Sunday, 13 March 2016

Garis Akhir Melawan Virus Polio

Oleh EVY RACHMAWATI
Kemenangan dunia melawan virus polio di depan mata. Setelah berabad-abad virus polio jadi ancaman serius di banyak negara, eradikasi atau bebas dari polio yang dicanangkan Organisasi Kesehatan Dunia mendekati garis akhir tiga tahun ke depan.
Bocah mendapatkan imunisasi polio di Posyandu Balai RW XI, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Oktober 2011. Imunisasi masih menjadi cara terbaik mencegah kasus polio pada anak. Di tingkat global, kesadaran melawan virus polio terus terbangun dengan gerakan bersama. Di Indonesia, pemerintah berupaya agar kasus polio tidak lagi dijumpai alias nol kasus.
Bocah mendapatkan imunisasi polio di Posyandu Balai RW XI, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Oktober 2011. Imunisasi masih menjadi cara terbaik mencegah kasus polio pada anak. Di tingkat global, kesadaran melawan virus polio terus terbangun dengan gerakan bersama. Di Indonesia, pemerintah berupaya agar kasus polio tidak lagi dijumpai alias nol kasus. (Kompas/Bahana Patria Gupta)
Polio pertama diidentifikasi tahun 1789 saat dokter asal Inggris, Michael Underwood, menyebut gambaran klinis yang dikenal sebagai polio dengan menyatakan sebagai "a debility of the lower extremities". Lalu, dokter Jakob Heine (1840) dan Karl Oskar (1890) mencatat sejumlah gejala polio yang banyak menyerang anak-anak.
Pada paruh pertama abad ke-20, mengutip situs poliotoday.org, polio penyakit menakutkan di negara industri menyebabkan ribuan anak lumpuh setiap tahun. Wabah polio menjadi pandemi di Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru. Di AS, pada 1952, epidemi polio terburuk ditandai hampir 58.000 kasus, 3.145 pasien meninggal dan 21.269 pasien cacat.
Penyebaran virus polio itu bisa dieliminasi setelah vaksin polio pertama yang aman dan efektif sukses dikembangkan Dr Jonas Salk tahun 1955. Sebelum vaksin tersedia luas, rata-rata kasus polio di AS lebih dari 45.000 pasien. Tahun 1962, angka itu turun menjadi 910 kasus.
Namun, penularan virus polio masih menjadi masalah kesehatan utama di negara berkembang. Untuk itu, mengutip situs polioeradication.org, pada 1970-an, imunisasi rutin dikenalkan di dunia sebagai bagian program imunisasi nasional.
Eradikasi
Infeksi virus poliomyelitis bisa menyebabkan lumpuh layuh. Virus polio ada di tenggorokan dan usus manusia sehingga bisa menular melalui air liur dan tinja. Apabila terkena matahari, virus mati dalam hitungan hari.
Inisiatif eradikasi polio global diluncurkan pada sidang pleno anggota WHO (World Health Assembly/WHA) 1988. Saat itu, polio menyebabkan kelumpuhan 1.000 anak per hari. Sejak ada inisiatif global, 2,5 miliar anak diimunisasi polio hasil kerja sama 200 negara dan 20 juta relawan, didukung dana global lebih dari 9 miliar dollar AS.
Sejauh ini, inisiatif eradikasi atau bebas polio global menekan angka polio lebih dari 99 persen. Jumlah negara endemik polio turun drastis dari 125 negara jadi tiga negara. Bahkan, sejak Agustus 2014, virus polio liar hanya terdeteksi di Afganistan dan Pakistan, sedangkan Nigeria negara endemik polio ketiga tak ada kasus sejak Juli 2014.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyatakan, virus polio liar tak ditemukan lagi sejak 1995. Untuk meyakinkan itu, digelar Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada 1995, 1996, dan 1997. Bahkan, di sebagian wilayah, PIN diulang tahun 2000, 2001, dan sekali lagi 2002.
