebelumnya, ada yang menyebutkan relik tersebut dipindahkan dari Albanopolis ke Nephergerd-Mijafarkin (Nipur?). Relik tersebut disimpan dalam Gereja Santo Bartolomeus, salah satu dari dua gereja besar di Dara saat itu. Pada tahun 573-574, Khosrau I (501-579) dari Kekaisaran Sasaniyah, Persia, merebut kota yang juga dikenal sebagai Anastasiopolis ini. Sebagian pengungsi mengamankan relik dalam peti dan membawanya hingga ke pesisir Laut Hitam. Namun tentara Persia berhasil mengejar mereka, kemudian merampas dan membuang peti berisi relik ke laut. Georgius dari Tours (538-594) menceritakan bahwa peti tersebut tetap terapung dan terbawa arus hingga terdampar di pantai Portinenti, Lipari. Lipari merupakan pulau kecil di utara pesisir Sisilia. Uskup Agatho menemukan dan kemudian menyimpan relik tersebut dalam katedral di Lipari. [Beberapa dokumen menyebutkan Uskup Agatho dari Lipari diturunkan dan digantikan oleh Paulinus, Uskup dari Taurum, pada tahun 592, atas perintah Paus Gregorius I. Namun, tradisi di Lipari percaya bahwa relik terdampar dan ditemukan pada 13 Februari 264 oleh Agatho I, yang menjadi uskup di pulau itu antara tahun 251-313. Berdasarkan penelusuran literatur, tradisi ini diragukan kebenarannya.]
Pada abad ke-9, Sisilia dikuasai oleh Arab. Laut Tirenia mulai dimasuki oleh bajak laut Saracen. Melihat adanya ancaman serangan terhadap Pulau Lipari, jemaat berniat untuk mengamankan relik ke daratan Italia. Namun pada April 838, pasukan Saracen terlebih dulu menyerang Lipari dan membunuh hampir semua penduduknya. Katedral diacak-acak, kotak relik dibuka dan diambil, setelah isinya dibuang begitu saja. Setelah para penjarah pergi, tiga-empat biarawan tua yang selamat dari pembantaian mengumpulkan kembali tulang Bartolomeus.
Dalam ‘Tawarikh Salerno’, yang memaparkan sejarah Salerno (daerah di selatan Benevento) antara tahun 774-974, disebutkan bahwa Pangeran Sicardo, penguasa Benevento antara tahun 832-839, memerintahkan pemindahan relik Bartolomeus dari Lipari ke Benevento. Relik tersebut tiba dan mulai disimpan di Benevento, Italia, pada 25 Oktober 839. [Pustakawan Anastasius (810-878) menyebutkan tahun 809?] Pada masa ini mulai bermunculan tempat-tempat yang menyatakan menyimpan sebagian relik Bartolomeus.
Dalam biografinya, Yosef Himnografer (816-886) menceritakan bahwa dia menerima relik dari satu bagian tubuh Bartolomeus. Yosef membawa relik tersebut ke biaranya, dekat Konstantinopel. Kemudian dia mendirikan gereja dengan nama Bartolomeus, untuk menyimpan relik tersebut.
Relik Bartolomeus dipindahkan dari Benevento ke Roma oleh Kaisar Jerman, Otto III (980-1002) pada tahun 983. Kaisar Otto III lebih lanjut mendirikan sebuah basilika di samping kuil kuno Aesculapius, di sebuah pulau kecil di tengah Sungai Tiber, Roma. Relik Bartolomeus selanjutnya disemayamkan dalam basilika yang kemudian dikenal dengan nama Basilika Santo Bartolomeus tersebut.
Tidak semua relik dipindahkan dari Lipari pada tahun 839. Biarawan katedral di Lipari masih menyimpan relik berupa fragmen tengkorak dan sebuah lengan.  Pada tahun 1035, Pisa menyerang Saracen di Lipari. Relik kemudian dibawa ke Pisa dan disemayamkan di gereja besar [Chiesa Maggiore]. Tetapi, biarawan Lipari masih menyimpan tulang ibu jari Bartolomeus.
Pada tahun 1544 Lipari kembali dibumi-hanguskan dan hampir seluruh penduduknya dijadikan budak. Kali ini pelakunya adalah gabungan armada Ottoman yang dipimpin Khairuddin Barbarossa (1466-1546) dan armada Perancis yang dipimpin Antoine Escalin des Aimars (1498-1578). Pasukan sekutu Franko-Ottoman itu menyerang pesisir barat Italia, termasuk Lipari. Katedral lagi-lagi mengalami penjarahan. Relik diambil dan dibawa ke Konstantinopel. Seorang pedagang Spanyol membeli dan membawanya ke Naples. Uskup Lipari yang baru ditahbiskan, Martin de Acuña (menjabat sebagai uskup 1585-1593), yang saat itu sedang berada di Napoli, menebusnya dengan 500 keping emas, sesuai jumlah yang dikeluarkan pedagang itu saat membelinya di Konstantinopel. Relik tersebut kembali ke Lipari dan disimpan dalam katedral pada tahun 1585, dalam sebuah relikui berbentuk lengan perak.
