Monday, 25 July 2016

Lagi-lagi Palsu

Oleh RHENALD KASALI
Heboh kasus vaksin palsu membuat saya terkenang dengan perjalanan ke New York, Amerika Serikat, beberapa tahun lalu. Kolega saya penderita asam urat. Jadi, ia harus secara reguler mengonsumsi obat.
Celakanya, sekitar 45 menit sebelum pesawat yang kami tumpangi tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, ia baru sadar kalau obatnya ternyata tertinggal di rumah. Ia resah. Meski begitu, ia mengeraskan hati untuk tetap berangkat. Kerepotan pun mulai datang. Untuk mencegah serangan asam urat di pesawat, selama penerbangan ia harus minum berbotol-botol air mineral.
Akibatnya ia harus sering bolak-balik ke kamar kecil. Perjalanan panjang ke AS betul-betul membuatnya tidak nyaman. Sesampai di New York, ia langsung mencari apotek untuk membeli obat asam urat. Saya menemani. Sesampai di apotek, petugas di sana menolak menjual obat asam urat kepada kolega saya. Padahal, dia sudah menyebut mereknya dan produknya juga ada di situ.
Meski kolega saya memohon dengan sangat dan menjelaskan alasannya, sang petugas di counter tetap bersikukuh menolak. Mengapa? Sederhana saja, tak memiliki resep dokter. Padahal, sesuai aturan, obat asam urat termasuk jenis obat yang harus dibeli dengan resep dokter.
Begitulah di AS, dan banyak negara maju lainnya, peraturan dibuat untuk dipatuhi, bukan dilanggar. Akhirnya teman saya pun menyerah. Ia meninggalkan apotek dengan perasaan kecewa dan sekaligus resah, sebab kami akan berada di New York untuk sekurang-kurangnya lima hari.
Naluri primitif
Baiklah kita tinggalkan cerita tentang kolega saya tadi. Kini saya ajak Anda untuk melihat kondisi yang terjadi di negara kita—terlebih setelah meledaknya kasus vaksin palsu. Di negeri ini, bahkan untuk jenis obat yang tergolong daftar G (asal kata gevaarlijk yang artinya berbahaya) sekalipun— yang mestinya hanya bisa diperoleh dengan resep dokter—kalau Anda tahu mereknya, petugas di apotek akan dengan senang hati melayani.
1037123pasar-pramuka780x390.jpg
Kesibukan di Pasar Pramuka Jakarta Pusat, 16/12/15. (Kompas.com/Gibran Linggau)
Bahkan jika Anda tidak tahu mereknya sekalipun, asal bisa menyebutkan perkiraan jenis obat yang dibutuhkan, sang petugas masih mau mencarikan. Hanya kalau obatnya betul- betul keras dan mempunyai efek samping yang membahayakan, baru petugas akan menanyakan resep dokter. Bagaimana kalau Anda sama sekali tidak punya resep dokter? Mudah saja, pergilah ke toko-toko obat yang banyak bertebaran di mana-mana.
Di sana sang pemilik toko akan dengan senang hati melayani, bahkan kadang dia kerap bertindak layaknya dokter. Menanyakan apa sakitnya, bagaimana gejala-gejalanya, lalu merekomendasikan jenis obatnya. Apa jadinya kalau obat yang Anda cari tidak ada di toko-toko obat di sekitar rumah Anda? Bagi warga Jakarta, masih ada pilihan lain. Pergilah ke pasar obat Pramuka atau Kramatjati, keduanya di Jakarta Timur.
Di sana banyak dijual obat-obatan yang mestinya baru bisa Anda peroleh kalau memiliki resep dokter. Risikonya sudah tentu harus Anda tanggung sendiri. Baik Pasar Pramuka maupun Kramatjati sudah lama dikenal sebagai pusat grosir untuk obat-obatan dan alat-alat kesehatan. Pasarnya pun tidak gelap-gelapan, tetapi terang-terangan.
Itu terjadi bukan hanya dua atau tiga tahun belakangan ini, tetapi sudah belasan dan bahkan puluhan tahun. Pasar Pramuka, misalnya, sudah berdiri sejak 1975. Berkembangnya pasar-pasar obat tersebut menggambarkan betapa longgarnya pengawasan dan terlalu bebasnya distribusi obat-obatan di negara kita. Maka saya tak heran kalau kasus vaksin palsu, mungkin juga kelak obat palsu, menjadi ramai belakangan ini.
