Sunday, 8 March 2015

Bulan di Atas Qom

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Jumat (6/3) petang pukul 17.00. Di depan pintu utama Masjid Jamkaran, Qom, Iran, kami berdiri, bercakap-cakap dalam suasana penuh persaudaraan. Jamkaran adalah kota kecil - yang sekaligus menjadi nama masjid - enam kilometer sebelah timur Qom. Masjid Jamkaran adalah salah satu tempat suci bagi para peziarah Muslim Shiah.
fbc180379f6b3e37bdc13049de5659e9.jpg
Bulan di atas Masjid Jamkaran (Ahmed Reda)
Kaum Shiah memiliki kepercayaan, pada suatu masa nanti, Imam Keduabelas atau Imam Mahdi atau Muhammad al-Mahdi, sosok mesiah yang mereka yakini, akan datang di situ. Dari sanalah, Imam Mahdi, yang mereka sebut Imam Zaman, akan memimpin era perdamaian dunia. Ribuan peziarah, bahkan jutaan, setiap Selasa dan Kamis malam, bersembahyang di Masjid Jamkaran memohon bantuan Imam Zaman, dan mengharap segera kedatangannya.
Jamkaran hanya satu dari sejumlah tempat ziarah kaum Shiah di Qom. Tempat ziarah utama adalah makam Fatima Masumeh. Fatimah adalah adik perempuan Imam 'Al ibn-Ms Rid, Imam Kedelapan. Ini yang menjadikan Qom tempat suci, kota suci kedua di Iran bagi warga Shiah setelah Mashad.
Qom, ibu kota Provinsi Qom, terletak 125 km barat laut Teheran. Kota ini dapat dijangkau dengan mudah, karena dihubungkan oleh jalan bebas hambatan yang lebar dan mulus. Qom, sebagai tempat suci, sama dengan Karbala, Kufa, dan Najaf, kota-kota suci kaum Shiah di Irak, yang kesepuluh tahun silam saya kunjungi. Di Najaf pula, dulu Ayatollah Khomeini pernah tinggal saat dipaksa meninggalkan Iran oleh Shah Iran.
Petang itu, di depan pintu utama berornamen warna biru indah, Mohammad H Zamani dengan tutur kata yang halus mengatakan, "Marilah masuk ke masjid. Ini tempat berdoa. Anda bisa berdoa secara Nasrani, dan saya secara Islam. Di dalam tempat ini, kita sama-sama memuji dan meluhurkan Allah. Kita semua manusia, menyembah Allah. Karena itu, kita harus saling menghormati."
Lelaki bersorban putih, berjubah putih, berpenutup warna coklat, berkumis, berjambang, dan berjenggot hampir semuanya putih itu terus berbicara. Ia berbicara dalam bahasa Parsi yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Ali, seorang ahli Al Quran asal Qom. "Saya pernah seminggu tinggal di Vatikan, menghadiri konferensi dengan para uskup. Saya tidur di Vatikan, dianggap sebagai saudara. Maka, sekarang pun, saya sebagai tuan rumah di tempat ini menyambut Anda sebagai saudara. Ayo masuk, tidak usah ragu-ragu. Di luar udara sangat dingin," katanya lembut sambil terus memegang tangan saya.
Apa yang dikemukakan Zamani adalah ungkapan keramahtamahan iman yang terbuka menerima pihak berbeda. Ia menerima dengan ketulusan, tanpa basa-basi. Sikap inilah yang ini jarang kita rasakan, termasuk di Indonesia. Padahal, iman yang terbuka, dalam sikap keramahtamahan, sungguh sangat diharapkan. Kita membutuhkan iman atau keberagaman yang terbuka. Bangsa Indonesia beragam dalam segala hal, suku, etnis, agama, budaya, dan lainnya. Keberagaman itu bukan kelemahan, justru kekuatan yang mempersatukan Indonesia. Keberagaman itu rahmat.
Semua agama, misalnya, tentu punya keunikan doktrin dan ritual masing-masing. Namun, semua agama juga memiliki dimensi kesamaan dalam etika sosial untuk bersama-sama menjunjung tinggi kehidupan; menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Di sinilah sesungguhnya keunikan Pancasila yang mewajibkan para pemeluk agama untuk bertuhan dan saling menghormati agama-agama yang ada; agar para pemeluknya saling menghormati.
Dengan demikian tercipta perdamaian. Perdamaian itu bukan sekadar tiadanya konflik bersenjata, melainkan terciptanya situasi saat akhirnya kebenaran akan kemanusiaan sejati dihargai dan diwujudkan. Alangkah indahnya kalau kita semua mengubah kebencian menjadi cinta, balas dendam menjadi pengampunan, perang menjadi damai. Tidak mudah memang. Akan tetapi, bisa dengan segala cara dan usaha.
Kami akhirnya berdampingan masuk Masjid Jamkaran. Sambil tersenyum, Zamani mengatakan agar saya mengikuti ke mana ia masuk. "Silakan berdoa," katanya.
Satu jam lebih kami di dalam masjid - berdoa dan berdiskusi panjang lebar tentang banyak hal, soal kehidupan, dan soal hubungan antaragama. Ketika akhirnya kami keluar masjid, hari telah malam. Namun, di langit yang begitu bersih, kami lihat bulan-bulat menggantung di langit di atas Masjid Jamkaran. Semua indah pada waktunya. (Dari Qom, Iran)
Kompas, Minggu, 8 Maret 2015