Sunday, 27 March 2016

Tuberkulosis Jadi Ancaman di Kota Besar

SURABAYA, KOMPAS – Sejumlah kota besar di Jawa Timur rentan terhadap penyebaran tuberkulosis. Permukiman padat di kota besar, terutama dengan sanitasi buruk, menyebabkan kuman penyakit tersebut lebih mudah menyebar dan menular ke banyak orang.
Data Dinas Kesehatan Jawa Timur menunjukkan, 40.185 pasien tuberkulosis (TB) diobati selama tahun 2015 dan merupakan terbanyak kedua setelah Jawa Barat. Dari jumlah itu, pasien terbanyak antara lain berada di Surabaya (4.754 orang), Jember (3.128 orang), dan Sidoarjo (2.292 orang).
Kepala Dinas Kesehatan Jatim Harsono, Jumat (25/3), di Surabaya, menjelaskan, penularan TB terutama melalui percikan dahak. Potensi penularan di permukiman padat di kota besar sangat tinggi karena satu rumah bisa dihuni hingga 4 keluarga. “Di desa malah jarang muncul kasus TB,” ujarnya.
Tuberkulosis disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kuman TB yang ada di dalam rumah bisa bertahan lama jika ruangan di rumah itu tertutup dan jarang terkena sinar matahari. Karena itu, pencegahan nonmedis yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jatim untuk mencegah TB adalah menerapkan program bedah rumah.
Hariyanto dari Humas Dinas Kesehatan Kota Surabaya menuturkan, pasien TB kini tak lagi berasal dari kalangan masyarakat kurang mampu. Penularan penyakit itu juga terjadi pada golongan masyarakat menengah ke atas. Itu karena kondisi rumah selalu tertutup dan lebih banyak memakai penyejuk ruangan.
Jika ada kuman TB atau penderita TB masuk ke rumah itu, penyakit tersebut akan mudah menular. Risiko itu juga terjadi pada warga yang tinggal di apartemen. “Warga perlu rutin membuka jendela rumah agar sinar matahari masuk,” ujarnya.
Di Surabaya, faktor lain penyebab angka kasus TB tinggi adalah banyaknya orang dari luar daerah masuk ke Surabaya. Itu menyebabkan penyebaran TB di wilayah itu sulit terpantau. Kondisi serupa terjadi di kota-kota besar lain di provinsi tersebut.
Deteksi dini
Selain itu, menurut Harsono, angka kasus TB di Jatim tinggi karena pemantauan atau surveilans penyakit itu dilakukan secara intensif. Petugas kesehatan aktif mencari pasien TB agar bisa segera diobati. Jika pencarian atau deteksi dini itu gagal, sumber penyakit tetap bertahan dan penyebaran penyakit semakin tidak terkendali.
Deteksi dini juga bertujuan agar pasien TB bisa diobati dengan benar. Jika terapi tak berjalan baik atau penderita berhenti berobat, kuman bisa kebal terhadap obat atau obat tak manjur lagi (MDR-TB).
Sejauh ini, kasus MDR-RB banyak terjadi di Surabaya (354 kasus), Kabupaten Gresik (69 kasus), Kabupaten Jember (60 kasus), dan Kabupaten Sidoarjo (60 kasus). Mereka harus dirawat lebih intensif di rumah sakit dengan pengawasan penuh.
Dalam peringatan Hari TB Sedunia pada 24 Maret, Harsono mengatakan, pihaknya mendorong masyarakat agar segera berobat ke puskesmas terdekat jika menderita batuk tak sembuh selama beberapa minggu. “Biaya pengobatan TB ditanggung pemerintah, jadi warga tak perlu khawatir,” katanya.
Menurut pengajar di Departemen Biostatistik dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Martya Rahmaniati, karakter masalah TB antardaerah beragam sehingga penanggulangan tak bisa disamakan. Jadi, perlu analisis kewilayahan untuk menentukan kebijakan penanggulangan (Kompas, 16/1).
Kementerian Kesehatan mencatat, prevalensi TB di Indonesia tahun 2014 mencapai 647 orang per 100.000 penduduk. Adapun angka kejadian 399 kasus baru per 100.000 penduduk. (DEN)
Kompas, Sabtu, 26 Maret 2016