Saturday, 14 February 2015

Invictus


Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate,
I am the captain of my soul.

William Ernest Henley (1849-1903)

Kediri, Negeri Seribu Cagar Budaya

Oleh: RUNIK SRI ASTUTI dan DEFRI WERDIONO
Yudi (72), penjaga situs Semen di Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, membersihkan debu yang menempel di arca Garuda Wisnu Kencana, Rabu (11/2). Situs pemandian raja dari Kerajaan Kediri yang ditemukan tahun 1999 itu menjadi salah satu tujuan wisata minat khusus. (Kompas/Runik Dwi Astuti)
Dio (10), pelajar kelas IV sebuah sekolah dasar; terpaku memandang arca Garuda Wisnu Kencana di tebing sungai di tengah hamparan tanaman cabai dan tebu di Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (11/2). Kepalanya menggeleng dan mulutnya menggumam.
Sesaat kemudian dia berlari menghampiri bundanya yang berdiri hanya sepelemparan batu dari arca. “ Bunda, itu benda apa namanya dan kenapa ada di tempat seperti ini,” ujar Dio polos.
Dwi Wahyuni (34), bunda Dio, mengatakan, batu berpahat menyerupai bentuk manusia itu disebut arca. Benda itu merupakan bukti otentik peradaban masa lalu, tepatnya di era kerajaaan. Dan karena arca ini ditemukan petani di tepi sungai, benda itu kemudian diletakkan tak jauh dari lokasi penemuan.
Selain arca Garuda Wisnu Kencana, di tempat yang kini dikenal sebagai situs Semen itu ditemukan benda purbakala lain, seperti lingga yoni dan dua patung jwaladara, yakni tempat air mancur pada pemandian raja. Selain itu, ditemukan saluran air dan gapura serta puluhan fragmen benda cagar budaya yang berasal dari Kerajaan Kediri (1045-1222 Masehi).
Kerajaan Kediri
Februari tahun lalu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan, Mojokerto, melakukan ekskavasi awal struktur bangunan batu bata. Struktur bangunan ini diduga kuat merupakan peninggalan Kerajaan Kediri. Analisis itu diperkuat keberadaan arca Garuda Wisnu Kencana dan jwaladara karena kerajaan yang pusat pemerintahannya ada di Dhaha ini merupakan pemuja Wisnu.
Situs Semen, yang berlokasi 1,5 kilometer dari petilasan Prabu Jayabaya, raja Kediri yang termasyhur dengan ramalan Jangka Jayabaya, itu memiliki luas sekitar 6 hektar. Lokasi masih berupa area persawahan yang di dalamnya bertebaran batu bata kuno yang diletakkan begitu saja. Batu bata ini akan terungkap jelas jika petani baru saja selesai membajak sawah. Tahun 1970-an dan 1980-an, batu bata kuno ini banyak berpindah tempat karena warga menggunakannya untuk menguruk pekarangan.
Akhir November-awal Desember lalu, BPCB melakukan ekskavasi situs berupa bangunan altar di Tunglur, Desa Sumberjo, Kecamatan Badas. Meski belum bisa dipastikan asal dinastinya, situs berwujud altar batu itu diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Kediri.
Di luar situs Tunglur dan Semen, ada arca Totok Kerot yang berada di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, tidak jauh dari monument Simpang Lima Gumul, ikon Kediri masa kini. Arca setinggi 3 meter itu,menurut arkeolog, merupakan sosok Dwarapala, yakni arca penjaga pintu gerbang kerajaan Dahanapura (1222 M).
Selain itu, Kediri memiliki Candi Surowono di Kecamatan Pare, Candi Tegowangi di Plemahan yang dibangun pada masa Majapahit, situs Prambata di Pagu, dan situs Sukorejo atau lebih dikenal masyarakat sebagai legenda makam Calon Arang.
