Tuesday, 3 December 2013

Indahnya Toleransi di Fakfak

Fakfak adalah salah satu contoh di mana perjumpaan dengan aneka budaya membawa mereka memiliki basis kuat untuk membangun komunitas hidup bersama. Tidak mengherankan jika nyaris tidak ada keributan apalagi kerusuhan di Fakfak yang bermuatan sentiment agama.
Ketika konflik meletus di Ambon, dan jarak Fakfak-Ambon tidak jauh, pengaruhnya tidak pernah meluas di kota yang terletak di pesisir barat Papua itu. Sejumlah tokoh warga menegaskan, mereka tidak akan memberi kesempatan sejengkal pun bagi aneka kepentingan merusak tatanan harmonisasi hidup mereka.
Jauh di pelosok, di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, semangan toleransi itu juga terlihat. Di sini terdapat masjid tertua di kabupaten ini, yaitu Masjid Patimburak. Arsitektur masjid yang dibangun pada 1870 itu unik, yaitu perpaduan bentuk masjid dan gereja.
Masjid yang telah beberapa kali direnovasi ini memiliki kubah khas warisan Kesultanan Tidore dengan bangunan berbentuk segitiga laiknya gereja. Bahkan di dalam masjid ini terdapat ornamen tulisan Allah dan Muhammad id atas gambar menyerupai bentuk salib.
“Sejak lama, kerja sama antar-agama Islam dan Kristen di sini telah berlangsung. Kalau ada yang bangun gereja, orang Islam di sini mesti membantu. Juga sebaliknya. Kami semua di sini bersaudara,” tutus Johari Patiran (45), tokoh warga di Kokas.
Antropolog Universitas Cendrawasih, Jayapura, Mince Rumbiak, dalam sebuah diskusi di The Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Kamis (24/10), mengatakan, orang Papua adalah kelompok masyarakat yang inklusif. Meskipun mereka terdiri dari berbagai kelompok suku, tetapi mereka mampu menghargai perbedaan yang ada di antara mereka.
Semua komunitas agama, menurut dia, dapat bertumbuh dan berkembang tanpa ada gangguan. Di Wamena, misalnya di kawasan yang sebagian besar warganya memeluk agama Kristen dan Katolik, masjid dan komunitas Muslim berkembang dengan pesat. Bahkan di beberapa perkampungan asli, sejumlah masjid berdiri dengan sejumlah keluarga tinggal di sekitarnya.
Sikap inklusif itu mengingatkan pada pernyataan dosen teologi Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, Abepura, Neles Tebay, beberapa waktu lalu, di Jayapura. Menurut dia, orang asli Papua sangat menghormati kesucian atau ‘Yang Suci’ yang dalam konteks agama diyakini sebagai Allah.
Keyakinan pada ‘Yang Suci’ itu dihidupi oleh orang Papua tidak sebatas pada symbol atau praktik ritual keagamaan atau upacara adat saja. Keyakinan pada kesucian itu antara lain muncul dalam gagasan beberapa suku tentang roh dan jiwa leluhur, salah satunya ditemui di komunitas masyarakat Asmat dan Kamoro.
Kesucian itu, misalnya mewujud dalam alam semesta, pada binatang, hutan, dan sungai. Cara pandang itu, kata Neles, tak semata-mata untuk komunitas mereka. Kesucian yang diyakini oleh komunitas lain pun dihormati oleh orang asli Papua.

Kompas, Sabtu, 26 Oktober 2013