Friday, 18 August 2017

Jalan Berliku Pesawat N219

Langit biru dan hangatnya mentari pagi menyelimuti Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, Bandung, Rabu (16/8).
Ratusan karyawan PT Dirgantara Indonesia berdiri berjajar di depan Hanggar Fixed Wing dan tepi landas pacu. Wajah mereka bersemangat dan penuh kebahagian meski ada pula ketegangan.
N219.jpg
Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia dan Lapan terbang perdana di Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8). Pesawat ini menjadi pembuktian bagi Indonesia karena seluruh pengerjaan N219, mulai dari rancang bangun, pengetesan, sertifikasi, hingga produksi, dilakukan anak bangsa, tanpa asistensi teknik dari bangsa asing. (Kompas/Rony Ariyanto Nugroho)
Di ujung landasan, sebuah pesawat kecil berwarna putih dengan tulisan N219 besar siap lepas landas. Tepat pukul 09.13, pesawat buatan PT DI bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu pun bergerak dan mengudara untuk pertama kali.
Riuh tepuk tangan menggema. Sebagian karyawan berteriak haru, berkaca-kaca, berpelukan bahagia, dan sujud syukur. Pesawat kecil yang digagas sejak 2006 sesuai kondisi daerah terpencil di Papua tersebut akhirnya terbang juga. Sekitar 30 menit kemudian, pesawat itu mendarat dan melaju di landasan. Tepuk tangan menggema lagi.
Setelah N219 berhenti di depan hanggar, sejumlah orang langsung mengerubungi pesawat, menyambut dan mengelu-elukan awak pesawat yang sukses menerbangkan N219. Di antara awak itu, Esther Gayatri Saleh selaku Kepala Pilot Uji PT DI dan kapten penerbangan (pilot in command) terbang perdana itu adalah ratunya.
”Pesawat bekerja baik, respons pesawat sesuai dengan yang diprediksikan,” kata Esther dengan parasut darurat masih menempel di punggungnya. Meski bangga bisa menerbangkan N219 pertama kali, ketegangan di wajahnya belum reda.
Awak pesawat lainnya adalah kopilot (first officer) Kapten Adi Budi Atmoko dan dua flight test engineer Yustinus Wardana dan M Iqbal Hoedaya.
Proses panjang
Di tengah kondisi riset dan inovasi nasional belum membaik, dana terbatas, serta pesimisme sejumlah kalangan terhadap kemampuan perekayasa industri dirgantara Tanah Air belum hilang, pesawat N219 berhasil terbang. Ini adalah kali kedua dalam sejarah Indonesia karya perekayasa dirgantara Indonesia mampu mengudara.
Pesawat buatan Indonesia pertama yang berhasil terbang adalah N250 pada 10 Agustus 1995. Suasana penerbangan perdana N250 jauh berbeda dengan N219. Saat itu, upacara besar-besaran digelar dan dihadiri Presiden Soeharto. Karyawan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), nama lama PT DI, hanya bisa menyaksikan dari jauh.
Namun, N250 yang merupakan pesawat canggih di zamannya dan dirancang dengan bantuan sejumlah ahli asing terhenti pengembangannya akibat krisis moneter 1998. Krisis itu juga memaksa PT DI merestrukturisasi besar-besaran perusahaan, termasuk merumahkan 12.000 karyawan.
Dalam masa suram itu, di tengah titik nadir PT DI pada 2007, sejumlah perekayasa yang tersisa merancang pesawat yang dianggap paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan penerbangan di daerah terpencil Indonesia. ”PT DI ingin perekayasa tetap bersemangat meski pekerjaan untuk mereka sudah tak ada lagi,” kata Direktur Utama PT DI Budi Santoso.
Proyek itu juga diharapkan mampu meneruskan kemampuan dan pengalaman perekayasa senior kepada generasi muda, menjaga keberlanjutan kemampuan penguasaan teknologi dirgantara dari ahli yang terlibat dalam pembuatan N250. ”Kini, separuh dari 4.400 karyawan PT DI berumur di atas 55 tahun. Sisanya berumur di bawah 26 tahun,” kata Asisten Teknis Bidang Pengembangan Pesawat Terbang PT DI yang sebelumnya menjabat Direktur Teknologi PT DI Andi Alisjahbana.
Desain pesawat mulai dibuat pada 2014 dan sejumlah komponen mulai diproduksi 2015. Berbeda dengan pengembangan N250 yang semua prosesnya dikerjakan PT DI, riset dan pengembangan N219 dilakukan Lapan. Keikutsertaan lembaga pemerintah dalam pendanaan N219 akan sangat membantu PT DI sehingga harga jual N219 lebih kompetitif.
Beriringan dengan produksi komponen, sertifikasi pun dilakukan Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan. Karena difokuskan untuk pasar Indonesia, sertifikasi N219 di dalam negeri dinilai cukup. Berdasarkan pengalaman sertifikasi N250 melalui lembaga asing, sertifikasi jadi tantangan karena tidak bebas dari kepentingan politik.
Terlebih, acuan aturan sertifikasi yang digunakan di Indonesia ataupun lembaga sertifikasi di Amerika Serikat dan Eropa sama, yaitu aturan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Karena N219 berkapasitas kurang dari 20 penumpang, pedoman sertifikasinya adalah Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 23 (CASR Part 23).
”Sertifikasi N219 turut meningkatkan kemampuan sertifikator Indonesia, kemampuan yang tak dimiliki banyak negara di dunia,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso.
Meski dilakukan di dalam negeri, sertifikasi tetap berjalan ketat. Hal ini membuat rencana penerbangan perdana terus mundur sejak awal 2016.
Kepala Program N219 PT DI Budi Sampurno mengatakan, selama proses integrasi komponen pesawat, ada 500 komponen dan 200 unit rakitan yang harus disesuaikan dan dikaji ulang.
Setelah tertunda 1,5 tahun, N219 akhirnya terbang. Ini bukan berarti sertifikasi dan tantangan bagi N219 selesai. Dua purwarupa pesawat N219 masih harus menjalani uji terbang hingga 300 jam serta dua purwarupa lainnya wajib menjalani tes tingkat kelelahan (fatigue test) di darat dengan menguji pesawat menggunakan beban, kondisi lepas landas, terbang, dan mendarat hingga 3.000 kali.
Jika sejumlah tes itu dapat dijalani, N219 diharapkan bisa diproduksi pada 2018 dan masuk pasar pada 2019. Meskipun demikian, tekanan politik industri pesawat global dan negara-negara lain tetap ada meski tak banyak lagi industri pesawat yang memproduksi pesawat kecil. Meski demikian, keyakinan para penentu kebijakan di Indonesia jauh lebih penting. Tanpa dukungan mereka, inovasi ahli dan perekayasa Indonesia hanya menjadi cerita indah.
”Negara lain tak khawatir berapa banyak publikasi ilmiah dan paten asal Indonesia. Tapi, mereka takut jika pemerintah berkomitmen memakai produk hasil inovasi anak bangsa,” kata Ketua Dewan Riset Nasional Bambang Setiadi, beberapa waktu lalu. (SEM/YUN/MZW)
Kompas, Jumat, 18 Agustus 2017