Sejarawan menyebut wilayah Kediri di Jawa Timur menjadi saksi tiga zaman, yakni masa kejayaan Kerajaan Kediri, Singasari, dan Majapahit. Tidak mengherankan jika kabupaten yang dibelah Sungai Brantas dan berada di lereng sisi timur (seharusnya: barat) Gunung Kelud itu memiliki ribuan benda cagar budaya yang tersebar hampir di seluruh wilayah.
Arkeolog dari BPCB Trowulan, Nugroho Lukito, mengatakan, Kediri memang kaya akan situs masa lalu. Tetapi semua belum terungkap. “Kalau semua terungkap, pasti sangat banyak. Situs terbanyak berasal dari masa Kediri dan Majapahit. Sebagian kecil di sisi selatan Kelud yang mungkin berasal dari Singasari,” ucapnya.
Bergeser ke timur di lereng Kelud, situs-situs masa lalu juga tersebar di sejumlah lokasi. Arca berukuran kecil ataupun bejana atau bak batu (media petirtaan) bisa ditemukan di pekarangan warga ataupun perkebunan.
Di area PT Perkebunan Nusantara XII Rangkahpawon, Kecamatan Plosoklaten, terdapat setidaknya dua bak petirtaan, salah satunya berhuruf Jawa kwadrat yang diperkirakan dari zaman Kediri. Ada juga arca Siwa yang diperkirakan berasal dari zaman Singasari.
Beberapa waktu lalu, arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Ismail Lutfi, menyebut wilayah Kelud memiliki banyak bangunan suci. Bangunan itu didirikan lintas masa, yakni Singasari, Kediri, dan Majapahit. Kelud dianggap jadi salah satu gunung suci di Jawa. Nugroho Lukito juga menyebut orang dulu percaya di Kelud bersemayam dewa gunung, Sang Acalapati.
Kumpulkan arca
Tidak jauh dari lereng Kelud, di sisi utara, pemerintah Desa Brumbung, Kecamatan Kepung, dalam beberapa tahun terakhir membuat kebijakan mengumpulkan arca dan benda masa lalu yang ditemukan warga. Benda-benda itu dikumpulkan di sebuah bangunan kecil di sisi kanan pendapa balai desa.
Di tempat ini terdapat, antara lain, 2 prasasti bertuliskan huruf Jawa kuno, yakni Brumbung I peninggalan Kediri dan Brumbung II peninggalan Majapahit; arca dwarapala; dan petirtaan. Dahulu benda temuan masyarakat dijual penemunya, tetapi saat ini benda itu dikumpulkan ke balai desa.
Kepala Bidang Sejarah, Nilai Tradisi, Museum, dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri  Eko Budi Santoso menyebut, terdapat 182 benda cagar budaya yang bergerak ataupun tidak bergerak di wilayahnya yang sudah teregister. BCB bergerak contohnya arca, sedangkan yang tidak bergerak adalah situs.
Namun, benda cagar budaya yang belum teregister jauh lebih banyak dan umumnya berada di dalam bumi Kediri. Contohnya, bata merah kuno, fragmen arca dan fragmen benda lain seperti tempayan.
Demi keamanan dan pelestarian, BCB kerap ditimbun kembali setelah diekskavasi untuk penelitian.
Keberadaan BCB yang jumlahnya ribuan ini menarik minat masyarakat tidak hanya dari Kediri, tetapi juga daerah lain seperti Blitas, Nganjuk, bahkan Surabaya, hingga Solo dan Yogyakarta. Mereka datang ke Kediri dengan beragam tujuan, mulai dari melihat langsung benda peninggalan leluhur hingga melakukan sesuatu yang khusus seperti ritual.
“Kedatangan para tamu inilah yang mendasari Pemkab Kediri mengembangkan situs-situs yang ditemukan itu menjadi wisata minat khusus. Meskipun pengunjungnya belum sebanyak obyek wisata alam Gunung Kelud, setiap tahun jumlahnya cenderung naik,” ujar Eko.
Di kawasan wisata Candi Surowono, misalnya, jumlah pengunjung selama 2014 mencapai 48.913 orang, sedangkan di Candi Tegowangi sebanyak 23.501 orang. Jumlah kunjungan tersebut didasarkan pada pencatatan buku tamu karena sebagian obyek wisata minat khusus ini umumnya tidak beretribusi.

