Saturday, 26 December 2015

Bersama dalam Keragaman...

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Natal, yang berlangsung 24 dan 25 Desember, menjadi semangat bagi umat Kristen dan Islam di beberapa tempat di Jakarta untuk merayakannya dalam kebersamaan. Mereka lebur dalam perayaan dalam semangat menghargai.
Ribuan warga berebut gunungan atau tumpukan bahan makanan dalam upacara Garebeg Mulud yang digelar Keraton Yogyakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Kamis (24/12), di halaman Masjid Gede Kauman, Yogyakarta.
Ribuan warga berebut gunungan atau tumpukan bahan makanan dalam upacara Garebeg Mulud yang digelar Keraton Yogyakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Kamis (24/12), di halaman Masjid Gede Kauman, Yogyakarta. (Kompas/Haris Firdaus)
Umat Gereja Komunitas Anugerah Reformed Baptist menyelenggarakan kebaktian bersama dengan umat Muslim di Jakarta Selatan.
Lagu puji-pujian kepada Tuhan Yesus dilantunkan bergantian dengan doa dan shalawat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, Kamis (24/12) malam, di rumah Pendeta Suardian Budaya (36) di Jalan Guntur 15, Kelurahan Setiabudi, Jakarta Selatan. Acara dihadiri umat Kristen dan Islam.
Kebaktian dimulai dengan lagu "Hai, Mari Berhimpun" yang dinyanyikan oleh umat Kristen. Selanjutnya, ibadah diteruskan dengan pembacaan Surat Al Fatihah oleh Ustaz Imam Fanani atau Gus Iefan sebagai tawashul atau doa kepada orang-orang terdahulu yang telah meninggal. Pembacaan itu diteruskan dengan kidung pujian "Di Malam Suci Bergema". Puncaknya, pendarasan Mazmur 109 dilakukan oleh Gayatri Wedowati, perempuan Muslim yang juga cerpenis.
"Sebab Ia berdiri di sebelah kanan orang miskin untuk menyelamatkannya dari orang-orang yang menghukumnya," kata Gayatri membaca petikan mazmur itu dengan puitis.
Setelah pendarasan mazmur, giliran shalawat Nabi yang berkumandang.
Gus Iefan merasa acara ini adalah terobosan. "Ini upaya percakapan yang jujur di antara kedua umat," kata Gus Iefan.
Kerukunan juga ditemui di Jalan Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud Jemaat Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien hanya dipisahkan oleh tembok sepanjang 45 meter. Suara doa dari gereja bisa didengar dari masjid, begitu pula sebaliknya. Kerukunan itu sudah terjalin selama 56 tahun.
Di malam Natal, Kamis, Sulaeman Rompas (61) khusyuk menunaikan shalat Maghrib bersama jemaah lain. Lagu-lagu Natal dari Gereja Mahanaim terdengar sampai Masjid Al-Muqarrabien.
Sudah 12 tahun Sulaeman bekerja sebagai marbot di Masjid Al-Muqarrabien. Sejak siang hari, Sulaeman sudah berjaga di kompleks masjid. Ia mengawasi keamanan di sekitar masjid dan gereja. Ia juga ikut mengatur parkir di halaman masjid karena masjid juga menyediakan halaman untuk ruang parkir bagi kendaraan jemaat gereja.
Saat Maulid Nabi, biasanya ada peringatan di masjid kecil itu. Namun, kata Sulaeman, demi menjaga toleransi, peringatan maulid ditunda hingga rangkaian ibadah Natal di gereja selesai.
Sebaliknya, saat Idul Fitri dan Idul Adha, kebaktian di gereja diundur hingga shalat Id di masjid itu selesai. "Pernah Idul Fitri dan Idul Adha jatuh di hari Minggu. Maka, kebaktian pagi kami undur setelah shalat Id usai," kata Wakil Ketua Jemaat Mahanaim Dikson Bawuna.
Sementara itu, sebanyak 325 anak dari beragam agama merasakan kebahagiaan Natal di aula Panti Asuhan Vincentius Putra, Jakarta Pusat, Jumat (25/12). Kegiatan yang diadakan Badan Pelayanan Karismatik Keuskupan Agung Jakarta tersebut dikemas dalam acara Makan Siang Natal.
Anak-anak yang diundang datang dari enam panti asuhan di Jakarta. Mereka diundang untuk merasakan perayaan Natal bersama. (REK/IRE/C08/C09)
Kompas, Sabtu, 26 Desember 2015