Saturday, 26 December 2015

Frekuensi Gempa Tinggi

Bencana Merusak Terjadi di Zona yang Belum Dikenali
JAKARTA, KOMPAS — Selama tahun 2015, Indonesia diguncang 4.394 gempa bumi dengan tujuh gempa menimbulkan kerusakan. Sebagian besar gempa merusak itu terjadi di kawasan timur Indonesia dan bersumber di zona sesar yang belum dipetakan.
Petugas  menunjukkan aktivitas gempa yang terjadi di wilayah Aceh di kantor Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Mata Ie, Banda Aceh, Aceh, beberapa waktu lalu. Selama 2015, Indonesia diguncang 4.394 gempa bumi yang tujuh di antaranya menimbulkan kerusakan.
Petugas menunjukkan aktivitas gempa yang terjadi di wilayah Aceh di kantor Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Mata Ie, Banda Aceh, Aceh, beberapa waktu lalu. Selama 2015, Indonesia diguncang 4.394 gempa bumi yang tujuh di antaranya menimbulkan kerusakan. (Kompas/Adrian Fajriansyah)
Demikian evaluasi kejadian gempa bumi di Indonesia pada 2015 yang dipaparkan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono di Jakarta, Jumat (25/12). "Patut disyukuri, selama 2015, Indonesia tak dilanda gempa berkekuatan di atas M (magnitudo) 8 dan tsunami," ujarnya.
Dari ribuan gempa terekam 164 seismograf yang dipasang BMKG di sejumlah lokasi, hanya 360 gempa yang dirasakan warga. Ada 4.034 kejadian tidak terasa karena berskala kecil. Gempa kategori besar (M 7,0- M 7,9) terjadi dua kali, yakni di Nusa Tenggara Timur berkekuatan M 7,1 pada 27 Februari 2015 dan di Mamberamo Raya, Papua, kekuatan M 7,2 pada 27 Juli 2015. Gempa berkekuatan M 6,0-M6,9 terjadi 11 kali dan berkekuatan M 5,0-M 5,9 mencapai 185 kali. Gempa M 4,0-M 4,9 sebanyak 1.456 kali dan yang berkekuatan lebih kecil dari M 4 mencapai 2.742 kali.
Gempa merusak
Daryono menambahkan, gempa bumi yang memicu kerusakan terjadi tujuh kali, yakni di Pagimana, Banggai, Sulawesi Tengah, pada 16 Maret 2015, berkekuatan M 6,0. Gempa merusak juga terjadi di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Madiun, Jawa Timur, 25 Juni 2015. Meski kekuatan gempa kecil, M 4,2, kedalaman hiposenter hanya 3 kilometer sehingga merusak 57 rumah.
Berikutnya, pada 27 Juli 2015, gempa berkekuatan M 7,2 terjadi di Mamberamo Raya, Papua, yang menyebabkan puluhan bangunan rusak dan menewaskan satu orang. Gempa merusak terjadi di Sorong, Papua Barat, 24 September 2015. Kekuatan gempa M 6,8 dengan kedalaman hiposenter 10 km. Sebanyak 257 rumah rusak dan 62 orang terluka.
Pada 4 November 2015, gempa berkekuatan M 6,2 melanda Alor, NTT, yang menyebabkan 884 rumah rusak dan 3 orang luka berat. Sementara gempa bumi langka, tipe swarm, terjadi di Jailolo, Halmahera Barat, Maluku. Gempa itu beruntun dan selama November-Desember terjadi 1.171 kali dengan kekuatan di bawah M 5,0. Kedalaman hiposenter rata-rata 10 km. Tingginya frekuensi gempa di Jailolo mengakibatkan 1.593 rumah rusak dan satu warga luka akibat tertimpa bangunan.
Terakhir, gempa yang juga langka terjadi di Tarakan, Kalimantan Utara, pada 21 Desember 2015. Gempa itu berkekuatan M 6,1 dengan kedalaman hiposenter 10 km. Sebanyak 10 rumah rusak, 1 orang terluka berat, dan 9 orang terluka ringan.
Dari data itu terlihat, hampir semua kejadian gempa merusak terjadi di kawasan timur Indonesia. "Semua gempa merusak tahun ini akibat sesar aktif, tak satu pun dipicu aktivitas subduksi lempeng. Mayoritas gempa merusak tak terjadi di jalur sesar utama yang sudah dikenali, tetapi pusatnya di sesar lokal yang belum dikenali," kata Daryono.
Ahli gempa bumi Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, mengatakan, banyak sumber gempa bumi merusak belum dipahami. Bahkan, sebagian belum dipetakan sebagai sumber gempa aktif, seperti Tarakan. "Perlu percepatan riset dasar gempa bumi, apalagi kita tengah menggenjot pembangunan infrastruktur di banyak daerah," ujar Irwan.
Menurut Daryono, gempa merupakan proses geologi yang tidak bisa dihentikan dan tidak dapat diprediksi. Hal terpenting ialah mengenali daerah rentan dan memahami mekanismenya demi memperkecil kerusakan bangunan dan mencegah korban jiwa akibat gempa. (AIK)
Kompas, Sabtu, 26 Desember 2015