Kompas, Sabtu, 14 Februari 2015

Sunday, 8 February 2015

Rekomendasi Waktu Tidur Terbaru

National Sleep Foundation (NSF) merilis pedoman waktu tidur terbaru, yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep Health di awal Februari 2015. Secara garis besar kebutuhan tidur yang direkomendasikan tersebut untuk menghindari masalah kesehatan, kinerja, dan keamanan adalah sebagai berikut:

  • Newborn (0-3 bulan): rentang tidur dipersempit menjadi 14-17 jam per harinya, sebelumnya 12-18 jam
  • Infants (4-11 bulan): rentang tidur diperlebar menjadi 12-15 jam, sebelumnya 14-15 jam
  • Toddlers (1-2 tahun): rentang tidur diperlebar menjadi 11-14 jam, sebelumnya 12-14 jam
  • Pra-sekolah (3-5 tahun): rentang tidur diperlebar menjadi 10-13 jam, sebelumnya 11-13 jam
  • Anak usia sekolah (6-13): rentang tidur diperlebar menjadi 9-11 jam, sebelumnya 10-11 jam
  • Remaja (14-17): rentang tidur diperlebar menjadi 8-10 jam, sebelumnya 8,5-9,5 jam
  • Dewasa muda (18-25): rentang tidur 7-9 jam (kategori usia baru)
  • Dewasa (26-64): rentang tidur tidak berubah, tetap 7-9 jam
  • Dewasa tua (65+): rentang tidur 7-8 jam (kategori usia baru)
Panel menegaskan bawa beberapa individu dapat tidur lebih lama atau lebih pendek dari yang direkomendasikan, tanpa mengalami masalah atau efek buruk.
Beberapa orang dapat mengalami durasi waktu di luar rentang tersebut akibat keharusan dalam mengurangi tidur, seperti pekerjaan yang harus dilakukan pada malam hari, atau adanya masalah kesehatan serius yang menuntut untuk lebih banyak istirahat. Namun perlu diperhatikan, bahwa kurangnya waktu tidur dalam jangka yang lama dapat berpengaruh pada kesehatan fisik dan jiwa orang tersebut.
Pustaka
Dugaan A (2 Februari 2015) Expert Panel Recommends New Sleep Time. National Sleep Foundation: http://sleepfoundation.org/media-center/press-release/expert-panel-recommends-new-sleep-times Diakses: 9 Februari 2015
Hirshkowitz M, et al, National Sleep Foundation’s sleep time duration recommendations: methodology and results summary, Sleep Health (2015), http://dx.doi.org/10.1016/j.sleh.2014.12.010

