Monday, 2 December 2013

Mewujudkan Indahnya Keberagaman

Oleh SULASTOMO
Indonesia ditakdirkan sebagai bangsa yang sangat beragam: agama, etnisitas, dan budaya. Namun, kita juga yakin bahwa keberagaman itu merupakan potensi luar biasa kalau kita bisa menghimpunnya melalui prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Bahwa hal itu belum terwujud, itu soal lain.
Setiap umat beragama tentu meyakini bahwa agamanya mengajarkan kebaikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Kalau setiap umat beragama mengamalkan ajaran agamanya dengan benar, tidak akan ada konflik berdasarkan agama sebab setiap umat beragama wajib berbuat baik kepada siapa saja, termasuk yang berbeda agama.
Maka, alangkah besar potensi Indonesia dengan keberagaman agama itu kalau  setiap umat beragama mengamalkan ajaran agamanya dengan benar. Nilai moral yang tinggi akan mewarna moral bangsa ini. Tidak akan ada konflik berdasarkan agama dan kehidupan kebangsaan kita juga akan harmonis dan kokoh.
Demikian juga keberagaman etnisitas dan budaya. Tidak ada nilai etnis dan budaya lokal yang buruk bagi masyarakat sekitarnya. Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal. Bukan untuk saling bermusuhan. Kalau saling bermusuhan, berarti kita mengalahi kodrat penciptaan manusia.
Keteladanan
Yang diperlukan adalah keteladanan bagaimana kita bisa menerima perbedaan itu. Nabi Muhammad SAW telah memberi contoh. Pada tahun 10 Hijriah (631 Masehi) Nabi Muhammad SAW didatangi delegasi umat Kristiani yang berjumlah 60 orang dari Najran, sebuah daerah sekitar 720 kilometer selatan dari Madinah. Mereka diterima di masjid Nabi dan mereka diperkenankan beribadah sesuai dengan agamanya di masjid Nabi.
Selama tiga hari tiga malam mereka berdialog tentang “tabiat” Tuhan dan Isa as. Namun, dialog itu tidak dapat menemukan kesepakatan. Mereka tetap pada pendirian bahwa ajaran Muhammad SAW tidak akan bisa diterima karena bertentangan dengan ajaran Kristiani yang mereka yakini.
Kendati ada perbedaan teologis, Rasulullah bersedia melakukan persetujuan damai, antara lain berisikan bahwa warga Kristiani mendapat keamanan Allah dan Rasul-Nya baik bagi kehidupan mereka sehari-hari, agama, dan harta kekayaan mereka. Tidak akan ada intervensi dalam agam dan peribadatan mereka. Tidak akan ada perubahan dalam hak-hak kelebihan bagi mereka. Tidak akan ada perusakan bagi rumah ibadah atau simbol keagamaan lainnya.
Jika ada di antara mereka mencari keadilan atas orang-orang Islam, keadilan akan ditegakkan di antara mereka. Perjanjian itu dikenal sebagai Perjanjian Najran, yang menunjukkan kebesaran jiwa Nabi menyikapi perbedaan yang bersifat teologis itu. Namun, sebagai manusia, kita harus dapat hidup secara damai.
Contoh lain barangkali dapat disampaikan pengalaman pribadi ketika berkunjung di Amerika pada April lalu. Ketika saatnya shalat Jumat, seorang teman bertanya, “Mau shalat Jumat di mana? Di masjid, gereja, atau sinagoge?” “Di gereja saja,” jawab kami.
Demikianlah, di Gereja Anglikan dekat Gedung Putih kami datang sekitar pukul 12.30. Gereja masih sepi dan kami dipersilakan masuk. Untuk wudhu, kami dipersilakan masuk ke belakang, di kamar mandi/toilet. Menjelang pukul 13.00, sajadah digelar di altar gereja itu. Umat baru datang secara serentak menjelang pukul 13.00, sebagian besar para eksekutif yang bekerja di daerah itu. Berdasi dan pakaian biasa. Imam dan khatib seorang warga Pakistan yang sudah lama tinggal di AS. Berbaju putih dan bercelana hitam tidak berpeci. Tema khotbahnya mengenai perlunya memahami perbedaan di antara umat manusia dan perlunya kehidupan yang harmoni antarsesama.
Seusai shalat yang berlangsung sekitar 50 menit, makan siang disajikan, donasi seorang Jemaah, berupa KFC. Pukul 14.00, shalat Jumat yang kedua akan dilangsungkan. Keterbatasan jumlah masjid diatasi dengan uluran umat beragama lain meminjamkan tempat ibadahnya. Shalat Jumat berlangsung 2-3 kali.
Contoh kedua di Masjid Al Hikmah, New York. Seusai shalat dzuhur, diselenggarakan dialog antarumat beragama. Hadir seorang pastor (Katolik) dan rabi (Yahudi) dengan tuan rumah imam masjid itu. Di depan umat Islam dan undangan lainnya, ketiganya melakukan dialog bagaimana memelihara kehidupan beragama yang harmonis. Itulah yang diperkenalkan sebagai interfaith dialog, dialog antarumat beragama. Kegiatan seperti ini sangat dihargai oleh wali kota New York sehingga imam Masjid Al Hikmah memperoleh penghargaan.
Mimpi Indah
Apa yang dapat kita petik? Perbedaan konsep teologi tak bisa dipertemukan. Namun perbedaan konsep teologi itu tak boleh mengurangi perlunya hidup secara damai di antara umat beragama yang berbeda agama sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Aspek hablumminallah, hubungan manusia dengan Tuhannya tidak boleh dipersoalkan. Namun, aspek hablumminannas, hubungan antarmanusia, perlu kita sepakati bersama bahwa berbuat baik, hidup harmoni, merupakan ajaran setiap agama. Di sinilah kita bisa dipertemukan karena setiap agama mengajarkan kebaikan bagi seluruh umat manusia.
Tak berlebih bila dikatakan, agama bisa jadi landasan kuat bagi perwujudan Bhinneka Tunggal Ika. Sejauh ini masih dalam tahap mimpi. Tugas para pemimpin mewujudkannya.
SULASTOMO
Penasihat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia
KOMPAS, Sabtu, 20 Oktober 2012