Tuesday, 19 April 2016

Kekalahan Sultan Agung Memudarkan Kebaharian

Oleh NAWA TUNGGAL
Pada April 1628 atau 388 tahun silam, Bupati Tegal Kiai Rangga datang ke Batavia mewakili rajanya, Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593-1645), untuk menawarkan kerja sama dengan kantor Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) menaklukkan Kerajaan Banten. Tawaran ditolak. Dari sinilah perang melawan VOC berawal hingga peristiwa kekalahan Sultan Agung yang membuat raja itu menutup kota-kota pelabuhan dan memudarkan kebaharian wilayah-wilayah pesisir yang ditaklukkannya sebelumnya.
Setelah tawaran Bupati Tegal ditolak oleh VOC, Sultan Agung memerintahkan Bupati Kendal Tumenggung Bahurekso pada 27 Agustus 1628 untuk menyerang benteng pertahanan VOC di Batavia. Pasukan gelombang kedua yang dipimpin pangeran Mataram, Mandureja, menyusul pada Oktober. Penyerangan ini bisa dipatahkan.
Setahun kemudian, Sultan Agung memerintahkan Adipati Ukur menyerang Batavia pada bulan Mei. Pasukan gelombang kedua menyusul pada Juni. Dengan menghancurkan lumbung-lumbung pangan pasukan Mataram, VOC kembali mematahkan serangan Mataram.
Strategi Sultan Agung membendung Sungai Ciliwung dan mengotori alirannya menimbulkan wabah penyakit kolera di Batavia. Akibatnya, Gubernur Jenderal VOC JP Coen terserang kolera dan meninggal dunia. Namun, VOC tetap tidak bisa dikalahkan.
Kekuasaan Mataram pada masa itu meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga beberapa wilayah di Jawa Barat. Kota-kota pelabuhan penting di pesisir pantai utara Jawa, dari Pasuruan hingga Cirebon, juga dikuasai Mataram.
Namun, sejak kegagalan Sultan Agung menyerang VOC di Batavia, kota-kota pelabuhan yang dikuasai oleh Mataram ditutup. Pelabuhan Jepara merupakan satu-satunya pelabuhan yang masih dibuka untuk melayani perdagangan komoditas utama, beras.
Kebaharian Mataram sejak itu memudar. Mataram kian meneguhkan diri sebagai kerajaan pedalaman, sebagai kerajaan agraris.
Kalau saja waktu itu Sultan Agung berhasil menundukkan VOC, mungkin saja Mataram Islam akan tumbuh sebagai kerajaan dengan kekuatan maritim yang andal. Nelayan dari negara-negara lain akan takut untuk mencuri ikan di wilayah Nusantara. Bangsa kita kemudian berkembang menjadi bangsa yang sangat gemar mengonsumsi ikan laut.
Sayangnya, kenyataan berbicara lain. Sultan Agung telah membawa peradaban agromaritimnya menjadi peradaban agraris. Sejak Sultan Agung gagal menghancurkan markas VOC di Batavia, kota-kota bahari di pesisir pantai utara Pulau Jawa menjadi lumpuh.
Pada masa sekarang, keinginan untuk kembali menjadi bangsa bahari kembali menguat. Pemerintah mengajak rakyat untuk kembali menghidupkan budaya bahari. Pemerintah mendorong rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan dari laut.
Kapal-kapal pencuri ikan dari negara asing ditangkap. Kapal-kapal tersebut tak hanya ditangkap, tetapi juga diledakkan guna memastikan agar tidak bisa dipakai lagi untuk menguras kekayaan laut Indonesia. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, hampir 200 kapal asing pencuri ikan di wilayah lautan Indonesia sudah diledakkan dan ditenggelamkan.
Diklaim, ikan sekarang lebih mudah diperoleh oleh nelayan. Jumlah pencurian hasil laut yang dilakukan kapal asing juga diklaim sudah jauh berkurang. Semoga Indonesia benar-benar bisa kembali memiliki budaya bahari yang kuat, sama seperti berabad-abad silam.

Kompas, Rabu, 20 April 2016