Masih Banyak Polisi yang Menumbuhkan Harapan

Sesaat sebelum menetapkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka, pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi mengumpulkan para penyidiknya. Melihat besarnya kasus yang harus ditangani, KPK membentuk tiga satuan tugas untuk mengusut kasus dugaan korupsi dengan tersangka calon Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ini.
Pimpinan KPK sengaja mengumpulkan para penyidiknya yang tergabung dalam tiga satuan tugas ini secara khusus karena sebagian di antara mereka yang kebagian tugas adalah penyidik Polri yang sedang ditugaskan di KPK.
Ada tiga kategori penyidik di KPK sekarang ini. Pertama, penyidik Polri yang ditugaskan di KPK dengan masa tugas tertentu. Kedua, para penyidik yang dulunya polisi yang ditugaskan di KPK lalu memilih mundur dari polisi dan menjadi pegawai tetap di KPK. Ketiga, penyidik yang direkrut langsung oleh KPK dari berbagai latar belakang, seperti jaksa ataupun professional, dengan bekal pendidikan ilmu hukum, akuntansi, dan forensik.
Kepada penyidik kategori pertama, pimpinan KPK memberikan keleluasaan untuk tidak ikut mengusut kasus dugaan korupsi Budi Gunawan. Pertimbangannya, status mereka tetap sebagai anggota Polri meskipun tengah ditugaskan di KPK. Jika nama mereka masuk sebagai satuan tugas kasus ini, nama-nama mereka tentu akan diketahui dengan mudah.
Pimpinan KPK tau mau para penyidik dari Polri ini berpotensi menghadapi masalah, karena ikut masuk dalam satuan tugas kasus dugaan korupsi dengan tersangka Budi Gunawan. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengungkapkan, penyidik-penyidik yang masih berstatus sebagai anggota Polri tersebut diberikan kebebasan untuk tidak ikut menjadi anggota satuan tugas.
“Kami paham dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika mereka menjadi penyidik di satuan tugas kasus ini. Kami serahkan pilihan sepenuhkan kepada mereka. Bagi kami tak masalah jika kemudian mereka mengundurkan diri setelah ditunjuk sebagai penyidik di satuan tugas kasus ini. Kami sepenuhnya memahami situasinya,” ujar Bambang.
Tetap antusias
Namun, rupanya, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Para penyidik yang masih berstatus sebagai anggota Polri ini tetap memilih menjadi anggota satuan tugas kasus dugaan korupsi Budi Gunawan meskipun mereka tahu risiko di kemudian hari bisa jadi tak mudah, termasuk menghadapi ancaman kriminalisasi. Terlebih rekam jejak mereka sebagai anggota Polri tetap tersimpan baik di institusi asal.
Beberapa di antara mereka masih berpangkat perwira menengah. Ada yang berpangkat ajun komisaris polisi. Ada juga yang berpangkat komisaris polisi. Mereka tersebar di tiga satuan tugas kasus ini.
Para polisi ini menerima penugasan dengan ikhlas dan ikut ke dalam satuan tugas kasus dugaan korupsi Budi Gunawan ini. Tak ada sedikit pun keraguan. Kemampuan mereka sebagai penyidik mereka curahkan betul untuk mengusut kasus dugaan korupsi yang dilakukan petingginya di kepolisian itu.
Kepada Kompas, salah satu penyidik KPK menuturkan, mereka dengan legawa menerima tugasnya sebagai penyidik di KPK, yang antara lain harus mengusut kasus dugaan korupsi penegak hukum. Penyidik ini menyadari betul bahwa ancaman selalu ada, mulai dari diskriminalisasi hingga ditarik keluar dari KPK.
Dalam hal ini, penyidik berstatus anggota Polri bisa sewaktu-waktu ditarik kembali ke Polri. “Mau bagaimana lagi, memang tugas di KPK salah satunya, ya, terhadap subyek hukum penegak hukum. Kalau mau aman memang tak usah menangani, tetapi, kan , malah jadi enggak bertugas,” ujar penyidik KPK ini.
Keberanian pada penyidik yang berstatus sebagai anggota Polri untuk ikut terlibat mengusut kasus dugaan korupsi Budi Gunawan ini tentu memunculkan asa. Publik mungkin tak pernah tahu apa motivasi dari keberanian mereka yang tak memedulikan risiko dari pekerjaan yang mereka lakukan.
Akan tetapi, satu yang pasti, rakyat masih percaya, banyak polisi yang tetap menumbuhkan harapan bahwa suatu saat nanti merekalah yang menjadi “sapu bersih” menyapu koruptor di negeri ini (Khaerudin)
Kompas, Minggu, 8 Februari 2015

Monday, 2 February 2015

Karakteristik Stabilitas Vitamin dan Interaksinya dalam Produk Kombinasi

Produk vitamin, baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi, sangat mudah ditemui di pasaran dalam berbagai bentuk. Dengan sifat, stabilitas, dan kelarutan yang beragam, sediaan vitamin memberikan kesulitan dan tantangan dalam proses formulasi dan produksinya.

Sunday, 4 January 2015

Stabilitas Bahan Aktif dan Produk Obat

Stabilitas, baik bahan aktif obat maupun produk, menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh peneliti formulasi. Ada dua macam stabilitas, yaitu stabilitas fisika dan kimia. Stabilitas fisika terkait dengan perubahan bentuk fisika, tanpa mempengaruhi komposisi kimia. Sedangkan stabilitas kimia berkaitan dengan pengubahan struktur molekuler melalui reaksi kimia.

