Tuesday, 8 March 2016

10 Abad Jejak Gerhana di Nusantara


Oleh NAWA TUNGGAL dan M ZAID WAHYUDI
Gerhana matahari total adalah fenomena alam biasa yang mulai terjadi sejak terbentuknya tata surya 4,5 miliar tahun lalu. Namun, peristiwa itu menjadi langka karena hanya sedikit daratan di muka bumi yang bisa menyaksikan dan merasakan dampaknya. Karena itu, tak banyak dokumentasi nenek moyang kita yang merekam gerhana matahari di Nusantara.
Petirtaan Candi Belahan,  yang juga disebut Sumber Tetek di  Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan,  Jawa Timur, Rabu (2/3).
Petirtaan Candi Belahan, yang juga disebut Sumber Tetek di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (2/3). (Kompas/Nawa Tunggal)
Candi Belahan di Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, diperkirakan menyimpan catatan gerhana matahari tertua di Nusantara. Bangunan peninggalan Kerajaan Mataram kuno itu terletak di lereng timur Gunung Penanggungan pada ketinggian 336 meter di atas permukaan laut.
Bagi masyarakat Jawa kuno, Penanggungan yang juga disebut Pawitra ialah gunung suci. Sesuai studi kepurbakalaan di Gunung Penanggungan 2012-2014, ada 116 situs bersejarah di gunung itu, mulai dari candi, pertapaan, hingga petirtaan yang merupakan peninggalan peradaban Hindu-Buddha di Jawa Timur.

Catatan gerhana di Candi Belahan berupa relief, menggambarkan sosok raksasa Batara Kala hendak menelan medalion atau bulatan. Di bawah bulatan itu, ada dua sosok ditafsirkan sebagai Dewa Surya atau Dewa Matahari dan Dewi Candra atau Dewi Bulan. Bulatan itu diduga sebagai matahari atau bulan.
Berdasarkan pengamatan Kompas, Rabu (2/3), relief itu ditemukan di batu pipih, di samping kanan depan petirtaan atau pemandian di kompleks candi. Batu pipih dari batuan andesit itu menjadi prasasti yang hanya menunjukkan gambar timbul, tanpa tulisan ataupun hiasan.
Batu prasasti itu patah sehingga merusak sedikit relief di atasnya. Bagian atas prasasti dipenuhi gambar Batara Kala berambut ikal. Raksasa itu tidak punya tubuh atau kaki, tetapi memiliki dua tangan menggenggam bulatan yang berlubang di tengahnya. Bulatan itu pun digigit sang Kala. Lubang di bulatan itu diduga berfungsi sebagai saluran air petirtaan.
Namun, prasasti itu luput dari perhatian pengunjung. Mereka lebih tertarik memperhatikan dua patung perempuan bertelanjang dada, salah satunya memancarkan air dari payudaranya.
Pancuran dari payudara itu membuat warga menyebut petirtaan Candi Belahan sebagai ”Sumber Tetek”. Air yang memancur dimanfaatkan warga sebagai sumber air bersih yang tak pernah kering hingga kini.
content
Gambar di relief memunculkan dugaan para ahli, relief itu menunjukkan catatan gerhana bulan, gerhana matahari, atau keduanya. Sebab, ada Dewa Surya dan Dewi Candra di bawah medalion.
Namun, ahli arkeoastronomi yang juga kurator Museum Nasional di Jakarta, Trigangga, menilai, prasasti itu ialah rekaman dua gerhana sekaligus, gerhana bulan dan gerhana matahari.
Sengkalan
Relief Batara Kala itu sebagai sengkalan memet atau cara menyembunyikan angka berbentuk gambar, relief, patung, atau ornamen. Bentuk relief Kala menggigit Bulan itu ditafsirkan sebagai kalimat Kala anahut Candra (Kala menggigit Bulan) atau bisa juga Candra sinahut Kala (Bulan digigit Kala).
Kata-kata pada kalimat Candra Sinahut Kala itu lalu diubah menjadi kode angka. Candra merujuk angka 1, sinahut angka 3, dan Kala menunjuk angka 9. Karena aturan sengkalan dibaca terbalik dari belakang, relief itu merujuk angka tahun 931 Saka, bertepatan dengan tahun 1009 Masehi.
Itu berarti, gerhana bulan yang direkam di prasasti Candi Belahan merujuk pada gerhana tahun 1009 Masehi. ”Dari penghitungan, gerhana bulan yang melintasi Jawa tahun itu terjadi pada 7 Oktober,” kata Trigangga.
Sepanjang tahun 1009, ada 6 kali gerhana, terdiri dari 4 kali gerhana matahari dan 2 gerhana bulan. Keempat gerhana matahari itu adalah gerhana matahari sebagian pada 29 Maret, 27 April, 21 September, dan 21 Oktober.
0fd62ec9ebf541d88b7d0a213fcbb749.jpg
Sebuah prasasti ada di petirtaan Candi Belahan, yang juga disebut Sumber Tetek di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (2/3). Prasasti itu ditafsirkan memuat sengkalan memet (cara menyembunyikan angka berbentuk gambar, relief, patung, atau ornamen) untuk mendokumentasikan peristiwa gerhana bulan pada 7 Oktober 1009 di Jawa sekaligus memuat pengetahuan gerhana matahari melalui relief sosok Batara Kala yang akan menelan bulan serta sosok Dewa Surya dan Dewi Candra. (Kompas/Nawa Tunggal)
Dua gerhana bulan yang terjadi ialah gerhana total pada 12 April dan 7 Oktober. Gerhana bulan 7 Oktober bisa diamati di Jawa saat bulan terbenam atau bersamaan terbitnya matahari. Gerhana dimulai pukul 04.08 pagi, puncaknya pukul 06.00, dan berakhir pukul 08.45 atau saat bulan tak tampak lagi.
Gerhana matahari
Menurut Trigangga, gambar timbul Dewa Surya di prasasti Candi Belahan kemungkinan penanda, selain ada gerhana bulan, saat itu juga ada gerhana matahari.
Menurut dosen astronomi Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, gerhana matahari dan bulan tak mungkin bersamaan. ”Gerhana bulan dan gerhana matahari bisa terjadi berselang 14-15 hari,” katanya.
Namun, ada pertanyaan, apakah gerhana matahari pada prasasti itu merujuk pada peristiwa gerhana tertentu atau hanya pengetahuan warga saat itu bahwa ada gerhana matahari.
Jika merujuk pada gerhana tertentu, waktu yang memungkinkan dengan gerhana bulan 7 Oktober ialah gerhana matahari 21 September di Antartika atau 21 Oktober yang terjadi di Kanada dan Alaska. Dua gerhana matahari sebagian yang sulit diamati itu tak terjadi di Jawa.
Karena itu, Trigangga menilai, gerhana matahari yang terekam di prasasti Candi Belahan itu hanya menunjukkan masyarakat Jawa masa itu mengetahui ada fenomena gerhana matahari, tak hanya gerhana bulan. ”Prasasti itu tak merujuk atau merekam peristiwa gerhana matahari tertentu, hanya penanda ada gerhana matahari,” katanya.

