Saturday, 2 July 2016

Toleransi Mengalun di Desa Balun

Oleh A PONCO ANGGORO
Masjid, gereja, dan pura berdiri berdekatan di Desa Balun, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Umatnya pun hidup berdampingan dalam suasana damai. Toleransi telah menjadi kesadaran setiap umat. Salah satunya saat bulan Ramadhan, hal itu jelas terlihat.
Warga mendatangi Masjid Miftahul Huda di Desa Balun, Lamongan, Jawa Timur, Minggu (19/6). Masjid Miftahul Huda berdiri tak jauh dari Pura Sweta Maha Suci dan Gereja Kristen Jawi Wetan Balun.
Warga mendatangi Masjid Miftahul Huda di Desa Balun, Lamongan, Jawa Timur, Minggu (19/6). Masjid Miftahul Huda berdiri tak jauh dari Pura Sweta Maha Suci dan Gereja Kristen Jawi Wetan Balun. (Kompas/Angger Putranto)
Suara beduk bertalu-talu, azan Maghrib di Masjid Miftahul Huda, Balun, berkumandang, Minggu (19/6). Umat Islam pun mulai menjalankan ritualnya, shalat Maghrib.
Tidak lama setelah mereka usai, dentang lonceng terdengar sayup-sayup dari Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Balun. Giliran umat Kristen di Balun yang menjalankan ibadahnya.
Bersamaan dengan itu, umat Hindu di Balun juga menunaikan kewajibannya, sembahyang purnama di Pura Sweta Maha Suci. Sembahyang yang menjadi ritual rutin saat bulan purnama itu berakhir sebelum umat Islam menunaikan shalat Tarawih.
Ritual ini seharusnya digelar malam hari. Namun, umat Hindu sadar betul, setiap malam hari saat bulan Ramadhan, umat Islam harus menjalankan shalat Tarawih. Dari kesadaran itu, umat Hindu di Balun tanpa berat hati mengubah jadwal ritualnya agar umat Islam bisa khusyuk menjalankan Tarawih.
"Kami beribadah menyesuaikan kondisi di tempat kami berada. Waktunya pun fleksibel. Jadi tidak masalah jika kami tidak menggelar sembahyang purnama malam hari," tutur Mangku Pura Sweta Maha Suci Ngaridjo.
Tak hanya umat Hindu, umat Kristen pun menyesuaikan jadwal ibadahnya dengan waktu azan Maghrib. Lonceng sebagai tanda dimulainya ibadah Minggu baru dibunyikan saat azan Maghrib usai dikumandangkan.
Jadilah suara beduk dan azan, dentang lonceng, dan suara umat Hindu mengucapkan doa-doanya terdengar bak melodi lagu yang indah. Masing-masing bergantian, tidak berlomba adu cepat.
Harmoni antarumat beragama ini tak hanya terlihat saat Ramadhan. Pada kesempatan lain, ketika umat Hindu memperingati Nyepi, misalnya, umat Islam di Balun rela mematikan lampu di masjid agar cahayanya tidak menerangi pura.
Tahun 2012, saat Nyepi jatuh pada hari Jumat, umat Islam bahkan rela mendengarkan khotbah Jumat hanya melalui pengeras suara kecil di dalam masjid. Mereka sengaja tidak membunyikan pengeras suara di menara masjid untuk menghormati warga lain yang Nyepi.
"Tidak ada permintaan khusus dari umat Hindu soal itu. Semua muncul begitu saja. Hal itu sudah menjadi bagian dari kesadaran hidup bersama," ujar takmir Masjid Miftahul Huda, Suwito (51).
Bersama-sama
Tak sebatas saat menjalankan ibadah, saat hari raya keagamaan setiap agama tiba, umat merayakannya bersama-sama. Bahkan umat bergotong royong, menyiapkannya bersama-sama.
Kepala Desa Balun Khusyairi menceritakan, setiap perayaan Lebaran atau malam takbiran, umat Kristen dan Hindu paling sibuk memastikan agar perayaan berjalan lancar. Mereka rela menjaga parkir kendaraan, memastikan keamanan saat takbiran keliling, hingga mengarahkan lokasi jemaah shalat Id.
Hal yang sama terjadi saat Natal. Demikian pula saat umat Hindu merayakan Nyepi, giliran umat Islam dan Kristen membantu umat Hindu membuat ogoh-ogoh, dan bersama-sama mengaraknya keliling kampung.
"Warga justru meminta arak-arakan keliling seluruh jalan desa. Kalau ada jalan desa yang tidak dilewati, warga bisa marah. Arak-arakan ogoh-ogoh memang sudah menjadi perayaan bersama semua warga. Tidak melihat lagi latar belakang agama warga," ujar Khusyairi.
Balun terdiri atas sekitar 4.600 warga. Mayoritas atau sekitar 75 persen di antaranya beragama Islam, 18 persen beragama Kristen, dan 7 persen beragama Hindu.
Menurut Ketua GKJW Jemaat Balun, Sutrisno (48), toleransi bisa hidup dan dijunjung tinggi oleh warga karena antara satu penganut agama dan lainnya terikat tali kekerabatan.
Suwito menjadi saksi hidup indahnya toleransi di keluarganya yang berbeda agama. Dia menceritakan, kakak kandungnya beragama Kristen, tetapi saat masa puasa, justru kakaknya yang paling sering mengingatkannya berpuasa.
"Kakak saya yang justru membangunkan saya saat sahur. Dia pula yang menyiapkan hidangan setiap sahur dan berbuka puasa. Saya pun tak pernah canggung saat menawarkan diri untuk mengantar-jemput keluarga mereka ke gereja, setiap hari Minggu," ujarnya.
Tak hanya bersaudara dengan umat Kristen, Suwito juga bersaudara dengan Ngaridjo.
"Bagaimana mau ribut kalau semua masalah bisa diselesaikan secara keluarga?" ungkapnya.
Harmoni kehidupan antar- umat beragama di Balun ini yang kemudian membuat desa berjarak sekitar 50 kilometer sebelah barat Surabaya itu diberi julukan "Desa Pancasila". Tak lain karena nilai-nilai Pancasila tidak sebatas slogan di desa itu.
Namun, bukan berarti harmoni kehidupan itu berjalan mulus terus tanpa rintangan. Khusyairi mengatakan, tidak jarang harmoni kehidupan itu diuji.
Salah paham antarpemuda beda agama tak jarang menjadi pemicunya. Beberapa kali pula orang dari luar Balun masuk ke Balun, berusaha untuk mengajarkan nilai-nilai agama yang jauh dari nilai toleransi. Namun, semua ujian itu bisa dilalui. Harmoni pun tetap lestari hingga kini.
Kompas, Senin, 27 Juni 2016