Sunday, 13 March 2016

Kolesterol Baik yang Bisa Menjadi Jahat

Selama ini, ada pemahaman umum, kolesterol terdiri dari kolesterol jahat, disebut LDL (lipoprotein densitas rendah), dan kolesterol baik, HDL (lipoprotein densitas tinggi). Jadi, HDL menjaga jumlah LDL rendah. Ternyata, punya banyak HDL tak menekan risiko penyakit jantung. Bahkan, tingginya kadar kolesterol baik bisa menjadi jahat bagi tubuh.
_88689196_thinkstockphotos-494441862.jpg
Alpukat, bersama dengan kacang-kacangan, minyak zaitun, dan ikan, dapat meningkatkan kadar kolesterol baik.
Seorang perempuan berusia 67 tahun punya HDL amat tinggi, tapi arterinya dipenuhi plak. Kondisi paradoks itu memotivasi tim peneliti untuk membuktikan, tingginya HDL bukan petunjuk kesehatan jantung, melainkan tanda sistem kolesterol tak bisa mengalirkan partikel lemak dari sirkulasi darah.
Sepuluh tahun terakhir, partikel HDL membingungkan peneliti. Biasanya, sekumpulan protein dan lemak itu menyalurkan kolesterol dari seluruh tubuh ke hati yang mengeliminasinya dari tubuh. Jadi, punya lebih banyak HDL seharusnya berbanding lurus dengan kesehatan tubuh. Namun, obat-obatan penambah kolesterol HDL gagal di uji klinis, dan gen yang meningkatkan HDL tak terkait penurunan risiko sakit jantung.
"Mencoba meningkatkan HDL tak begitu bermanfaat," ucap Prof Adam Butterworth, peneliti dari Universitas Cambridge, Inggris. Itu lantaran ada upaya membuat obat penambah HDL, dengan harapan obat itu berefek sama seperti statin yang menurunkan kadar LDL.
Butterworth dan koleganya membuat riset yang dipublikasikan di jurnal Science, Jumat (11/3). Menurut hasil riset, orang dengan HDL tinggi juga berisiko tinggi sakit jantung.
Mutasi langka
Kesimpulan itu didapat Butterworth dan koleganya setelah mempelajari mutasi langka yang membuat orang punya banyak kolesterol baik. Mutasi gen SCARB1, terjadi pada 1 dari 1.700 orang. Dari riset, risiko sakit jantung naik 80 persen pada mereka dengan mutasi itu.
Eksperimen lanjutan menunjukkan, mutasi menghambat HDL membuang lemak di hati. Menurut Butterworth, hasil itu signifikan karena HDL selama ini dikaitkan lebih rendahnya risiko sakit jantung.
Ia dan timnya mulai riset dengan mengurutkan gen 852 orang dengan kadar HDL amat tinggi dan lebih dari 1.000 orang sebagai kontrol. Mereka menemukan, perempuan usia 67 tahun tak memiliki fungsi menyalin gen SCARB1 dan punya lebih banyak plak di arteri dibandingkan perempuan seusianya.
Padahal, HDL perempuan itu 152 miligram per desiliter (mg/dl), lebih tinggi dari rata- rata perempuan seusianya, di satu kelompok, yakni 62 mg/dl. Ada 18 orang lain punya satu salinan SCARB1 yang berfungsi (biasanya ada dua salinan) dan kebanyakan punya HDL tinggi.
Daniel Rader, ahli genetika dan lipidologi Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, melihat hasil riset koleganya yang mengumpulkan asam deoksiribonukleat (DNA) ratusan dari ribuan orang yang diteliti dalam studi lipid dan penyakit jantung. Ada 284 orang di antaranya dengan satu salinan SCARB1 berfungsi dan kebanyakan punya HDL lebih tinggi dibandingkan rata-rata, 80 persennya berisiko penyakit arteri koroner lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, mirip kenaikan risiko akibat diabetes dan hipertensi.
Menurut Tim Chico, konsultan kardiologi Universitas Sheffield, Inggris, studi itu menunjukkan risiko penyakit tak sesederhana membedakan kolesterol baik dan jahat.
(SCIENCE/BBC/JOG)

Kompas, Minggu, 13 Maret 2016