Karena itu, prasasti Candi Belahan dianggap sebagai catatan gerhana matahari tertua di Nusantara. Adapun catatan tertua gerhana bulan ada lebih dulu, seperti pada prasasti Sucen yang ditemukan di Temanggung, Jawa Tengah. Gerhana bulan di prasasti itu terjadi pada Selasa, 20 Maret 843 selama 5 jam 11 menit, terjadi selepas tengah malam.
Langka
Sulitnya mencari rekaman gerhana matahari di Nusantara bisa dimaklumi. Katalog gerhana matahari selama 5 milenium milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan, pada 1-3000, hanya ada 9 kali gerhana matahari total dan 11 kali gerhana matahari cincin di Jawa (titik acuan Yogyakarta).
Bandingkan dengan frekuensi gerhana bulan. Dalam 300 tahun, pada 800-1100, katalog gerhana bulan 5 milenium NASA menyebut ada 160 gerhana bulan total disaksikan di Jawa, baik yang bisa disaksikan semua prosesnya maupun hanya sebagian.
Saat gerhana bulan total, permukaan bumi yang mengalami malam turut menyaksikannya. Sementara gerhana matahari total hanya tampak di daerah lintasan jalur umbra matahari.
Jalur umbra matahari melintasi permukaan bumi selebar 90-160 kilometer dan sepanjang hingga 16.000 kilometer. Jalur itu melintasi lautan sehingga kian kecil peluang bisa diamati.
Meski jarang, pencatatan gerhana matahari dan bulan di sejumlah prasasti menunjukkan, ada budaya merekam dan mencatat peristiwa alam sejak dulu. Namun, pemaknaan fenomena alam secara rasional butuh waktu panjang. Bahkan, di zaman digital, upaya mengedepankan rasionalitas menjadi pekerjaan rumah besar bangsa Indonesia.

Kompas, Senin, 7 Maret 2016