Thursday, 1 January 2015

Di Balik Awan Kumulonimbus

Oleh J GALUH BIMANTARA dan M ZAID WAHYUDI
Awan kumulonimbus ditengarai sebagai salah satu faktor penyebab hilangnya kontak dengan pesawat AirAsia QZ 8501 rute Surabaya-Singapura, Minggu (28/12). Keberadaan awan itu selalu dihindari dalam penerbangan jenis pesawat apa pun karena tingginya risiko yang bisa ditimbulkannya. Meski demikian, tak mudah mendeteksi dan menghindari awan itu.
cumulonimbus.jpg
“Hilangnya pesawat AirAsia ini mirip kasus pesawat Adam Air di Selat Makassar, 2007 lalu,” kata Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan dan Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Syamsul Huda, Senin (29/12), di Jakarta.
Pesawat Adam Air bernomor penerbangan KI 574 tersebut terbang dengan rute Surabaya-Manado. Saat kejadian, awan kumulonimbus terbentuk di sekitar perairan dan daratan Mamuju, Sulawesi Barat.
Kumulonimbus adalah jenis awan yang tumbuh menjulang sangat tinggi. Dasar awan bisa pada ketinggian 500 meter (m), sedangkan puncaknya dapat mencapai 13.500 m. “Ciri yang sangat nyata adalah adanya petir di awan tersebut,” ujarnya.
Jenis awan itu terbentuk akibat adanya suplai uap air secara terus-menerus dan sangat banyak. Biasanya awan itu terbentuk antara siang hingga sore hari setelah radiasi sinar matahari yang sangat tinggi hingga memicu munculnya banyak uap air.
Namun, hari Minggu lalu itu, awan kumulonimbus terbentuk pagi hari, bahkan sebelum matahari terbit. Saat itu, suhu permukaan laut di lokasi hilangnya kontak dengan pesawat AirAsia mencapai 30,5 derajat Celsius, lebih tinggi 1,5 derajat Celsius dibandingkan suhu rata-rata 30 tahunan di laut tersebut.
Tingginya suhu permukaan air laut itu memicu naiknya banyak uap air hingga membentuk awan kumulonimbus yang massif. Dari citra satelit, awan itu terbentuk di selatan dan barat Kalimantan hingga ke tengah Laut Jawa dan Selat Karimata.
Kepala Bidang Meteorologi Penerbangan BMKG Heru Jatmika mengatakan, awan kumulonimbus juga terbentuk saat terjadi pertemuan angin pasat, angin yang bertiup dari daerah subtropis ke khatulistiwa dan berlangsung sepanjang tahun.
Lokasi hilang kontak pesawat AirAsia merupakan zona pertemuan angin pasat tenggara dari belahan bumi selatan dengan angin pasat timur laut dari belahan bumi utara. Di zona pertemuan yang disebut intertropical convergent zone itu, massa udara terdorong naik dengan membawa uap air hingga terbentuk awan. Proses yang berlangsung lama membuat uap air yang terbawa sangat besar hingga membentuk awan kumulonimbus.
“Mekanisme angin pasat itulah yang memungkinkan terbentuknya awan kumulonimbus di pagi hari,” katanya.
kumulonimbus.jpg
Perbandingan awan Kumulonimbus disingkat Cb, dengan awan lainnya di tiga tingkatan ruang awan. (Wikimedia Commons/Jfornech)
Risiko
Pilot pesawat Airbus A330 PT Garuda Indonesia yang juga mantan Presiden Asosiasi Pilot Garuda Stephanus G Setitit mengatakan, awan adalah tantangan utama penerbangan. Meski keberadaan awan bisa diinformasikan petugas ATC sebelum pesawat lepas landas ataupun terdeteksi radar pesawat selama terbang, awan bersifat dinamis yang bisa berubah.
Keberadaan dan kondisi awan juga bisa diamati oleh pilot. Namun, terkadang di balik awan tipis yang teramati pilot terdapat awan tebal yang sulit ditebak.
Menurut Stephanus, kumulonimbus umumnya selalu dihindari dalam penerbangan. Walau ia terlihat putih bak kapas, awan itu sejatinya berisi air, salju, hingga bongkahan es. Awan juga mengandung ion listrik yang bisa menimbulkan petir.
Di dalam awan juga terdapat pergerakan udara ke atas atau pun ke bawah. Dinamika itu terjadi karena proses pembentukan awan terjadi terus-menerus sehingga ada gerakan ke atas (updraft). Pada saat bersamaan juga terjadi gerakan udara turun (downdraft) saat bulir air turun menjadi hujan.
Gerakan udara naik dan turun itu akan membuat pesawat mengalami turbulensi. Penumpang di dalam pesawat akan merasakan turbulensi itu sebagai guncangan. Makin tebal awan, guncangan yang dirasakan penumpang semakin besar.
Turbulensi yang besar bisa merusak struktur pesawat. “Bahkan, jika guncangannya sangat besar, pesawat bisa patah,” kata konsultan penerbangan Gerry Soejatman.
