Tuesday, 3 December 2013

Satu Tungku Tiga Batu

Oleh YULVIANUS HARJONO
Di pesisir Papua Barat, mulai dari Sorong, Fakfak, hingga Kalimana, istilah “satu tungku tiga batu” sangatlah popular. Itu adalah semboyan yang menjaga toleransi beragama selama berabad-abad lamanya di wilayah ujung timur Indonesia ini. Itu pula yang menjauhkan Papua Barat dari konflik beragama selama ini.
Pemandangan kota Fakfak (Dmitry Telnov - Panoramio)
Secara harfiah, tungku dimaknai sebagai satu rumah besar, yaitu kebersamaan. Sementara, tiga batu penopang di bawahnya merujuk pada tiga agama besar di Papua Barat, yaitu Katolik, Islam, dan Kristen. Ibarat tungku, satu saja batu itu hilang maka keseimbangan pun akan terganggu. Tungku tumpah, petaka pun muncul.
Maka dari itu, jangan heran jika mengunjungi Sorong (terutama di Pulau Doom), Fakfak, maupun Kaimana, toleransi beragama sangat dijunjung tinggi. Katedral, gereja, dan masjid saling berdampingan tanpa terganggu satu sama lain. Di Fakfak misalnya, dari kejauhan terlihat Katedral Santo Yoseph, Masjid Agung Jami, dan Gereja Bethel Indonesia membentuk garis segitiga imajiner. Ini persis dengan gambaran tungku tiga batu.
Kabupaten Fakfak merupakan wilayah unik yang berabad-abad lamanya mengalami akulturasi dan pengaruh budaya dari kerajaan luar seperti Ternate dan Tidore. Dari arah barat, seperti yang ditulis dalam sejumlah dokumen sejarah, Kesultanan Tidore dari Maluku masuk ke Fakfak pada abad ke-17. Karena itu, warga pesisir dan kepulauan di Fakfak mayoritas menganut Islam.
Injil pertama kali masuk Papua melalui Pulau Mansiam (Manokwari) di abad ke-18 dan terus menyebar ke pedalaman dan pegunungan. Agama ini disebarkan Geisiser dan Ottow, misionaris dari Eropa. Agama Katolik mulai masuk di Fakfak di abad yang  sama semenjak hadirnya misionaris Pastor Le Cocq. Menurut G Osstewal (1961), penduduk Papua pegunungan (menganut Kristen dan Katolik) telah turun ke pesisir (Papua Barat) sejak tiga perempat abad silam.
Bahkan, warga pesisir Papua Barat percaya bahwa masuknya agama Kristen mulai dari Manokwari turut dibantu uluran tangan pemeluk Islam. “Ottow dan Geisier masuk ke Pulau Mansiam dengan menumpang kapal yang difasilitasi Sultan Ternate yang beragama Islam,” ujar La Ode Lamu, warga Fakfak yang juga pegawai negeri sipil di Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Fakfak.
Inilah yang mengakibatkan “pertemuan agama” itu, baik di Fakfak, Kaimana, dan Pulau Doom Sorong. Bertahun-tahun lamanya, berkat perkawinan campur antarsuku, pembauran itu pun semakin melekat di antara warga. Di Fakfak, bukan hal yang aneh jika dalam satu keluarga ditemui kakak beradik yang berbeda agama.
“Di keluarga saya, delapan bersaudara, ada yang menjadi Kristen, ada yang Islam, dan Katolik. Ayah saya haji, ponakan saya bahkan ada yang jadi pastor. Dalam tradisi kami di sini, sudah terbiasa berbagi agama, asalkan ikhlas dan taat. Jadi, misalnya karena pernikahan seorang perempuan terpaksa menjadi mualaf. Maka, nanti salah satu anaknya disarankan ikut agama Kristen atau Katolik. Ini demi kebersamaan,” ujar M Patiran, warga Fakfak.
Meski beda tetap satu
Dengan demikian, di Fakfak, dalam satu atap rumah warga bisa beragam agama yang dianut. Hal ini memberikan warna dalam keseharian warga.
“Pernah suatu hari, orang Fakfak menikah di gereja di Jayapura. Pemberkatan nikah ini dihadiri saudara umat Muslim. Dari dalam gereja pun terdengar shalawat dengan musik rebana. Sungguh Indah,” ujar Sirzet Gwas-Gwas, Ketua Dewan Adat Baham Matta, penganut Kristen yang memiliki adik kandung Muslim.
Menurut Salim Mury (34), tokoh adat Baham Matta lainnya, toleransi antara-agama itu tercermin pula dalam kegiatan-kegiatan pembangunan rumah ibadah di Fakfak. “Di sini sudah lazim bahwa jika ada pembangunan masjid, maka ketua panitianya adalah orang Kristen, bahkan pendeta. Begitu pun sebaliknya. Kami sama-sama mencari dana dan saling peduli,” ungkap dia.
Mohamamad bin Salim bin Musaat (82), Imam Masjid Agung Jami, membenarkan, renovasi pembangunan masjid tertua di Fakfak itu turut melibatkan saudara mereka kaum Kristen dan Katolik. Ketika lebaran tiba, warga Kristen bersilaturahim ke rumah-rumah penduduk Muslim. Begitu pula sebaliknya saat Natal.
“Saya tidak bisa melarang jemaat masuk ke rumah orang Kristen. Yang penting, masing-masing menjalankan agamanya dengan taat,” ujar Salim yang keturunan Arab ini.
Untuk itulah, ketika terjadi kerusuhan bernuansa konflik antarpemeluk agama di Ambon dan Posos, mereka sangat prihatin. Untuk menguatkan semangat toleransi menyikapi konflik di Ambon dan Posos, pemuda-pemudi Baham Matta di Fakfak di tahun 2000-an mengucapkan ikrar persatuan.

Kompas, Sabtu, 26 Oktober 2013