Saturday, 9 July 2016

Ibu-ibu "Metik"

Sebuah cerita menyebar melalui media sosial beberapa waktu lalu. Seorang pengendara mobil hampir saja menabrak seorang tetangganya yang mengendarai sepeda motor. Motor yang dikendarai seorang ibu itu tiba-tiba saja membelok tanpa memberi lampu sein, belok kiri atau kanan. Ketika ditegur kenapa tidak memberi tanda akan membelok, malah si ibu yang nyolot. "Ini, kan, motor metik, Mbak. Kita mau belok kiri atau kanan, kan udah otomatis nyala," ujarnya.
Di mana saja berada, pemandangan bersepeda motor dengan asal-asalan itu mudah ditemukan. Teknologi motor metik memang memungkinkan siapa pun mengendarainya karena ibarat mainan, cuma menyediakan gas dan rem.
Sepeda motor menjadi pilihan murah dan bisa dimiliki siapa saja. Fasilitas kredit yang mudah dan murah tersedia. Sepeda motor tidak saja dijajakan di ruang pajang (showroom), tetapi juga kini diasong ke kampung-kampung di mana pun.
Dengan penjualan sekitar 7 jutaan unit per tahun, sepeda motor kini dianggap sebagai moda angkutan yang mudah, murah, dan praktis. Penyebarannya yang luar biasa dan terkesan tanpa kendali menyebabkan siapa saja bisa memiliki dan mengendarainya. Cerita ibu-ibu metik di atas bisa menjadi ilustrasi yang mewakili betapa penggunaan sepeda motor tidak terkendali. Penggunaan sepeda motor yang mengabaikan keselamatan juga dilakukan siapa saja termasuk anak-anak di bawah umur. Orangtua melepas anak-anaknya yang belum berhak mendapatkan surat izin mengemudi untuk membawa sepeda motor.
Di kampung-kampung pinggiran Jakarta, lebih banyak anak-anak yang menggunakan sepeda motor daripada bermain sepeda. Mereka bisa melaju kencang, berboncengan lebih dari dua orang, dan bergaya seperti pembalap Tim Movistar Yamaha, Valentino Rossi. Bukan saja mengendara tanpa helm, saat berbelok alih-alih memberikan lampu sein, mereka biasanya menggunakan kaki sebagai tanda akan belok ke arah mana.
e8c6f095d86a47268ed643dfd7da05e8.jpg
Pengendara sepeda motor melawan arah di Jalan Kiai Tapa seberang Roxy Square, Jakarta, pertengahan Juni 2015. Jumlah pengendara motor yang melawan arah cukup banyak di lokasi tersebut karena mencari jalan pintas untuk masuk ke Jalan Setia Kawan Barat walau selalu mengakibatkan kemacetan. (Kompas/Lasti Kurnia)
195115720141016-074121-resized780x390.jpg
Seorang pejalan kaki terjepit di antara pengendara motor yang menggunakan trotoar untuk menghindari kemacetan. (Kompas.com/Pravita Restu Adysta)
162345420160616KP23-KCM1780x390.JPG
Pengendara motor menyerobot masuk ke jalur transjakarta di kawasan Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (16/6/2016). Penerapan sterilisasi jalur transjakarta atau busway mulai diperketat seriring semakin maraknya penyerobotan jalur tersebut. (Kompas.com/Kristianto Purnomo)
0931151separator-busway780x390.jpg
Para pengendara motor nekat membongkar pembatas jalur khusus transjakarta untuk menghindari tim gabungan polisi lalu lintas yang tengah menggelar Operasi Patuh Jaya (Berita Jakarta).
1811397Pengendara-muda-tak-pakai-helm780x390.jpg
Pengendara sepeda motor di bawah umur dan tak pakai helm. (Kompas.com/Roderick Adrian Moses)
Ch5VGBYWUAAK0QD.jpg
Pengendara di bawah umur, tanpa helm, dan berboncengan tiga.
Di jalanan Ibu Kota, ribuan sepeda motor kini menyemut memenuhi jalanan kapan saja. Merekalah kini raja jalanan. Bersama-sama mereka melakukan pelanggaran tanpa mampu dicegah oleh petugas kepolisian: melawan arus, menerabas lampu merah, menyelip di antara kendaraan lain, naik ke trotoar dan mengancam keselamatan pejalan kaki, atau memenuhi jalur khusus bus. Sesekali polisi lalu lintas mencegahnya. Selebihnya, pelanggaran lalu lintas menjadi hal biasa.
Sepeda motor bukan lagi digunakan untuk transportasi manusia, tetapi juga digunakan sebagai alat angkut lainnya, seperti gerobak bakso, siomai, hingga pengangkut barang. Mereka bisa meliuk-liuk di jalanan tanpa memedulikan pengguna lalu lintas lain akan tersenggol atau tidak.
Sepeda motor juga cara mudah untuk digunakan mencari duit. Siapa pun bisa mengojek untuk sekadar mencari uang makan atau memenuhi cicilan kreditnya.
Pada musim mudik seperti saat ini, pulang kampung dengan menggunakan sepeda motor juga menjadi pilihan. Tidak jarang, perjalanan panjang pulang kampung hingga lebih dari 100 kilometer itu mengabaikan keselamatan penggunanya. Sepeda motor akan penuh dengan gembolan bawaan, berebut tempat dengan penumpangnya.
Data Kementerian Perhubungan, jumlah kecelakaan selama arus mudik-balik tahun 2015 sebanyak 3.049 kasus dengan 657 korban tewas.
Perlu komitmen tinggi dari pihak kepolisian, pemerintah, hingga berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul akibat semakin tidak terkendalinya penyebaran sepeda motor.
Kompas, Minggu, 10 Juli 2016