Selain bulir air, awan kumulonimbus berisi salju, kristal es hingga bongkahan es. Partikel es itu umumnya terbentuk pada lapisan awan yang lebih tinggi. Di samping itu, kecepatan angin juga makin besar di lapisan awan yang lebih tinggi.
Ahli propulsi pesawat Program Studi Aeronautika dan Astronautika ITB Firman Hartono mengatakan, turbulensi bisa menyebabkan kompresor pada mesin pesawat mengalami gangguan aliran udara. Pada kondisi normal, udara yang masuk mesin seharusnya bergerak lurus. Namun, akibat turbulensi, gerakan udara menjadi tidak teratur sehingga proses pembakaran di mesin tidak sempurna.
“Akibatnya, kinerja mesin berkurang,” katanya.
Pembakaran yang tidak sempurna di mesin juga bisa disebabkan oleh bulir air maupun lelehan salju di awan yang masuk ke mesin pesawat. Jika jumlah air yang masuk terlalu banyak, mesin pesawat bisa mati.
Gerry menambahkan, butir dan bongkahan es yang tidak sempat mencair bisa memecahkan kaca kokpit, menimbulkan keretakan di badan pesawat, serta merusak berbagai komponen pesawat.
Jika butir dan bongkahan e situ masuk ke mesin pesawat, lanjut Firman, benda itu bisa mematahkan bilah baling-baling yang membahayakan kinerja mesin pesawat.
Selain itu, awan kumulonimbus juga mengandung banyak partikel bermuatan listrik yang bisa memunculkan petir. Partikel bermuatan dan sambaran petir itu bisa mengacaukan sistem kelistrikan pesawat sehingga mengacaukan sistem komunikasi dan navigasi pesawat.
Dihindari
Meski awan kumulonimbus harus dihindari, namun proses menghindari itu tidaklah mudah. Menurut Syamsul, awan kumulonimbus yang nyaman untuk dihindari pilot adalah jenis isolated cumulonimbus, yakni awan kumulonimbus individual yang tidak rapat.
Sementara, awan kumulonimbus yang berbahaya adalah jenis embedded cumulonimbus, yaitu kumpulan awan kumulonimbus yang rapat. Jenis awan ini sulit dihindari pilot karena meski bisa menghindari satu awan kumulonimbus, pilot akan menghadapi awan kumulonimbus berikutnya.
“Jenis awan itu yang dihadapi pesawat AirAsia yang hilang kontak antara Belitung dan Pontianak, Minggu kemarin,” katanya.
Stephanus menambahkan, proses menghindari awan juga bukan perkara mudah. Setiap pesawat rute tertentu telah memiliki jalur terbang masing-masing yang ditentukan pemerintah dan lembaga berwenang.
Pilot hanya leluasa bergerak 8 kilometer (5 mil) ke kiri dan 8 km ke kanan serta 300 meter (1.000 kaki) ke atas dan 300 m ke bawah dari jalur yang telah ditentukan. Di luar jalur itu, merupakan jalur penerbangan pesawat lain.
“Melenceng sedikit dari jalur, pilot akan diingatkan petugas pemandu lalu lintas udara (air traffic control),” katanya.
Penyimpangan ke kanan dan kiri dari jalur pesawat juga memiliki konsekuensi pada bertambahnya bahan bakar pesawat. Terlebih lagi, bergeser 8 kilometer juga tidak akan mencukupi jika ukuran awan kumulonimbus yang dihadapi berdiameter puluhan kilometer.
Jika pesawat memilih turun ke bawah, maka pesawat bisa kehilangan daya angkat yang membuatnya sulit untuk naik kembali ke ketinggian yang semestinya. Sementara, jika pesawat memilih naik untuk menghindari awan, maka pesawat akan berhadapan dengan angin berkecepatan tinggi.
“Ketinggian pesawat saat terbang sudah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing mesin pesawatnya,” kata Firman. Oleh karena itu, jika pesawat berukuran kecil terbang terlalu tinggi justru bisa membuat turunnya kinerja mesin karena tekanan udaranya semakin turun.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Edvin Aldrian, mengatakan, jika tak ada pilihan yang memaksa pesawat masuk ke awan kumulonimbus, saat pesawat ada di tepi awan bisa terempas ke bawah. Jika pesawat lolos menembus hingga bagian tengah awan, pesawat akan terdorong ke atas.
Terempasnya pesawat ke bawah lebih berbahaya karena posisi yang terlalu rendah, apalagi ketinggian awan hanya 3 km, bisa membuat kesulitan pesawat naik lagi. jika pesawat terdorong ke atas, potensi selamat lebih besar, kecuali ia bertabrakan dengan pesawat yang sedang melintas di atasnya.
Kompas, Selasa, 30 Desember 2014
*Dengan beberapa tambahan dari Kompas, Senin 29 Desember 2014