Monday, 2 December 2013

Semangat Berbagi Masih Ada di Ibu Kota

Gerbang Gereja Katedral yang hanya berseberangan dengan Masjid Istiqlal, Jumat (29/3), tampak padat dengan kendaraan karena umat Katolik akan mengikuti misa Jumat Agung.
LbtJhIOoRe.jpg
Menghadapi kedatangan umat yang sedemikian banyak, Masjid Istiqlal yang berada di seberang pun rupanya menyediakan sebagian lapangan parkirnya bagi umat Katolik yang akan beribadah. Padahal, pada hari yang sama, umat Islam juga hendak menjalankan shalat Jumat.
“Tidak masalah selagi masih ada tempat, karena kalau kami sedang merayakan Idul Fitri, umat kami juga parkir di gereja depan,” ujar petugas Masjid Istiqlal.
Hal serupa ditemukan di Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien yang terletak di Jalan Enggani, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kedua tempat ibadah ini hanya dipisahkan oleh sebuah tembok.
Bahkan, dapat dikatakan tembok itu seakan “menyatukan” kedua tempat ibadah itu. Dengan berbagi tembok itu, nyanyian gereja dan azan terdengar saling bersahutan tanpa seteru.
Setiap pukul 18.00, nyanyi-nyanyian dari Gereja Mahanaim sudah dimulai. Tak lama, giliran suara azan Magrib berkumandang dari bangunan sebelahnya. Memang suara azan dan lagu-lagu gereja tak terdengar keras karena gereja dan masjid sepakat tidak menggunakan pengeras suara di luar agar masing-masing ibadah tetap khusyuk.
“Alhamdulillah, meski berbeda, tidak jadi persoalan. Kita sebagai masyarakat yang tinggal di satu negara, satu rumpun, harus menjadi contoh. Tidak seharusnya antarumat beragama saling gontok-gontokan,” ujar imam besar Masjid Al-Muqarrabien, Haji Tubagus Chotib, Sabtu (30/3).
Sudah 57 tahun masjid dan gereja ini hidup berdampingan bagai bersaudara. Sampai detik ini, tidak pernah terjadi gesekan atau konflik. Menanggapi fenomena konflik antarumat beragama yang marak terjadi di Tanah Air, Haji Tubagus Chotib menjelaskan bahwa ia selalu menekankan umatnya harus tetap waspada. Umat jangan mau diadu domba dan umat tetap harus prihatin.
Pengurus Gereja Mahanaim, Merry Dauhan, menjelaskan, sejak gereja berdiri, 31 Oktober 1957, pihak gereja juga selalu berusaha untuk tidak mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar dan umat Islam yang beribadah di sebelah.
“Warisan dari dulu yang tetap kami pertahankan, toleransi dalam bentuk berbagi tempat parkir dan juga menyesuaikan jadwal ibadah. Jika hari raya Idul Fitri jatuh pada Minggu, gereja meniadakan ibadah pagi karena kami menghormati umat Islam yang akan shalat Id,” ujar Merry.
Pemuda-pemuda masjid juga bertanggung jawab menjaga keamanan gereja saat perayaan Natal dan Paskah. Kerukunan terbukti saat gereja akan dibakar pada kerusuhan  di Tanjung Priok tahun 1980-an. Seketika, 100-an warga masjid malah pasang badan menjaga gereja.
“Ini contoh praktis dan bukti nyata bahwa kerukunan beragama itu terjadi. Kita sebagai bangsa berasas Pancasila, di mana keanekaragaman diakui, harus menyadari bahwa beragama itu hak asasi semua,” ujar Pendeta Beatris Marasut.
Kompas, Minggu, 31 Maret 2013