Tuesday, 3 December 2013

Indahnya Kebersamaan di Ponpes Walisanga

Oleh SAMUEL OKTORA
Kabupaten Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya memiliki alam yang indah dan subur. Daerah ini juga mempunyai harta yang sangat berharga, yakni toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Benih kebersamaan yang ditabur sejak lama telah bersemi dan tumbuh subur serta berbuah.
Buah itu terlihat dengan terjalinnya interaksi yang harmonis di atara warga Pondok Pesantren (Ponpes) Walisanga di Kelurahan Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan masyarakat di sekitarnya.
Pada acara rekreasi di tepi Sungai Nangaba, Ende, yang diadakan untuk merayakan keberhasilan drum band ponpes yang pertama kali tampil di peringatan Hari Pendidikan Nasional, para santri dan santriwati tak hanya mengundang pimpinan dan para guru di ponpes itu, tetapi juga mengundang Frater Eksel dari Seminari Tinggi St Paulus Ledalero Maumere, Sikka.
Didampingi Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Walisanga, Abdul Gani, Kepala Taman Kanak-kanak Air Mata, Ibu Siti Halimah, warga ponpes mempersiapkan diri untuk pementasan teater musical Seribu Kuntum di acara peringatan dua tahun meninggalkan pendiri ponpes, Mahmud EK.
Selama ini di Ende, sekolah yang memiliki drum band hanya sekolah unggulan atau sekolah favorit, seperti SMA Katolik Syuradikara dan SMPK-SMAK Frateran Ndao. Begitu juga dengan kelompok teater, tercatat hanya sekolah-sekolah tersebut yang memilikinya.
Oleh karena itu, untuk belajar drum band dan teater, Ponpes Walisanga pun meminta bantuan kelompok lainnya. Untuk drum band, yang melatih adalah Rikin Radja, pelatih drum band senior dari kalangan umat Katolik di Ende. Begitu juga untuk berlatih teater, pelatihnya adalah pastor dari tarekat Katolik Serikat Sabda Allah, yaitu Pater Johan Wadho.
Adapun untuk pengawasan keseharian di lingkungan santri dan santriwati, termasuk kedisiplinan shalate, kegiatan belajar, ataupun kebersihan ponpes, justru dilakukan oleh Frater Eksel, yang tengah menjalankan Tahun Orientasi Pastoral atau semacam Kuliah Kerja Nyata selama 1,5 tahun di ponpes tersebut. Bahkan, di ponpes, Frater Eksel juga mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Olahraga, dan Seni Budaya.
Momentum penting
Bagi para santri, termasuk pengelola ponpes, drum band dan teater yang untuk pertama kali akan ditampilkan itu merupakah sesuatu yang luar biasa. Momentum penampilan drum band dan teater tersebut tak hanya dipandang memberikan semangat baru, tetapi juga titik kebangkitan bagi ponpes itu.
Alasannya, saat Mahmud meninggal di usia 72 tahun pada 19 Mei 2011, banyak kalangan yang menilai nasib ponpes, yang didirikan pada 10 tahun lalu tersebut, nasibnya seiring dengan kematian almarhum. Memang, sejak Mahmud tiada, kondisi ponpes terlihat lesu dan ada sejumlah keterbatasan untuk keberlangsungannya.
Misalnya, untuk membayar guru honor yang mengajar. Dalam tiga bulan, pengelola ponpes harus mengeluarkan dana rata-rata sekitar Rp 10 juta untuk honor para guru. Seringkali, saat kekurangan, pihak keluarga besar pendiri ponpes pun harus patungan untuk menutup biaya tersebut.
Padahal, di wilayah NTT, Walisanga merupakan satu-satunya ponpes yang dikenal lengkap.selain memiliki panti asuhan, madrasah tsanawiyah, juga madrasah aliyah. Saat ini, tercatat ada 107 santri dan santriwati yang tinggal sambil belajar di ponpes tersebut.
“Drum band dan teater ini bagian dari terobosan yang kami lakukan, sekaligus bukti bahwa Ponpes Walisanga tetap hidup. Dengan demikian, ponpes ini kami harapkan akan terus berkembang,” harap Siti Halimah, yang juga salah seorang anak dari pendiri ponpes.
Hubungan yang harmonis ini pun tak jarang juga menuai pandangan negatif terhadap ponpes. Namun, Halimah punya jawaban. “Hubungan baik seperti ini bukan baru dilakukan di masa saya, tetapi juga di masa Abah (Mahmud EK). Abah sejak dulu bersahabat karib dengan pada pastor di Biara Santo Yosef Ende, juga dengan para suster. Jadi, abah sudah mengajarkan toleransi dan kerukunan yang konkret dengan umat beragama lain. Penempatan pengajar dari Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero di sini juga sudah berjalan lama. Tahun ini memasuki angkatan kesebelas. Anak-anak Abah pun disekolahkan di sekolah Katolik. Itu untuk mendidik kedisiplinan,” jelasnya.
“Anak-anak ponpes sekarang juga cakap mengatur dapur, menjaga kebersihan setelah mereka secara rutin diajak oleh Frater Eksel melihat-lihat lingkungan biara pastor,” tambah Halimah.
Menurut Abdul Gani, kerja sama yang dijalin selama ini dengan rohaniwan Katolik adalah suatu hal yang Indah. “Dari contoh nyata ini, kami menekankan kepada para santri untuk tidak membeda-bedakan orang,” tuturnya.
Frater Eksel juga menambahkan, selama menjalankan kuliah kerja nyata di Walisanga, banyak mendapatkan hal baru yang bermanfaat. “Ini pengalaman baru dalam hidup saya. Terkadang saya harus tidur bersama para santri hingga membangunkan mereka untuk shalat,” ujarnya.
Keharmonisan ini dinilai Ketua Majelis Ulama Indonesia Ende Djamal Humris sebagai kebanggaan yang harus diperlihara.
Kompas, Minggu, 12 Mei 2013