Saturday, 26 December 2015

Kaum Muda Jaga Kebinekaan

Jambore Pelajar Kunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta
JAKARTA, KOMPAS — Generasi muda perlu dibekali kesadaran dan kecakapan untuk menjaga kebinekaan. Untuk itu, mereka didorong agar memiliki sikap terbuka dan menghargai perbedaan. Bekal itu penting untuk menjaga kesatuan bangsa, apalagi ketika mereka kelak memimpin negeri ini.
Peserta Jambore Pelajar Se-Jawa 2015 melihat-lihat koleksi museum di Gereja Katedral, Jakarta, Rabu (23/12). Kegiatan yang diikuti 101 pelajar lintas agama setingkat SMA, SMK, dan madrasah aliyah dari sejumlah sekolah di Pulau Jawa ini memberikan contoh kedewasaan bergaul antarumat berbeda agama  sesuai jiwa kebinekaan di Indonesia.
Peserta Jambore Pelajar Se-Jawa 2015 melihat-lihat koleksi museum di Gereja Katedral, Jakarta, Rabu (23/12). Kegiatan yang diikuti 101 pelajar lintas agama setingkat SMA, SMK, dan madrasah aliyah dari sejumlah sekolah di Pulau Jawa ini memberikan contoh kedewasaan bergaul antarumat berbeda agama sesuai jiwa kebinekaan di Indonesia. (Kompas/Rony Ariyanto Nugroho)
Komitmen generasi muda untuk menjaga kebinekaan difasilitasi Maarif Institute lewat Jambore Pelajar Se-Jawa 2015 di Jakarta pada 20-26 Desember. Pada pembukaan jambore, peserta berkesempatan berdialog dengan salah satu pemimpin yang keberanian dan integritasnya dinilai patut diteladani, yakni Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Rabu (23/12), 101 pelajar SMA/SMK/MA dari 30 kota se-Jawa itu menggelar dialog dengan pengelola Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal.
Lewat kunjungan ke dua rumah ibadah umat agama yang berbeda itu, peserta jambore mengetahui praktik kerukunan beragama di lapangan. Hal itu, antara lain, terlihat dari diperbolehkannya penggunaan lahan parkir di Masjid Istiqlal oleh umat Katolik yang beribadah di Gereja Katedral ketika tempat parkir sudah tidak muat. Demikian pula sebaliknya.
Peserta juga diberi kesempatan untuk berdialog soal keagamaan dan toleransi dengan romo di Gereja Katedral dan imam di Masjid Istiqlal. Pengalaman bertemu langsung dengan orang berbeda agama sangat penting. Proses seperti ini mampu meruntuhkan tembok prasangka dan kebencian sehingga menumbuhkan kesadaran akan kebinekaan bangsa.
Mencintai kebinekaan
Menurut ketua pelaksana jambore, Abdullah Daraz, kegiatan tahunan yang sudah tiga kali dilaksanakan ini memberikan pengalaman bagi pelajar untuk belajar bersama tentang ikhtiar mencintai kebinekaan dengan menghayati jati diri bangsa Indonesia. Kedewasaan dalam bergaul mutlak diperlukan jika bangsa ini berkomitmen menjaga kebinekaan.
Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan, bangsa Indonesia sudah berhasil menunjukkan kualitas hubungan antarumat beragama yang membanggakan dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait situasi aman dalam perayaan hari besar keagamaan. "Ini wajah negeri kita yang menyejukkan meskipun selalu ada riak-riak. Kita harus terus mengedepankan nilai-nilai moralitas dan kesalehan sosial dalam berinteraksi tanpa terjatuh pada fanatisme agama yang berlebihan," katanya.
"Kunjungan para pelajar ke dua tempat ibadah simbol umat Katolik dan Islam mengajarkan peserta jambore untuk selalu membangun jembatan dialog," lanjut Fajar.
Dalam kaitan dengan toleransi, Ketua Badan Pengelola Masjid Istiqlal Mubarok mengatakan, Islam merupakan agama yang mendahulukan kedamaian dan kemaslahatan. Oleh karena itu, umat agama lain yang mengunjungi Masjid Istiqlal disambut terbuka.
Pada kesempatan dialog tersebut ada peserta yang menanyakan soal radikalisme yang dikaitkan dengan Islam dan cara anak muda membentengi diri. Mubarok mengatakan, radikalisme sebenarnya ada di semua agama. Ketika ada kelompok yang mengklaim paham mereka paling benar atau hanya kelompoknya yang bisa masuk surga, kita mesti waspada. "Anak muda mudah terperangkap. Bangsa ini bisa bersatu karena saling menerima perbedaan," ujarnya.
Pengalaman berharga
Verentia A Putri, siswa SMAN 2 Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, yang merupakan satu-satunya peserta non-Muslim, merasakan pengalaman berharga bisa mengikuti jambore dan mendapatkan perlakuan yang sama. "Saya jadi memahami, meskipun beda agama, kita bisa tolong-menolong. Di Masjid Istiqlal, (siswa) yang non-Muslim boleh masuk dan disambut baik," katanya.
Frizka Nur Widyastuti, siswa SMAN 1 Karas, Magetan, Jawa Timur, yang berjilbab, baru pertama kali masuk gereja. "Saya dapat pengalaman baru dan pencerahan soal agama Katolik, dapat penjelasan langsung dari romo. Seharusnya umat Islam dan Katolik tidak berseteru," ujar Frizka.
Laras Safa Azhara, siswa SMAN 1 Lawang, Malang, Jawa Timur, merasa terkesan bisa bertemu dengan Basuki Tjahaja Purnama, pemimpin yang menginspirasi generasi muda untuk berani memperjuangkan kebenaran. "Basuki meyakinkan kami untuk menjadi pemimpin yang berani melawan arus, jujur, tidak selalu kalah," ucapnya.
Peserta jambore juga berkesempatan berkunjung ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi. Para pelajar ikut menyampaikan suara generasi muda yang mendukung pemberantasan korupsi di negeri ini. (ELN)
Kompas, Sabtu, 26 Desember 2015