Wednesday, 27 July 2016

Deteksi Kelainan Enzim Sebelum Obati Malaria

WAINGAPU, KOMPAS — Malaria masih menjadi penyakit mematikan, terutama di Sumba, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Di Sumba, penanganan penyakit itu lebih kompleks karena sebagian warga mengalami kelainan enzim pemicu perdarahan akibat konsumsi obat malaria primakuin.
Proses pengambilan sampel genetika di Kampung Waru Wora, Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Selasa (26/7).    Selain untuk mengetahui asal-usul, hal ini dilakukan untuk pemeriksaan kesehatan, khususnya malaria dan resistensi terhadap obat-obatan.
Proses pengambilan sampel genetika di Kampung Waru Wora, Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Selasa (26/7). Selain untuk mengetahui asal-usul, hal ini dilakukan untuk pemeriksaan kesehatan, khususnya malaria dan resistensi terhadap obat-obatan. (Kompas/Ahmad Arif)
"Orang yang positif memiliki kelainan enzim G6PD (defisiensi enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase) sensitif pada beragam obat, di antaranya primakuin yang selama ini untuk mengobati malaria vivax. Dampak buruknya adalah pasien akan terkena anemia hemolitik," kata Herawati Sudoyo, Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, di Waingapu, Rabu (27/7).
Anemia hemolitik atau pecahnya sel darah merah bisa memicu perdarahan. Karena itu, tes G6PD perlu dilakukan secara komprehensif di Sumba agar tak salah dalam pemberian obat. Riset tentang G6PD di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya dilakukan sejak 2014 dan hasilnya dipublikasikan pada Maret 2015, sedangkan penelitian lanjutan dipublikasikan baru-baru ini.
"Studi tahun 2015 menemukan, kelainan G6PD di Sumba tinggi dan beragam. Penelitian pada 2.033 orang di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya menemukan, 104 orang mengalami kelainan enzim atau 5,1 persen," kata Herawati.
Dalam penelitian itu juga dilakukan tes malaria yang menemukan prevalensinya mencapai 5,9 persen di daerah pantai dan 0,2 persen di pedalaman. "Angka ini linier dengan angka defisiensi G6PD di pantai 6,7 persen, sedangkan di pedalaman 3,1 persen," ucap Herawati.
Angka lebih rinci di daerah amat bervariasi, ada yang sangat tinggi dan ada yang relatif rendah. Untuk Sumba Barat Daya, misalnya, frekuensi terendah terdapat di Desa Waimaringi, yakni 2,46 persen, sedangkan di Desa Karangindah mencapai 37,28 persen. Untuk Sumba Barat, frekuensi terendah ditemukan di Waihura sebanyak 0,91 persen dan di Wetana 14,54 persen.
Menurut Herawati, G6PD adalah mutasi genetika sebagai respons tubuh pada parasit malaria. Di Sumba, tipe G6PD yang ditemukan pada 98 persen penderitanya, memiliki tipe Vanua lava, Viangchan, dan Chatham. "Tiga tipe ini bisa menyebabkan defisiensi berat," ujarnya.
Endemis tinggi
Kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat Bonar Sinaga memaparkan, malaria masih jadi masalah serius di Sumba meski upaya penanggulangannya dilakukan sejak puluhan tahun lalu. "Masalah sosial jadi kendala utama karena pola hidup warga," katanya.
content
Kondisi rumah warga yang cenderung terbuka membuat malaria sulit diputus. Karena itu, sejak beberapa tahun terakhir, penerapan program pembagian kelambu membantu menekan angka malaria di Sumba.
Data Annual Parasite Incidence (API) tahun 2015 menunjukkan, infeksi malaria tertinggi di Indonesia terjadi di Papua (28,44 per 1.000 penduduk) dan Papua Barat (27,24 per 1.000 penduduk), disusul NTT (6,8 per 1.000 penduduk). Secara nasional, API 0,82 per 1.000 penduduk. Untuk NTT, tingkat infeksi di Kabupaten Lembata adalah yang tertinggi, disusul Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya.
Berdasarkan survei tim Eijkman di lima desa selama sepekan terakhir, mayoritas warga Sumba pernah menderita malaria. Dari 30 warga perwakilan marga yang diambil sampel darahnya di Desa Rindi, Kecamatan Sumba Timur, misalnya, hanya tiga orang yang belum pernah menderita malaria.
Menurut ahli malaria dari Lembaga Eijkman, Syafruddin, saat ini sebenarnya kasus malaria jauh menurun dibandingkan sepuluh tahun lalu. Namun, masih ada sejumlah kantong malaria di wilayah Sumba, terutama di kawasan pesisir selatan Sumba.
"Secara rata-rata memang menurun, namun di kantong-kantong ini angkanya bisa amat tinggi, ada yang lebih dari 40 persen," ujarnya. "Karena itu, seharusnya kini eliminasi didorong melalui survei rutin dan penanganan intensif. Jika itu tak dilakukan, malaria bisa kembali menyebar dari kantong-kantong itu."
Untuk mempelajari pembauran genetika, tim peneliti Lembaga Eijkman dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bekerja sama dengan Nanyang Technological University, Singapura, mengambil sampel populasi di delapan desa di empat kabupaten di Pulau Sumba. Kegiatan itu dilakukan pada 22 Juli-2 Agustus 2016.
Menurut Herawati, pembauran genetika membantu menjelaskan penyebaran penyakit dan daya tahan tubuh. Pulau Sumba adalah daerah endemis malaria. Untuk itu, Eijkman mendirikan laboratorium khusus malaria di Sumba sejak 10 tahun lalu (Kompas, 25/7). (AIK)

Kompas, Kamis, 28 Juli 2016