Saturday, 2 July 2016

Akulturasi dalam Lontong

Sepiring lontong dengan kuah opor, suwiran daging ayam, telur bulat, sambal goreng, dan kerupuk merupakan penganan wajib dalam perayaan Cap Go Meh atau puncak perayaan tahun baru Imlek. Lontong ini tak hanya mengenyangkan dan merekatkan kebersamaan, tetapi juga melambangkan akulturasi antara dua budaya, yaitu Tiongkok dan Jawa.
1717392-lontong-cap-go-meh-620X310.gif
Lontong Cap Go Meh (Kompas.com/Puji Utami)
Salah satu sudut kompleks Kelenteng Tay Kak Sie di kawasan pecinan Kota Semarang, Jawa Tengah, pekan lalu, dipenuhi siswa sekolah Kuncup Melati. Di dekat pintu masuk, piring plastik berisi lontong berjajar. Kaum multietnis satu per satu mengisi piring itu dengan sayur, memberi kerupuk, dan memberikannya kepada anak-anak yang duduk di lantai.
Seorang guru Sonorous Dharma (Sonny) menjelaskan mengenai Cap Go Meh dan alasan acara itu identik dengan penganan lontong. Cap Go Meh merupakan akhir perayaan akhir tahun baru Imlek, yang jatuh 15 hari setelah Imlek. Cap Go Meh di Tiongkok menandakan awal musim semi, awal yang baru untuk bercocok tanam.
Di Tiongkok, rangkaian perayaan tahun baru bisa berlangsung hingga satu bulan. Saat bulan bersinar penuh, bulan purnama, orang biasanya berkumpul. Jika orang berkumpul, bertemu, pasti selalu ada makanan. Kehadiran makanan dalam pertemuan ini menjadi tradisi.
"Dalam perayaan hari khusus selalu ada penganan identik, seperti kue keranjang atau kue bulan. Saat Cap Go Meh di Indonesia, makanan yang identik adalah lontong," kata Sonny.
Penganan Indonesia
Siang itu, anak-anak menikmati lontong yang disiram dengan opor, suwiran ayam, sayur terong, sambal goreng, telur pindang, abing (parutan kelapa yang diberi gula jawa), bubuk kedelai, dan kerupuk.
"Di Tiongkok tidak ada lontong. Lontong benar-benar penganan dari Indonesia. Cap Go Meh, meski diperingati oleh masyarakat peranakan, ikut dinikmati juga oleh warga etnis lain. Penganan yang dipilih adalah makanan yang digemari banyak orang," papar Sonny.
Jongkie Tio, pemilik Restoran Semarang yang juga pemerhati budaya, mengungkapkan, lontong Cap Go Meh identik ketupat Lebaran yang biasanya dimakan orang Jawa pada satu minggu setelah Idul Fitri. Ketupat seperti saudara lontong.
Menurut Jongkie, zaman dahulu, ketika masyarakat Jawa merayakan Lebaran Ketupat, mereka membagikan ketupat lengkap dengan sayur dan lauk kepada tetangga dan saudara, termasuk warga peranakan. Dari kejadian itu, setiap tahun baru Imlek warga peranakan pun ingin membagi kegembiraan dengan membagikan penganan serupa.
"Kalau Lebaran makan ketupat, saat Cap Go Meh dibuatlah lontong. Lontong berbentuk silinder lonjong, jika diiris bentuknya bulat-bulat. Bentuk lingkaran ini melambangkan bulan purnama yang bersinar penuh saat Cap Go Meh," kata Jongkie.
Oleh karena tradisi, beberapa sajian tidak dapat dihilangkan dalam sepiring lontong Cap Go Meh. Pelengkap lontong antara lain opor ayam, bubuk kedelai, abing, docang (parutan kelapa), sambal goreng, dan kerupuk. Selain itu, dimungkinkan adanya kreasi lain, seperti yang disajikan di Restoran Semarang, yaitu penambahan sambal goreng ati, sambal goreng rebung, sambal goreng tahu, buncis, dan sayur lodeh.
Lontong Cap Go Meh melambangkan banyak perbedaan di Indonesia, tetapi ketika disatukan dalam satu piring, rasanya ternyata enak. (UTI)

Kompas, Rabu, 18 Maret 2015