Buat saya, lemahnya pengawasan dan bebasnya distribusi obat-obatan ibarat bom waktu. Persoalannya tinggal kapan meledaknya. Dan mengapa kita begitu murka dengan kasus vaksin palsu? Sebab ini melibatkan anak-anak. Anda tahu kalau sudah bicara soal anak, apalagi bayi dan balita, yang muncul adalah naluri primitif. Persis seperti harimau yang marah dan siap menyabung nyawa kalau anak-anaknya diganggu, begitu pulalah kita.
Silakan kalau Anda ingin menambahkan analisis yang lain. Misalnya mungkin sebagai bangsa, kita berpotensi gagal memetik bonus demografi pada 2020-2030, karena anak-anak yang kelak menjadi penyangga utamanya ternyata bermasalah. Kondisi kesehatannya tidak prima dan tingkat imunitasnya rendah. Itu, antara lain, akibat vaksin palsu.
Kita penciptanya
Sesungguhnya bangsa kita sudah biasa menghadapi soal yang palsu-palsu semacam ini. Kasusnya mudah ditemukan di mana-mana dan Anda pasti pernah dengar. Misalnya kasus ijazah palsu, SIM atau STNK palsu, surat nikah palsu, dan paspor palsu. Itu yang terkait dokumen negara. Masih banyak produk palsu lainnya. Misalnya dokter palsu, sarjana atau doktor palsu, polisi atau TNI palsu, dan hakim palsu.
Bahkan, vonis atau putusan pengadilan pun dipalsukan. Belum lagi laki-laki atau perempuan palsu yang baru diketahui setelah pasangan menikah. Mulai biasa kita dengar juga. Kalau bicara barang, ada sepatu bermerek yang palsu, tas palsu, fashion palsu, parfum palsu, jam tangan, ponsel, bahkan alat-alat dapur dan masih banyak lagi. Ada juga buku bajakan, CD dan DVD bajakan, software bajakan dan sebagainya. Bicara jasa, ada investasi bodong.
Kalau soal hiburan, cobalah tengok sinetron atau acara yang tayang di stasiun-stasiun TV kita. Nyaris semuanya menebar mimpi. Membuai masyarakat kita dengan kebohongan. Kita juga sering mendengar ungkapan yang menyiratkan kepalsuan. Maka muncullah ungkapan, senyum palsu, tawa palsu, seringai palsu, sampai rayuan gombal dan air mata buaya.
Di kancah politik, masyarakat kita betul-betul kenyang dibohongi. Semasa kampanye janjinya A, B, C … Z, setelah terpilih nol besar. Bahkan banyak sidang di parlemen kita yang kelihatannya saja serius, tapi isinya sebetulnya bagi-bagi proyek. Kita dibohongi oleh janji-janji palsu. Bicara barang atau jasa, sulitkah kita untuk tahu kalau itu palsu? Sama sekali tidak.
”If the price is very cheap then its almost certainly a fake.” Kalau murah, hampir pasti itu palsu, kata David Russell, musikus asal Skotlandia. Saya sengaja mengutip pernyataan David Russell, orang bule, untuk menggambarkan bahwa ini adalah fenomena yang terjadi di mana-mana di dunia. Jadi bukan khas Indonesia. Begitulah, banyak yang palsu di seputar hidup kita.
Maka tak heran kalau kita pun kerap bersikap dan berperilaku palsu. Persis kata penulis novel Dearly Devoted Dexter, Jeff Lindsay, ”Since I am not actually a real human being, my emotional responses are generally limited to what I have learned to fake.” Jadi, nikmatilah amarah orang tua pada kasus vaksin palsu ini. Tapi apakah kita sudah kapok? Rasanya kok belum. Masih banyak yang harus dibenahi.
Alih-alih menertibkan pasar obat-obatan ilegal, kita memilih berkelahi dan saling menunjuk pihak lain. Padahal momentumnya dapat saat ini. Dan—mestinya—kita mulai menaruh perhatian untuk bangun jati diri kita yang sesungguhnya dari segala kepalsuan.
Misalnya, jangan cuma mempersoalkan apakah yang kita makan itu haram atau halal, tapi persoalkan jugalah apakah uang untuk membelinya benar-benar halal? Itu tentu hanya yang punya uang yang tahu, bukan yang menjual atau yang menyaksikan. Jadi apakah kita sudah kapok?
RHENALD KASALI
Koran Sindo, Kamis, 21 Juli 2016