Katedral Frankfurt, Jerman dan Biara Karakalou di Gunung Athos, Yunani, masing-masing mengklaim memiliki fragmen tengkorak Bartolomeus. Berbeda dengan tengkorak yang tersimpan di Pisa relatif utuh, di dua tempat ini relik diinfokan berupa bagian ubun-ubun (?).
Pada abad ke-11, istri Raja Knut atau Kanute, Ratu Emma (985-1052), mempersembahkan relik lengan Bartolomeus yang dibelinya dari uskup dari Benevento ke Katedral Canterbury, Inggris. Versi lain menyebutkan bahwa relik lengan tersebut diberikan oleh Edward sang Pengaku (1003-1066), yang tidak lain adalah anak Ratu Emma dari suami pertamanya, Ethelred II. Tetapi relik Bartolomeus sekarang tidak ada di sana.
Reruntuhan Biara Santo Bartolomeus, Başkale, Turki
Reruntuhan di Dara (Mesopotamia), Turki
Katedral Santo Bartolomeus, Lipari, Sisilia, Italia
Relikui berisi ibu jari Bartolomeus dalam Katedral Santo Bartolomeus, Lipari
Basilika Santo Bartolomeus, Benevento, Italia
Campo Santo, Pisa, Italia
Relik yang diklaim sebagai tengkorak Bartolomeus di Kapel Relik Suci (dal Pozzo), Campo Santo, Pisa, Italia
Basilika Santo Bartolomeus di Pulau, Roma
Relikui Santo Bartolomeus dalam Basilika Santo Bartolomeus di Pulau, Roma
Katedral Catenbury, Inggris
Katedral Santo Bartolomeus Frankfurt, Jerman
Relikui berisi fragmen tengkorak Bartolomeus di Katedral Santo Bartolomeus Frankfurt, Jerman
Biara Karakalou, Gunung Athos, Yunani
Referensi
Archivio Storico Eoliano.  http://www.archiviostoricoeoliano.it/
Basilica di San Bartolomeo Apostolo in Benevento. Diambil dari: http://www.basilicasanbartolomeo.com/
BiblePath.com: The Apostle Bartholomew. Diambil dari: http://www.biblepath.com/bartholomew.html
Bird D (2012) Feast of St Bartholomew, Apostle and Patron Saint of Armenia. Diambil dari: http://fatherdavidbirdosb.blogspot.com/2012/08/feast-of-st-bartholomew-apostle-and.html
Bonte B, Småberg T (2013) Devising Order: Socio-religious Models, Rituals, and the Performativity of Practice. Leiden: Koninklijke Brill  
Doliche/Dülük: Kültürler Kavşağı. Diambil dari: http://www.doliche.org/indextr.htm
Finding Saints in Rome: St. Bartholomew. Diambil dari: http://www.findingsaintsinrome.com/2013/08/st-bartholomew.html
Hophan O (1962) The Apostles. Westminster: Newman Press
Institute of Traditional Medicines: St. Bartholomew, Apostle of Healing. Diambil dari: http://www.itmonline.org/bodytheology/stbart.htm
La storicità di Agatone e la data del 13 febbraio 264. Diambil dari: http://www.archiviostoricoeoliano.it/wiki/la-storicit%C3%A0-di-agatone-e-la-data-del-13-febbraio-264
McBirnie WS (2013) The Search for the Twelve Apostles. Carol Stream: Tyndale House
O’Brien H (2005) Queen Emma and the Vikings: The Woman Who Shaped the Events of 1066. London: Bloomsbury
Return of the Relics of the Apostle Bartholomew from Anastasiopolis to Lipari. Diambil dari: http://oca.org/saints/lives/2013/08/25/102392-return-of-the-relics-of-the-apostle-bartholomew-from-anastasiopo
Sayin N (2003) The Mesopotamian Ruins of Dara Near the Syrian Border. Diambil dari: http://turkishtravelblog.com/ruins-of-dara-southeast-turkey/
Tronci P (1682) Memorie Istoriche della Citta di Pisa Raccolte da Monsig. Paolo Tronci. Livorno: G. Vincenzo Bonfigli
Walsh C (2007) The Cult of St Katherine of Alexandria in Early Medieval Europe. Aldershot: Ashgate
Jones CD (2010) The Apostles of Jesus Christ. Xlibris Corporation
Artikel terkait
13 Apostles (Bagian 1)
13 Apostles (Bagian 2)
13 Apostles (Bagian 3)
13 Apostles (Bagian 5)