Namun, pada 2005, polio kembali muncul di Tanah Air. Penularan virus terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Cidahu dan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, akibat penurunan cakupan imunisasi polio. Saat itu, 16 anak positif terinfeksi virus polio liar, dan ditemukan 13 kasus lumpuh layuh mendadak (acute flaccid paralysis/AFP) yang belum tentu akibat polio.
Kemunculan kasus polio itu membuat pemerintah melaksanakan imunisasi polio nasional dalam beberapa putaran. Meski kini tak lagi ditemukan kasus penularan virus itu, tak berarti Indonesia bebas polio mengingat belum optimalnya pemantauan penyakit di daerah.
Penarikan vaksin
Untuk mencapai target bebas polio pada 2018 di semua negara di dunia, termasuk Indonesia, upaya dilakukan. Mengingat virus itu menular lewat kotoran manusia, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan atau memperbaiki sanitasi.
Imunisasi pun jadi strategi utama eradikasi polio. Dalam WHA ke-68 yang dihadiri delegasi dari 194 negara anggota WHO di Geneva, Swiss, Jumat (22/5), disepakati kebijakan WHO terkait penarikan vaksin polio oral (OPV) diadopsi semua negara secara bertahap. Dalam strategi global eradikasi polio, pada akhir 2015 OPV ditarik dan diganti vaksin polio suntik mengandung virus tak aktif.
Selain itu, tahun 2016, negara-negara anggota WHO berencana menarik komponen serotipe 2 dalam vaksin polio trivalen (komponennya terdiri dari tiga tipe: 1, 2, dan 3) yang dipakai dalam sistem imunisasi rutin secara global. Vaksin itu akan digantikan vaksin polio bivalen (tipe 1 dan 3). "Inisiatif ini tak boleh gagal," kata Direktur Jenderal WHO Margaret Chan.
Langkah itu untuk mengeliminasi risiko vaksin terkait paralytic polio terkait vaksin (VAPP) dan potensi munculnya kembali virus polio karena OPV memakai virus aktif yang dilemahkan. Data WHO, 145 negara memakai vaksin polio oral trivalen pada anak dalam program imunisasi rutin. Kini, mayoritas wilayah WHO bebas polio, termasuk di kawasan endemik polio.
Butuh persiapan
Namun, target dunia bebas polio hanya bisa dicapai melalui solidaritas global. Pelaksanaan resolusi strategi eradikasi polio tahap akhir 2013-2018 butuh jaminan ketersediaan vaksin sesuai ketentuan WHO dan kesiapan infrastruktur kesehatan.
Pada pertemuan itu, Indonesia satu-satunya negara yang mengajukan amandemen resolusi itu agar waktu penarikan vaksin polio oral disesuaikan kesiapan tiap negara. "Indonesia setuju resolusi end game strategy polio 2013-2018, tapi tak sepakat jadwal implementasinya," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes M Subuh, Jumat (4/9).
Indonesia minta pengecualian terkait jadwal penarikan vaksin polio oral. Alasannya, kondisi geografis, waktu sosialisasi, dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan. Jika siap, program dilakukan sesuai resolusi.
Perubahan cara mengimunisasi juga jadi alasan. Selama ini vaksin polio oral diberikan dengan meneteskan ke mulut anak di bawah lima tahun. Adapun, vaksin polio dengan komponen virus tak aktif atau mati diberikan dengan cara disuntikkan.
Selain itu, kesiapan industri vaksin dalam negeri dinantikan. Selama ini, Biofarma memproduksi OPV untuk kebutuhan dalam negeri dan mengekspornya. Butuh waktu mengalihkan produksi dari OPV trivalen jadi vaksin polio bivalen. "Kami ingin tetap mandiri dalam pengadaan vaksin polio," kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek.
Tantangan itu mendesak diatasi demi dunia tanpa polio. Itulah dunia tempat anak terbebas dari ancaman kelumpuhan. Itu juga menandai babak akhir pertempuran panjang melawan polio.

Kompas, Jumat, 4 Maret 2016