Tuesday, 22 December 2015

Natal, Saatnya Bertukar Rantang...

Tradisi bertukar rantang di perayaan Natal meretas sekat-sekat di antara warga berbeda agama di Kampung Sawah, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat. Layaknya Lebaran, rantang itu juga berisi semur daging dan sayur, santapan khas warga di Jakarta dan sekitarnya pada tiap perayaan agama.
Warga memasang hiasan bertema Natal di Gereja Santo Antonius, Kotabaru, Yogyakarta, Selasa (22/12). Sejumlah gereja mulai menyiapkan dekorasi serta menambah tempat duduk bagi umat yang hendak mengikuti perayaan Natal pada minggu ini. (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)
Menurut Sholahudin Malik, warga Kampung Sawah, sudah menjadi tradisi di kampungnya untuk saling bertukar rantang pada saat Lebaran dan Natal. "Ketika Lebaran, giliran kami membawakan rantang ke mereka (warga Kristiani), nasinya digantikan dengan ketupat," kata Sholahudin, Selasa (15/12).
Matheus Nalih, Wakil Dewan Paroki Gereja Katolik Santo Servatius, Kampung Sawah, juga mengungkapkan hal serupa. Menurut Nalih, persaudaraan antarwarga berbeda agama di Kampung Sawah dijaga terus-menerus melalui radio dan koran komunitas. "Kerukunan dan kebersamaan yang hidup di masyarakat itu dijaga supaya tidak habis dalam perjalanan waktu," katanya.
Bagi Sholahudin, momentum Natal di Kampung Sawah menjadi pengingat bahwa warga setempat mempunyai keluarga yang beragama Kristen, di samping warga yang beragama Islam. Di Kampung Sawah terdapat dua gereja yang berusia lebih dari seabad, yakni Gereja Katolik Santo Servatius dan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Kampung Sawah, yang jemaatnya adalah warga Kampung Sawah.
Dua gereja di Kampung Sawah, yang berdekatan dengan Masjid Agung Al Jauhar Yasfi, itu sudah berdiri sejak abad ke-19. Di antara jemaat pertama di gereja tersebut terdapat masyarakat Betawi, penduduk asli Kampung Sawah.
"Meskipun berbeda kepercayaan, kami masih mempunyai ikatan kekerabatan. Sebagai Muslim, kami tidak mengurus akidah mereka yang Nasrani. Sebagai warga Kampung Sawah, kami berkewajiban menjaga kerukunan warga yang sudah ada sejak dahulu di kampung kami," kata Sholahudin, yang menjabat Sekretaris Yayasan Pendidikan Fisabilillah (Yasfi) Kampung Sawah.
Yayasan Fisabilillah, yang mengelola Pondok Pesantren Fisabilillah dan sekolah madrasah di Kampung Sawah, memiliki Masjid Agung Al Jauhar Yasfi yang mempunyai tanah lapang luas. Menurut Sholahudin, lapangan di depan masjid mereka itu dapat digunakan sebagai tempat parkir untuk jemaat gereja. "Warga di Kampung Sawah juga membantu pengamanan saat ibadah mereka," kata Sholahudin.
Tak menghalangi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang akan berlangsung pada 24 Desember, sehari sebelum Natal, juga tak menghalangi warga untuk membantu sesama warga yang merayakan Natal. Menurut Sholahudin, kebetulan umat Muslim yang tergabung dalam Yayasan Fisabilillah belum menetapkan hari untuk mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap 12 Rabiulawal itu, lanjutnya, dapat dilaksanakan setelah Natal. "Jadi, masih boleh dilaksanakan setelah 12 Rabiulawal," ujarnya.
Oleh karena itu, Sholahudin menjamin lapangan masjid tetap dapat dipakai untuk parkir mobil warga yang akan merayakan Natal di gereja. "Warga Muslim tetap bertugas menjaga keamanan lingkungan selama perayaan Natal berlangsung," katanya.
Di kawasan permukiman komunitas warga Belanda Depok di Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, warga Kristiani dan Muslim juga dapat hidup berdampingan. Umat Kristiani yang menjadi warga mayoritas di tempat itu tak lantas menjadi superior terhadap warga Muslim yang minoritas.
Hari (39), salah satu warga beragama Islam, mengaku, dirinya tidak pernah merasa terancam meski tinggal di tengah-tengah komunitas warga yang mayoritas beragama Kristen. Dia juga dapat bebas berdagang minuman di sekitar gereja.
Komunitas Belanda Depok yang dibentuk oleh petinggi VOC, Cornelis Chastelein, ini sudah ada sejak tahun 1714. Warga kompleks awalnya berasal dari berbagai daerah, antara lain Bali, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Sulawesi Selatan. Mereka lalu membentuk 12 kelompok yang kemudian menjadi marga.
Menurut tokoh setempat, Yano Jonathans, warga lebih menonjolkan nilai-nilai universal, antara lain keadilan dan toleransi. "Artinya mewujudkan satu kesejahteraan bersama. Itu juga nilai yang diwariskan Cornelis," ujarnya.
Silaturahim
Perbedaan agama di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, malah melanggengkan silaturahim antarsaudara dan warga. Veronica Pulung (43), salah satu warga, tak sabar menunggu kakaknya, Kuntoro (48), datang bersilaturahim ke rumahnya pada perayaan Natal. Berbeda dengan Veronica, Kuntoro beragam Islam.
"Setiap Natal, kakak saya pasti datang ke rumah. Ini kesempatan saya untuk bertemu anggota keluarga yang lain. Makanan pasti disiapkan untuk seluruh keluarga. Rasanya gembira sekali," ujar Veronica yang bekerja di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuningan.
Menurut penggiat pelestarian budaya dan sejarah Indonesia, Asep Kambali, tak semestinya perbedaan agama menjadi penyebab konflik. Batavia merupakan tempat bertemunya beragam etnis dan agama, mulai dari Arab, Tiongkok, Belanda, hingga Portugis. Kampung Sawah yang secara umum warganya beretnis Betawi adalah miniatur keragaman agama yang terjaga hingga saat ini.
Untuk mengembalikan toleransi ini, kata Asep, masyarakat perlu kembali menengok sejarah. Bahwa semuanya berangkat dari keragaman dan perbedaan agar kerukunan tetap terjaga. (COK/IRE/REK/VDL/C04/C05)
Kompas, Rabu, 23 Desember 2015