Tuesday, 22 December 2015

Saatnya Rayakan Pluralisme: Tak Hanya Wacana, Masyarakat Mempraktikkan Toleransi

JAKARTA, KOMPAS — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 Hijriah dan perayaan Natal 2015 yang hampir bersamaan menjadi momentum meneguhkan kembali semangat persaudaraan. Inilah saatnya merayakan keberagaman yang menjadi pengikat sosial kebangsaan Indonesia.
Presiden Joko Widodo berfoto bersama (dari kiri) Pendeta Bambang Wijaya, Pendeta Khrisye Gosal, Pendeta Gomar Gulfon (Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/PGI), Pendeta Henriette TH Lebang (Ketua Umum PGI), Mgr Ignatius Suharyo (Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia/KWI), Romo Edy Purwanto (Sekretaris Eksekutif KWI), Romo Benny Susetyo, dan Romo Agus Ulahanayan seusai bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/12). (KOMPAS/WISNU WIDIANTORO)
Ikatan sosial dari keberagaman suku, agama, ras, dan golongan harus tetap dipertahankan untuk menjaga kelangsungan Indonesia. Demikian benang merah pendapat Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Henriette TH Lebang, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Haji Said Aqil Siroj, Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yusnar Yusuf, dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia Suhadi Sendjaja yang ditemui dan dihubungi terpisah pada Selasa (22/12).
Said mengatakan, pada hakikatnya perbedaan merupakan hal lumrah di Indonesia. Justru karena perbedaan itulah Indonesia lahir dan terus bertahan hingga saat ini. "Untuk itu, tidak ada alasan kita mempermasalahkan perbedaan itu," ujarnya.
Menurut Said, akhir-akhir ini persatuan Indonesia yang sudah terjaga itu coba diganggu oleh ideologi asing. Ideologi itu ingin memecah belah persatuan Indonesia.
Menyongsong peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 24 Desember dan Natal pada 25 Desember ini, Said mengatakan bahwa inilah momentum yang sangat tepat untuk menguatkan kembali persatuan Indonesia dan semangat kebersamaan yang selama ini telah terjalin. "Tunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang bisa menerima perbedaan. Hal ini penting untuk melawan atau menangkal perkembangan ideologi radikal yang sudah mulai masuk ke Indonesia," tutur Said.
Dia berharap pemerintah dan para pemuka agama terus mengarahkan umat agar tidak mudah terlena dengan ajakan bergabung dengan kelompok berideologi radikal. Sebab, ideologi radikal, terutama yang mengusung suatu agama, merupakan tindakan keliru.
Sejalan dengan Said, Haedar menuturkan bahwa perbedaan adalah bagian dari spirit ilahiah. Namun, di atas semua perbedaan itu, antarumat harus menjunjung semangat kemanusiaan yang memancarkan nilai-nilai umat yang ihsan. "Makna ihsan dalam hal ini ialah berbuat dan berbagi kebaikan atau kebajikan kepada sesama tanpa melalui sekatan apa pun. Sekat itu bisa berupa suku, agama, ras, dan antargolongan. Namun, nilai-nilai ihsan melebihi itu semua," ungkap Haedar.
content
Keluarga Allah
Suharyo menuturkan, kita sebagai warga negara yang berbeda keyakinan wajib untuk berusaha mengamalkan Pancasila. Hanya dengan cara itu kita sungguh-sungguh bisa membangun masa depan yang kokoh.
"Pesan Natal bersama PGI dan KWI tahun ini mengambil tema 'Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah'. Kata kuncinya adalah hidup bersama. Kami mengajak umat Kristiani di Indonesia agar ikut berusaha sekuat tenaga membangun hidup bersama itu," kata Suharyo seusai memenuhi undangan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Senin. Joko Widodo mengundang Suharyo dan jajaran pengurus KWI serta Henriette dan jajaran pengurus PGI.
Henriette menuturkan, revolusi mental yang diusung pemerintahan sejalan dengan kondisi saat ini. Perubahan sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini, baik perubahan gaya hidup maupun pola pikir. "Perubahan tersebut dibutuhkan untuk masyarakat Indonesia yang maju, mandiri, dan sejahtera," kata Henriette.
Dalam konteks bangsa sebagai sebuah keluarga, Yusnar mengajak seluruh umat merayakan hari besar keagamaannya dalam semangat kerukunan dan kebangsaan. Dia mengingatkan pemerintah agar memiliki komitmen dan niat yang kuat untuk menjaga kerukunan umat beragama.
"Kita sebagai umat harus sama-sama menjaga kerukunan dan dalam konteks kebangsaan. Kami meminta pemerintah agar benar-benar memiliki niat yang baik untuk menjaga kerukunan umat beragama itu," kata Yusnar.
Suhadi berpendapat bahwa kerukunan menjadi hal mendasar dalam hubungan antaragama. Para tokoh agama, menurut Suhadi, bertanggung jawab menjaga umat dan mencerdaskan umatnya.
Untuk mempererat semangat persaudaraan sebagai sesama warga bangsa, Senin lalu, tokoh KWI, PGI, MUI, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia, dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia bersama-sama menandatangani deklarasi kerukunan umat beragama yang difasilitasi oleh Kementerian Dalam Negeri di Jakarta.
Saling bantu
Sejalan dengan pendapat para pemuka agama di tingkat ideologi, kelompok-kelompok masyarakat juga terus berupaya mengembangkan praktik kerukunan sebagai sesama anak bangsa. Salah satu contoh adalah Pemuda Lintas Iman (Pelita) di wilayah Cirebon, Jawa Barat, yang ikut membantu gereja Kristen dan Katolik di Cirebon untuk menyiapkan perayaan Natal. "Pada Minggu kemarin, kami membantu dekorasi Natal di Gereja Katolik Santo Yusuf. Sebanyak lima orang datang ke gereja untuk membantu teman-teman Katolik menyambut Natal. Sementara, pekan lalu, 40 anggota Pelita membantu Gereja Bethel Indonesia di Jalan Yos Sudarso," kata Devida, Koordinator Pelita Cirebon.
Di tempat terpisah, anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama juga akan turut mengamankan perayaan malam Natal di Gereja Katolik Paroki Cigugur, Kabupaten Kuningan.
Penggagas Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta, Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr, menuturkan, dalam beberapa tahun terakhir ini, FPUB yang beranggotakan pemuka agama dan keyakinan serta masyarakat umum juga aktif mengampanyekan semangat persaudaraan. Kampanye itu antara lain diwujudkan melalui kegiatan berkeliling dan mengucapkan selamat saat hari-hari besar keagamaan.
Warga Lenteng Agung, Jakarta Timur, Richardus Indarjono (34), berpendapat, pemahaman mengenai pluralisme sangat penting untuk merekatkan perbedaan. Lebih-lebih pada negara majemuk seperti Indonesia. Menurut dia, pemahaman yang tepat bahwa manusia diciptakan unik oleh Sang Pencipta akan membuat kerukunan antarumat beragama di Indonesia dapat terwujud. (DRI/COK/SON/REK/IRE/C08)
Kompas, Rabu, 23 Desember 2015