Sunday, 13 August 2017

Pu Luo Chung

Suatu ketika, di suatu masa, demikian menurut legenda, ada seorang lelaki bernama Sri Tri Buana atau Sang Nila Utama. Ia diceritakan sebagai putra pasangan Sang Sapurba dan Wan Sundaria, anak Demang Lebar Daun, penguasa Palembang pada masa itu. Sang Nila Utama menikahi seorang perempuan dari Bintan, Wan Sri Bini. Dan, tinggal di Bintan.
Pada suatu hari, ia berburu di sebuah pulau di lepas pantai Pulau Sumatera. Ia melihat seekor rusa. Rusa itu hendak dipanahnya, tetapi rusa telah lari sebelum panah dilepaskan. Sang Nila Utama mengejar rusa. Ia menaiki sebuah batu besar untuk mencari di mana gerangan rusa yang diburunya itu. Ketika Sang Nila Utama berdiri di atas batu besar, ia melihat ada pulau di seberang lautan. Pulau kecil itu berpantai bersih, putih, bagaikan selembar kain. Seorang pengawalnya mengatakan, pulau itu bernama Temasek.
Tentang nama pulau itu, Temasek, tercatat pula dalam laporan China di abad ke-14. Pada 1320, penguasa Kekaisaran Mongolia, Jengis Khan, mengirimkan sebuah misi dagang ke sebuah tempat yang disebut Long Yamen (Selat Gigi Naga), yang dipercayai merupakan sebuah pelabuhan di sebuah pulau di selatan. Pelancong dari China, Wang Dayuan, mengunjungi pulau ini pada 1330 dan menyebut ada sebuah permukiman kecil yang bernama Dan Ma Xi atau dalam bahasa Melayu, Tamasik. Penduduk permukiman itu adalah orang-orang China dan Melayu. Laporan lain menyebutkan dalam Nagarakertagama, nama Temasik (Kota Laut) juga sudah disebut-sebut.
Sang Nila Utama akhirnya pergi ke pulau itu. Begitu mendarat, ia melihat seekor binatang aneh dengan tubuh warna merah, kepala hitam, yang ia duga seekor singa. Menurut Sang Nila Utama, penglihatannya atas singa itu sebagai pertanda baik. Maka, ia memutuskan membangun sebuah kota di tempat itu yang kemudian diberi nama Singa (nama binatang) dan pura yang artinya kota (Tim Lambert).
Dalam catatan China itu, pada abad ketiga nama pulau itu adalah Pu Luo Chung (History of Singapore). Sebutan itu diambil dari nama pulau tersebut dalam bahasa Melayu, Pulau Ujong (di ujung Semenanjung Malayu/Malaysia). Pada 1390-an, seorang pangeran dari Sriwijaya, Parameswara, terpaksa melarikan diri dan pergi ke Temasek karena Sriwijaya diserang Majapahit. Ia berkuasa di kota itu selama beberapa tahun, lalu dipaksa melarikan diri ke Malaka (dan mendirikan Kerajaan Malaka). Pu Luo Chung atau Temasek atau Singapura lalu menjadi pelabuhan dagang Kesultanan Malaka, kemudian jatuh ke tangan Kesultanan Johor dan pada 1613 diserbu Portugal serta dibakar.
Pada 29 Januari 1819, Sir Thomas Stamford Raffles━Letnan Gubernur Inggris untuk koloni Bencoolen (Bengkulu)━tiba di Singapura dan menjadikan kota itu sebagai pelabuhan baru di ujung selatan Semenanjung Melayu, dekat Selatan Malaka. Kota itu berdiri di mulut Sungai Singapura dan dipimpin oleh Temenggong Abdu’r Rahman.
Dikutip dari: Kuncahyono T, “Pu Luo Chung”, Kompas, Minggu, 13 Agustus 2017, halaman 4