Monday, 18 April 2016

Legenda Menak Jingga Terasa seperti Nyata

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU dan NAWA TUNGGAL
Rintik hujan turun pada Rabu (13/4) sore di Situs Umpak Songo, Desa Tembokrejo, Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Soimin (80) mengulurkan selembar kertas bertuliskan Cerita Kerajaan Blambangan yang diketik rapi bertanggalkan 16 Desember 1989. Juru pelihara Situs Umpak Songo ini berupaya sekuat daya meneguhkan kembali legenda Prabu Menak Jingga, Raja Blambangan.
Hartono (kiri) dan Soimin, Rabu (13/4), berdiri di Situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka mengaku sebagai keturunan Mbah Nadi Gede, penemu Situs Umpak Songo, yang diyakini sebagai sisa bangunan dari peninggalan Kerajaan Blambangan di wilayah paling timur Pulau Jawa itu. Dari situs ini, legenda Menak Jingga
Hartono (kiri) dan Soimin, Rabu (13/4), berdiri di Situs Umpak Songo di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka mengaku sebagai keturunan Mbah Nadi Gede, penemu Situs Umpak Songo, yang diyakini sebagai sisa bangunan dari peninggalan Kerajaan Blambangan di wilayah paling timur Pulau Jawa itu. Dari situs ini, legenda Menak Jingga "terawat" sampai sekarang. (Kompas/Nawa Tunggal)
”Leluhur kami, Mbah Nadi Gede, yang pertama kali menemukan situs ini ketika masih menjadi hutan pada 1916,” kata Soimin.
Soimin bersama adiknya, Hartono (55), sore itu menyambut kami. Mereka antusias menceritakan Situs Umpak Songo dulunya sebagai bangunan Kerajaan Blambangan. Prabu Menak Jingga sebagai salah satu rajanya diyakini sebetulnya berhak menduduki takhta Majapahit. Namun, Menak Jinggo dikalahkan tokoh Damar Wulan.
Arkeolog Hasan Djafar dari Universitas Indonesia, di Jakarta, mengatakan, Menak Jingga dan Kerajaan Blambangan hanya legenda yang terinspirasi dari pertikaian keluarga Kerajaan Majapahit. Pertikaian ini bersumber pada perebutan kekuasaan antara Bhre Wirabhumi (anak kandung Raja Majapahit Hayam Wuruk dari perkawinannya dengan istri selir) dan Bhra Hyan Wisesa atau Wikramawardhana (keponakan Hayam Wuruk).
Wikramawardhana waktu itu menikah dengan Kusumawardhani, putri Hayam Wuruk dari istri permaisuri. ”Dari pertikaian itu muncul peperangan paregreg atau perang saudara hingga berakhirnya Kerajaan Majapahit,” kata Hasan.
Saat itu, Bhre Wirabhumi diberi kekuasaan di kedhaton wetan atau kerajaan wilayah timur yang membentang dari Lumajang sampai Blambangan. Menurut Hasan, sosok Bhre Wirabhumi menjadi inspirasi kemunculan legenda Prabu Menak Jingga dari Blambangan.
Prabu Menak Jingga tidak pernah menjadi raja Majapahit. Dalam buku yang ditulis Hasan, Masa Akhir Majapahit (2012), kronologi raja-raja Majapahit berawal dari Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) yang berkuasa pada 1293-1309. Rajasanagara atau Hayam Wuruk menjadi Raja Majapahit keempat pada 1350-1389.
Wikramawardhana menjadi raja kelima pada 1389-1429. Ia digantikan Raja Suhita, 1429-1447. Majapahit bertahan hingga raja ke-12, Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, 1474-1519. ”Penyebab runtuhnya Majapahit adalah perpecahan keluarga kerajaan,” kata Hasan.
Cerita leluhur Soimin
Situs Umpak Songo berada tidak jauh dari pelabuhan nelayan tradisional terbesar kedua di Indonesia, yaitu Pelabuhan Muncar. Situs ini berupa susunan tiga kali tiga umpak yang sedikit janggal karena berjarak terlalu rapat, yakni sekitar 2 meter. Umpak di situs itu berupa batu besar dengan lubang kotak di bagian atasnya.
Umpak biasanya digunakan sebagai fondasi tiang bangunan pada bangunan tradisional masyarakat Jawa yang berupa joglo. Umpak yang banyak ditemui di Jawa Tengah dan Jawa Timur biasanya dibentuk rapi menyerupai piramida.
Berbeda dengan umpak yang banyak ditemui sekarang, bentuk umpak di Situs Umpak Songo tidak beraturan. Umpak-umpak itu sepertinya masih alami, belum dibentuk.
Catatan tentang Kerajaan Blambangan yang diberikan Soimin menyebutkan, kerajaan itu berdiri pada tahun 700 dan bubar pada tahun 1400. Lokasinya ditinggalkan orang dan menjadi hutan selama 516 tahun. Baru pada 1916, lokasi itu ditemukan oleh Mbah Nadi Gede.
Dikisahkan pula, berawal dari kunjungan seorang raja dari Solo, Mangku Bumi IX, diketahui Kerajaan Blambangan mengalami pergantian raja sebanyak lima kali. Mereka antara lain Raja Siung Manoro yang berasal dari Kediri. Ada pula Raja Kebo Mancuet dari Bali yang memiliki tanduk.
Kebo Mancuet adalah anak Raja Kelungkung di Bali. Karena memiliki tanduk, ia dibuang oleh ayahnya ke Alas Purwo di Banyuwangi dan dirawat oleh Ki Ayah Pamengger, eyang dari Menak Jingga, yang dikenal pada masa mudanya sebagai Joko Umbaran.
Pada masa Kebo Mancuet berkuasa, disebutkan bahwa ratu dari Majapahit, Kencana Wungu, membuat sayembara, ”Barangsiapa membunuh Kebo Mancuet, ia akan diberi Tanah Blambangan dan menikah dengan Kencana Wungu.”
Banyak peserta sayembara gugur, tetapi Joko Umbaran berhasil membunuh Kebo Mancuet. Sayangnya, dalam pertarungan itu, wajah Joko Umbaran menjadi rusak. Joko Umbaran pun akhirnya naik menjadi Raja Blambangan dan mendapat gelar Menak Jingga.
Hikayat Blambangan Setelah Menak Jingga Tidak Berkuasa
Setelah Joko Umbaran atau Menak Jingga tidak berkuasa, Raja Blambangan berikutnya-menurut penjaga Situs Umpak Songo, Soimin-ialah Siung Laut. Namun, Siung Laut kemudian pergi ke Bali dan menyerahkan takhta Blambangan kepada patihnya, Joto Suro.
Siung Laut memiliki putri bernama Sedah Merah. Siung Laut ingin menikahkan sang putri dengan patihnya, Joto Suro. Namun, Sedah Merah malah memilih seorang pangeran bernama Pangeran Julang untuk menjadi suaminya dan pergi ke Mataram.
Setelah menjadi Raja Blambangan, Joto Suro menyerang Mataram dan membawa kembali Sedah Merah. Pangeran Julang kalah dan pergi mengungsi.
Di Blambangan, Sedah Merah menolak Joto Suro. Sedah Merah akhirnya bunuh diri.Dikisahkan pula, Joto Suro mengangkat patih yang bernama Ario Bendung. Joto Suro pada suatu ketika memerintahkan Ario Bendung pergi untuk menyerang Mataram. Waktu itu, Pangeran Julang, suami Sedah Merah, masih berada di Mataram.
Di Mataram, Ario Bendung diberi tahu bahwa dirinya hanya ditipu Joto Suro. Hal yang terjadi sesungguhnya adalah Joto Suro menginginkan istrinya.
Maka, Ario Bendung pulang dari Mataram dan menemukan istrinya sudah terbunuh karena menolak Joto Suro. Terjadilah kemudian pertempuran Ario Bendung melawan Joto Suro.
Joto Suro terkalahkan. Ario Bendung kemudian kembali ke Mataram untuk mengabarkan keadaan Blambangan kepada Pangeran Julang.
Ada kutipan yang unik dalam Catatan Kerajaan Blambangan yang disodorkan Soimin, penjaga Situs Umpak Songo. Dikisahkan bahwa Ario Bendung mengabarkan hanya rakyat Blambangan yang masih hidup. Pangeran Julang lalu menyatakan, masih ada satu orang yang hidup.
Ario Bendung pun menanyakan nama orang yang hidup tersebut.
"Pikir sendiri," kata Pangeran Julang.
Ario Bendung mengetahui yang dimaksudkan Pangeran Julang, lalu ia bunuh diri.
Di dalam baris kalimat terakhir cerita itu, dikisahkan bahwa ketika Ario Bendung ke Mataram, Blambangan dilanda lahar. Yang hidup tersisa hanya 10 orang, kemudian lima orang pergi ke Mataram dan lima orang lain menetap di Blambangan. (NAW)

Kompas, Senin, 18 April 2016